Cara Mengirim Cerpen ke Majalah Bobo (bonus : cerpen saya ^_^)

Alhamdulillah cerpen saya berjudul Kacamata Pak Rusdi dimuat di majalah Bobo minggu kemarin. Rasanya senaaaang sekali. Hihihi… Selalu bahagia kalau ada karya kita dimuat di media, apalagi kalau pertama kali. Wuiiih…. Senaaaang. Rasa senang itu semoga selalu menggerakkan saya buat terus menulis dan mengirimkan karya.

wpid-img_20141111_062257.jpg

Beberapa teman bertanya tentang bagaimana mengirim cerpen ke majalah Bobo. Infonya banyak bertebaran, tinggal googling aja. Berikut saya lampirkan cara mengirim cerpen ke majalah Bobo yang saya ambil dari fanpage majalah bobo di link ini. Continue reading

Mengirim Resensi ke Kompas Anak

Alhamdulillah hari ini resensi saya dimuat lagi di Kompas Anak. Nggak nyangka banget kalau dimuat secepat ini. Karena resensi pertama kemarin masa nunggunya 2 bulan, dan yang kedua ini cuma 1 bulan. Saya kirim 3 April 2014 dan dimuat hari ini 4 Mei 2014. Saya dapat kabar dari Mbak Irma pagi tadi, karena buku yang saya resensi adalah buku karya Mbak Irma. Alhamdulillah… Moga buku Mbak Irma laris manis dan berkah. Aamiin… 🙂

Di foto yang saya share di FB ada teman yang minta saya menceritakan bagaimana tata cara mengirim resensi ke Kompas Anak. Dan tadi sempat saya share di satu grup menulis yang saya ikuti. Saya share di sini lagi deh siapa tahu bermanfaat buat yang mau ngirim resensi ke Kompas Anak juga. Kemarin itu ada yang sempat nanya juga di postingan saya tentang mengirim resensi ke Korjak.

Gambar Continue reading

[Prompt 42] Sekarang dan Dulu

“Bunga ini cantik sekali.” Aku mendongak mendengar suara itu. Suara yang sama dan kalimat yang sama pernah kudengar sekian tahun yang lalu. Apakah pemilik suara itu juga orang yang sama? Aku mengerjapkan mataku untuk memastikan. Dan saat wajahnya utuh memenuhi penglihatanku, jantungku berdetak lebih kencang. Dia ada di sini, aku bergumam dalam hati.

“Kamu yang merawatnya?” Dia bertanya, melirik ke arahku, kemudian pandangannya kembali beralih ke bunga mawar putih. Aku mengangguk, namun lantas menjawab ya ketika kusadari dia tidak melihatku.

“Kamu yang membikinnya?” Pertanyaan itu pernah dia lontarkan sekian tahun yang lalu. Aku memperhatikan sosoknya, masih lebih tinggi dariku, masih tampan dan masih memesona di mataku dan tentu saja pakaian putih abu-abu itu tidak lagi melekat di tubuhnya seperti sekian tahun yang lalu. Sekian tahun yang lalu saat dia mendekatiku di halaman sekolah, memuji bunga kertas yang kubuat, bertanya apa aku yang membuatnya dan kemudian memintanya dariku.
Continue reading

Resensi Kedua di Koran Jakarta

Alhamdulillah, hari senin kemarin resensi saya dimuat lagi di Koran Jakarta. Meskipun bukan yang pertama kali tapi rasanya tetap senang banget. Ya iya lah ingat honornya :p

Dan perjuangan buat tembus yang kedua ini lebih sulit daripada yang pertama. Yang pertama (resensinya di sini), saya mengirimkannya hari senin dan sudah dimuat hari rabu. Tak perlu lama menunggu. Sedangkan yang kedua ini, saya kirim kamis kemudian dimuat hari senin. Lah? Enggak lama juga kan, Yan?

Eits, tunggu dulu. Cerita belum selesai. Resensi yang dimuat itu adalah resensi ke 4 yang saya kirim. Akhir januari saya mengirimkan satu resensi. Dapat balasan surel kalau resensi seharusnya minimal 4000 karakter. Setelah saya cek ternyata resensi saya memang kurang dari 4000 karakter. Saya pun merevisinya dan kirim ulang, ternyata nggak dimuat juga 🙂 Continue reading

[Short Story] Ziza dan Rey

“Ziza.” Tak perlu berbalik Ziza sudah tau suara siapa yang memanggilnya. Ziza sudah hafal betul suaranya. Sekilas Ziza melihat bayangannya sendiri yang memantul dari kaca mobil di sampingnya. Dress pink polos dengan cardigan putih membalut tubuhnya. Shawl berwarna pink dengan motif bunga-bunga kecil menutupi kepala Ziza kecuali wajah dan shawl itu diulurkannya hingga menutup dada.

“Baru nyampe?” Lelaki yang memanggilnya tadi sudah berada tepat di depannya. Ziza menggangguk.

“Yuk.” Rey, nama lelaki itu berjalan mendahuluinya. Ziza ikut melangkah, menyejari langkah-langkah Rey.

“Ziza … Rey … ” Mereka berdua sontak berpaling ke arah suara. Ada Arini didampingi suaminya yang sedang menggendong anaknya. Continue reading

[Cerfet] Pelangi Rindu 5

 

“Raga.” Suara itu membuatku berbalik. Sesosok tubuh dengan kemeja panjang warna hitam yang lengannya digulung hingga siku mendekatiku. Dia melangkah dari sebuah mobil yang pintu depan sebelah kanannya masih terbuka.

“Apa yang kau lakukan di atas jembatan ini?” Gandhi, otakku menyebut namanya yang sudah berada di depanku. Gandhi menjabat tanganku erat. Aku berbalik setelah Ghandi melepaskan tanganku. Pandanganku mengarah ke kiri dan ke kanan, mencari-cari kamu yang tak ada lagi di dekatku. “Kalya.” Aku berbisik lirih sekali. “Kamu di mana?”

“Aku turut berduka atas kepergian Ibu kamu, Ga. Sorry, kemarin aku nggak datang ke pemakaman. Lagi di luar kota. Tapi, teman-teman datang, kan?” Aku menjawab pertanyaan Ghandi dengan anggukan. Pandanganku kusapukan ke segala penjuru, mencari sosokmu. Jangan pergi lagi. Aku bergumam sendiri. Continue reading

Kelas Menulis Fiksi Anak Bersama Tasaro GK

Seperti yang pernah saya ceritakan di sini setiap malam minggu ada kelas menulis gratis di facebook yang diasuh oleh Tasaro GK, penulis Galaksi Kinanthi itu. Tapi sejak ramadhan kemarin kelasnya libur, entah sejak kapan mulai lagi. Padahal udah kangen banget pengin belajar lagi di sana.

Kalau dulu malam minggu identik dengan belajar online, sekarang terasa ada yang kurang. Jadi pas malam minggu kemarin jalan sama suami saya sempat mikir, biasanya saya kok rada berat ya kalau keluar malam minggu. Kenapa ya? Beberapa detik kemudian baru nyadar kalau dulu ada kelas malam minggu. Jadi saya lebih suka duduk di dapan laptop ketimbang jalan ke luar. Moga aja deh kelas malam minggunya mulai lagi ^_^

Berikut ada resume dari kelas malam minggu bulan juni kemarin tentang menulis fiksi anak. Terdampar di file laptop saya dan sekarang saya publish di blog aja deh. Semoga bermanfaat. Continue reading