Prompt #11: Mengejar Mas Taufiq

“Mas Taufiq.” Seseorang yang berdiri di belakang meja kasir itu mendongak. Raut terkejut terlihat jelas di wajahnya.

Entah sudah kuhabiskan berapa waktu mencarinya. Semenjak dia lulus dari SMA aku kehilangan jejaknya. Kutanyakan pada orang-orang yang mengenalnya, satu dua orang mengaku pernah bertemu Mas Taufiq di stasiun Gambir. Aku mengira mungkin mereka bertemu selintasan saja. Karena sama-sama ingin pergi dan pulang atau menjemput, maka aku tak pernah memburunya hingga stasiun Gambir.

Sebuah nota yang dijadikan tantangan di grup monday flashfiction seolah menuntunku untuk benar-benar melacak keberadaan Mas Taufiq ke stasiun Gambir karena nama Taufiq yang tertulis di nota itu. Berharap itu orang yang sama dengan yang kucari selama ini.

Continue reading

Prompt #11: Mimpi

“Ini untukmu.” Sebuah buku berjudul ‘Recipes for a Perfect Marriage’ itu kini berpindah tangan.

“Wow. Makasih ya. Dari mana kamu tahu kalau aku lagi butuh buku semacam ini.” Aku terpukau menemukan mata Arlis yang berbinar. Dia menimang buku itu.

‘Karena aku ingin melamarmu, Lis.’ Jawaban itu hanya ada di pikiranku. Aku masih butuh waktu buat mengatakannya. Walau aku tau waktuku tak banyak. Setelah ini kereta akan membawaku ke Surabaya. Bersediakah Arlis meninggalkan keluarga dan pekerjaannya mengikutiku ke Surabaya kalau kami menikah. Pertanyaan itu harus kulontarkan hari ini. Aku melirik Arlis, dia menyeruput jusnya.

“Kali aja kamu mau menikah, Lis.” Jawabku. Arlis tertawa. Continue reading

[Fiksi] Undangan

Gambar

“Daniya menikah bulan depan,” nada kecewa bisa kutangkap dengan jelas menyertai kalimat yang diucapkan Andra.

“Aku memintanya untuk jadi istriku sejak dia masih kuliah, Ta. Saat kita baru menjadi sarjana,” kali ini ada nada emosi di sana. Aku tau persis bagaimana Andra sebegitu mengejar gadis manis bernama Daniya, adik tingkat kami saat kuliah.

“Waktu itu Daniya bilang masih mau menyelesaikan kuliahnya. Aku menunggu. Saat dia selesai kuliah S1, dia bilang ingin konsen melanjutkan S2. Saat S2 selesai dia bilang ingin bekerja dulu untuk biaya pendidikan adik-adiknya. Aku juga masih menunggu. Dan sekarang? Dia menikah Ta. Dengan pria lain!” Aku bisa melihat jelas ada geram dalam suara Andra. Continue reading

Kelas Menulis #5plus1 bersama Tasaro GK

    Februari kemarin saya ikut beberapa kelas online, dari yang gratisan sampai yang berbayar. Beberapa malam dalam seminggu terisi dengan jadwal kelas online ini, seperti orang sekolahan saja. Eh, emang saya sedang sekolah kok. Sekolah di Universitas Kehidupan.

    Mendapatkan ilmu baru tentu saja adalah bagian yang saya tuai dari mengikuti kelas online tersebut. Berkenalan dengan teman-teman baru juga salah satu hal yang saya hasilkan. Tiba-tiba saja saya di add beberapa teman sekelas atau saya yang menambahkan mereka duluan.

Continue reading

Prompt #5: Dilema

    Roni menghempaskan lembaran itu ke lantai. Marni terdiam melihat Roni yang tampak gelisah.

    “Tidak, jangan sekarang. Kasihan Ririn jika dia tahu tentang ini semua.” Ucap Roni pada dirinya sendiri.

    “Mungkin rencananya harus ditunda Ron. Kamu tau sendiri tanggal itu banyak banget resepsi. Tanggal cantik Ron,” Marni memunguti lembaran kertas di lantai berisi daftar tempat resepsi yang semuanya sudah dipesan orang.

    “Tidak Ni. Tidak boleh ada penundaan. Aku akan tetap menikahi Ririn di tanggal itu meski hanya dapat tempat di surau kecil atau di tengah pasar. Ririn sangat ingin menikah di tanggal itu.” Marni melihat dengan jelas ada nyala cinta yang sebegitu besar di mata Roni. Ah, Roni yang bodoh. Ada perasaan tak tega menyusup di hati Marni. Continue reading

Prompt #4: Boneka untuk Risa

“Ibu! Lihat! Aku bawa boneka untuk Risa!”

Ibu tersenyum kemudian berkata, “Lucu sekali. Mudah-mudahan Risa suka. Ibu antar ke kamarnya sekarang?”

Bayu mengangguk senang.

Aku mengintip adegan itu dari balik pintu kamarku. Langkah kaki ibu semakin mendekat, aku mengambil posisi ke samping pintu.

“Sa,” Ibu membuka pintu.

“Iya Bu. Risa sudah tau, boneka dari Bayu kan?” Ibu terkekeh, menyerahkan boneka dengan baju bernuansa pink ke arahku.

“Bu, Bayu itu mikirnya Risa umur berapa sih?” aku menimang boneka di tanganku. Bukan sekali dua Bayu memberikanku hadiah atau malah mengajakku bermain. Dan dia memperlakukanku seperti teman sebaya. Padahal aku lebih tua lima tahun darinya.

Continue reading

PromptChallenge Quiz : Tentang Rim

“Rim, apa kabar?” Net berjongkok memegang sebuah benda yang terasa dingin di tangannya. Aroma tanah basah selepas hujan mencandai indera penciumannya.

“Aku baik-baik saja.” Net berkata lagi. Matanya mulai mengabur, ada desakan di matanya yang siap berloncatan keluar. Ingatan Net melayang ke peristiwa setahun silam.

“Mbah, bantu Net mengurus jenazah bayi Rim ya.” Net berkata pada Mbah Mis dengan sendu.

Continue reading

Prompt #3: Telat!

”Gawat!”

Aku melirik jam di tangan, sudah lewat tiga menit! Kupercepat lariku, walaupun tahu bahwa itu hanyalah usaha sia-sia. Aku sudah telat!

”Tidak apa-apa,” kataku menenangkan hati.
Aku mulai memasuki ruangan dan mengetuk pintu. Seketika semua mata di dalam ruangan ini melihat ke arahku.

Aku melempar senyum ke sekeliling ruangan, mataku kemudian terpaku pada satu sosok di tengah ruangan yang memandangku dengan tatap penuh kelegaan, menghindarkan diri menatap satu sosok lain yang berada tepat di sampingnya. Aku tersenyum dan mengangguk ke arahnya, melemparkan permohonan maaf lewat tatapan mataku. Ingatanku melayang ke beberapa hari silam.
Continue reading

Prompt #2 : Tas Branded

Sri menimang-nimang tas branded itu. Bentuknya cantik sekali. Terbuat dari kulit sintetis yang diemboss berwarna putih dengan aksen kulit sintetis bertekstur kulit ular. Berkali-kali dia menimang lalu menaruhnya kembali, lalu kembali mengambil dan menimangnya lagi. Pikirannya kacau.

“Kenapa Sri?” Bang Parjo yang berprofesi sebagai sopir di rumah besar ini sudah muncul di depannya.

“Ada yang buang tas nih Bang,” Sri menunjukkan tas yang memang ditemukannya di keranjang sampah. Sri tau siapa pemilik tas itu. Wanita cantik berambut panjang yang kerap mampir di rumah majikannya ini dan wajahnya juga sering Sri lihat di layar kaca.

“Ambil aja Sri. Sudah bosan kali dia ama tas itu,” Sri menimbang sejenak kemudian memutuskan menuruti apa kata Bang Parjo. Dibawanya tas itu ke kamar, dengan senyum terkulum Sri menaruh tas itu hati-hati ke dalam lemarinya kemudian merebahkan diri. Pekerjaannya sudah selesai walau masih ada kegiatan di ruang utama rumah ini.

***

“Tok.. Tok..” Suara ketukan keras di pintu membuat Sri terjaga.

“Segera berkumpul di satu ruangan!” Pria berbadan tegap itu memerintahkan begitu Sri membuka pintu kamar. Sri menurut, mendapati majikan dan teman-temannya terduduk di lantai rumah dengan wajah ditekuk.

“Lapor komandan! Ditemukan dua linting ganja di tas putih di kamar belakang.” Pria berbadan tegap yang tadi mengetuk kamar Sri mengangkat tas putih cantik yang sudah berada dalam kantong plastik bening.

***

Total 214 kata

Ikutan tantangan Monday FlashFiction, Prompt Challange