[Prompt 16] Jendela Rumah Kita

“Aku merindukan tempat itu.” Entah berapa kali aku mengatakan itu padanya. Setiap kukatakan itu, akan kutatap matanya begitu lekat.

“Tempat aku kecil bertumbuh. Aku paling suka berdiri menempel di jendela. Lewat jendela itu kulihat bangunan dengan tembok berwarna putih berjejar dan ada pohon kurma dengan buahnya yang ranum pada saat tertentu.” Dia hanya tersenyum setiap kali cerita itu keluar dari mulutku. Senyum yang membuat jantungku bergemuruh, ingin merengkuh tubuhnya tapi aku tau aku belum bisa.

“Aku merindu menikmati buah-buah yang tak bisa kunikmati di sini. Rhutob, kurma yang dimakan Maryam, Ibunda Nabi Isa ketika mengandung Nabi Isa. Buah zaitun dan juga buah tiin yang disebut dalam Al-Qur’an. Apa kau pernah merasakannya?” Pertanyaan itu dijawabnya dengan gelengan kepala dengan bibir yang tetap tersungging sebuah senyuman. Continue reading

Senandung Kisah Lalu

Namanya Bhirawa. Seorang pemuda yang kukenal pada masa putih abu. Bhirawa berasal dari Surabaya, sebuah kota besar di pulau seberang. “Aku sudah terbiasa pindah-pindah tempat, mengikuti ayahku, tapi satu ketika aku ingin menetap di tanah kelahiranku sendiri, Surabaya,” dia berkata begitu kepadaku, pada satu ketika.

Rawa-rawa, aku memelesetkan namanya. Walau sebenarnya aku lebih suka memanggilnya, Bhira. Tapi Bhira hanya kusebut dalam hati, di depannya aku tetap menggodanya dengan memanggilnya Rawa-rawa. Dia tak marah, hanya tersenyum lebar. Dia bilang namanya yang unik akan membuatku tak bisa melupakannya. Ucapannya benar. Saat dia kembali mengikuti orangtuanya pindah tugas, aku kehilangannya. Continue reading

Prompt #11: Mengejar Mas Taufiq

“Mas Taufiq.” Seseorang yang berdiri di belakang meja kasir itu mendongak. Raut terkejut terlihat jelas di wajahnya.

Entah sudah kuhabiskan berapa waktu mencarinya. Semenjak dia lulus dari SMA aku kehilangan jejaknya. Kutanyakan pada orang-orang yang mengenalnya, satu dua orang mengaku pernah bertemu Mas Taufiq di stasiun Gambir. Aku mengira mungkin mereka bertemu selintasan saja. Karena sama-sama ingin pergi dan pulang atau menjemput, maka aku tak pernah memburunya hingga stasiun Gambir.

Sebuah nota yang dijadikan tantangan di grup monday flashfiction seolah menuntunku untuk benar-benar melacak keberadaan Mas Taufiq ke stasiun Gambir karena nama Taufiq yang tertulis di nota itu. Berharap itu orang yang sama dengan yang kucari selama ini.

Continue reading

Prompt #11: Mimpi

“Ini untukmu.” Sebuah buku berjudul ‘Recipes for a Perfect Marriage’ itu kini berpindah tangan.

“Wow. Makasih ya. Dari mana kamu tahu kalau aku lagi butuh buku semacam ini.” Aku terpukau menemukan mata Arlis yang berbinar. Dia menimang buku itu.

‘Karena aku ingin melamarmu, Lis.’ Jawaban itu hanya ada di pikiranku. Aku masih butuh waktu buat mengatakannya. Walau aku tau waktuku tak banyak. Setelah ini kereta akan membawaku ke Surabaya. Bersediakah Arlis meninggalkan keluarga dan pekerjaannya mengikutiku ke Surabaya kalau kami menikah. Pertanyaan itu harus kulontarkan hari ini. Aku melirik Arlis, dia menyeruput jusnya.

“Kali aja kamu mau menikah, Lis.” Jawabku. Arlis tertawa. Continue reading

[Fiksi] Undangan

Gambar

“Daniya menikah bulan depan,” nada kecewa bisa kutangkap dengan jelas menyertai kalimat yang diucapkan Andra.

“Aku memintanya untuk jadi istriku sejak dia masih kuliah, Ta. Saat kita baru menjadi sarjana,” kali ini ada nada emosi di sana. Aku tau persis bagaimana Andra sebegitu mengejar gadis manis bernama Daniya, adik tingkat kami saat kuliah.

“Waktu itu Daniya bilang masih mau menyelesaikan kuliahnya. Aku menunggu. Saat dia selesai kuliah S1, dia bilang ingin konsen melanjutkan S2. Saat S2 selesai dia bilang ingin bekerja dulu untuk biaya pendidikan adik-adiknya. Aku juga masih menunggu. Dan sekarang? Dia menikah Ta. Dengan pria lain!” Aku bisa melihat jelas ada geram dalam suara Andra. Continue reading

Kelas Menulis #5plus1 bersama Tasaro GK

    Februari kemarin saya ikut beberapa kelas online, dari yang gratisan sampai yang berbayar. Beberapa malam dalam seminggu terisi dengan jadwal kelas online ini, seperti orang sekolahan saja. Eh, emang saya sedang sekolah kok. Sekolah di Universitas Kehidupan.

    Mendapatkan ilmu baru tentu saja adalah bagian yang saya tuai dari mengikuti kelas online tersebut. Berkenalan dengan teman-teman baru juga salah satu hal yang saya hasilkan. Tiba-tiba saja saya di add beberapa teman sekelas atau saya yang menambahkan mereka duluan.

Continue reading