Resensiku di Kompas Anak

Selepas dari pasar terapung (ini saya ceritakan belakangan aja), saya, suami, kakak dan kakak ipar menuju rumah Om saya. Di sana kami semua tepar kelelahan setelah berangkat sebelum subuh dari rumah kakak di Banjarbaru. Kami pun ketiduran (eh, minus kakak ipar yang katanya nggak bisa tidur ^^)

Setelah bangun, saya menemukan pesan di inbox FB di hape saya. Pesan dari Mbak Nining yang memberitahu kalau ada resensi saya di Kompas Anak hari itu. Kyaaaa… Ngantuk yang tadinya masih bersisa langsung lenyap seketika. Duu, rasanya masih dalam euforia kalau sebelumnya artikel saya ada di Pikiran Rakyat, sehari setelahnya resensi saya ada di Kompas Anak. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah.

Mbak Nining pun menawarkan apa resensinya mau beliau scankan dan kirimkan ke saya atau mau cari kompasnya sendiri. Saya bilang ke Mbak Nining kalau saya mau cari sendiri dulu, kalau nggak dapat baru deh saya akan meminta tolong Mbak Nining. Saya dan keluarga memang berencana mau ngemall sehabis shalat dzuhur. Kompas tentunya lebih mudah didapatkan ketimbang Pikiran Rakyat di daerah ini

Eh, pas saya keluar kamar dan bersiap pergi, Om saya menenteng 2 koran, Banjarmasin Post dan Kompas. Kyaaa… Langsung heboh pinjam punya Om dan menemukan nama saya tercetak di sana. Menulis resensi buku Rheisa si Pengusaha Cilik karya kak Marisa Agustina terbitan Lintang Indiva. Saya pun meminta ke Om lembaran koran yang ada resensi itu saya minta. Karena yakin aja itu bukan bagian rubrik kesukaan Om. Lumayan kan nggak jadi beli. *ketawa pelit*

Gambar

Resensi ini saya kirim tanggal 29 Januari dan dimuat 23 maret. Ini resensi ke 4 yang saya kirim. 3 sebelumnya nggak dimuat. Resensi pertama yang saya kirim ternyata resensi dengan buku yang sama sudah pernah dimuat. Hahaha.. Salah sendiri ngeresensi buku lama kalau resensi ke 2 dan ke 3 nggak ada kabar beritanya 🙂

Senang, Yan? Iyaaaa. Ini salah satu mimpi saya bisa tembus Kompas. Alhamdulillah. Oya, sekarang saya emang lagi getol banget kirim tulisan ke media setelah ikut kelas Penulis Tangguh bersama Mbak Nurhayati Pujiastuti. Nanti saya ceritakan deh tentang kelas itu. Belum pernah kan ya saya cerita? *lupa-lupa ingat*

Info tentang resensi ini lagi-lagi patokan saya ada di blog mbak Haya Aliya Zaki. Saya melihat contoh resensi beliau yang pernah dimuat dan syarat-syarat pengirimannya. Syarat pengiriman : Kirim resensi buku anak maksimal 200 kata ke: kompas@kompas.co.id. Subjek: [Kompas Anak] + Resensi + Judul Buku. Sertakan scan cover buku, biodata, dan nomor rekening di akhir naskah. –> copas dari blog Mbak Haya ^^

Ini naskah asli resensi yang saya kirim :

Belajar Jadi Pengusaha Bersama Reisha

 

Judul buku : Reisha si Pengusaha Cilik

Penulis : Marisa Agustina

Cetakan : I, Oktober 2013

Penerbit : Lintang (Kelompok Penerbit Indiva Media Kreasi)

Tebal : 128 hal

 

Sepulang sekolah, Reisha bergegas menemui mamanya. Ada sebuah kabar yang ingin dia ceritakan ke mama. Kabar apakah itu? Puding cokelat yang dibuatkan mamanya ternyata dijual Reisha di sekolah. Reisha senang jualannya laris. Teman-teman di sekolahnya senang dengan puding cokelat jualan Reisha. Reisha pun kemudian meminta mamanya untuk membuatkan lebih banyak puding buat dijual keesokan harinya.

 

Esok harinya puding cokelat jualan Reisha tetap laris manis. Teman-teman Reisha juga membantu Reisha buat berjualan. Tapi, ada satu teman yang tidak suka dengan kegiatan Reisha berjualan. Agil namanya. Agil pun ikut berjualan juga menyaingi Reisha. Agil menjual mainan di sekolah.

 

Suatu hari kegiatan berjualan Reisha dan Agil diketahui oleh Pak Guru. Reisha dan Agil kemudian mendapat surat pemanggilan untuk kedua orangtua mereka. Reisha khawatir kalau dia dilarang berjualan lagi. Padahal Reisha ingin menabung buat keliling dunia dari hasil berjualan. Hmm, penasaran kan? Kenapa orangtua Reisha dipanggil ke sekolah? Benarkah Reisha ditegur karena sudah berjualan di sekolah?

 

Buku yang mengajarkan anak-anak untuk memiliki jiwa wirausaha. Juga ada pesan tentang menabung dan saling tolong menolong dengan sesama. Selain itu ada juga cerita tentang berdamai dengan teman sendiri.

***

 

Advertisements

Tulisanku di Harian Pikiran Rakyat

Siang itu saya dan suami sedang dalam perjalanan menuju Banjarbaru. Kami berdua berada di atas angkot ketika satu sms masuk ke hape saya. Sms yang menanyakan kabar kemudian memberitahu kalau artikel wisata saya dimuat di PR hari ini.

Membaca sms itu saya langsung girang bukan kepalang *norakdotcom*. Pikiran saya langsung tertuju pada satu-satunya artikel wisata yang saya kirimkan ke Pikiran Rakyat. Tidak ada opsi lain, hanya itu yang pernah saya kirim. Saya pun memberitahukan ke suami dan lantas mengecek PR online di tengah perjalanan dengan signal yang begitulah. Tapi, tidak ada tulisan saya di sana. Update terakhir bukan hari itu. Saya pun jadi cemas-cemas penuh harap. (Belakangan saya baru tau kalau ngeceknya harusnya di epaper Pikiran Rakyat ^^)

Saya memutuskan menghubungi mbak Irma via WA. Meminta tolong untuk mencarikan harian Pikiran Rakyat itu di Garut. Sebelumnya saya melihat status Mbak Irma di FB sedang ada di Garut. Karena PR itu harian dari Bandung jadi pikir saya di Garut juga beredar. Mbak Irma pun mencari ke lapak koran ternyata PR sudah habis. Maklum hari sudah siang. Mbak Irma bilang akan mencarikan ke lapak koran lain. Aiiih, terima kasih Mbak Irma

Saya juga mencoba minta tolong di grup ODOH siapa yang ketemu koran Pikiran Rakyat hari itu agar memberitahu saya. Ternyata tak lama kemudian teh Anne menemukan koran itu dan memfotokan tulisan saya di sana. Aaaa… Terima kasih, Teteh. Saya akhirnya yakin kalau tulisan saya beneran dimuat di sana. Jujur, saya nggak bisa menyembunyikan betapa senangnya saya. Oya, mbak Irma juga akhirnya ketemu PR di hotel tempat beliau menginap 🙂

Gambar

Artikel ini saya kirimkan tanggal 20 Februari yang bercerita tentang kunjungan saya ke rumah beruang madu di KM 23 Balikpapan. Kalau ke rumah beruang madunya sih udah lama, sekitar bulan Agustus. Saya hanya menuliskan cerita saya ke sana secara singkat di bagian random post karena emang niatnya catatan perjalanan itu mau coba saya kirim ke media. Tapi, proses nulisnya lama bener.

Saya menyelesaikan artikel itu dan siap kirim waktu di Handil, tapi karena gagal mulu attach foto saya baru bisa mengirimnya ketika ketemu wifi di rumah ortu saya. Pengiriman bersamaan dengan saya kirim resensi Citra Rashmi yang kemarin dimuat di Korjak.

Info tentang artikel wisata di Pikiran Rakyat saya dapatkan di blog mbak Haya Aliya Zaki. Di sana beliau menuliskan syarat-syarat buat ngirim artikel ke Pikiran Rakyat plus tulisan beliau yang tembus di sana. Sebuah informasi yang komplit yang saya gunakan sebagai acuan buat menulis dan mengirimkan artikel ini. Makasih, Mak Haya :*

Rubrik Pariwisata berdasarkan info dari Mak Haya terbit tiap Sabtu dan Minggu. Panjang naskahnya sekitar 2 halaman A4 spasi 1,5. Lampirkan 3 foto (Saya melampirkan 6 foto tapi cuma dimuat 1). Sertakan biodata singkat plus nomor rekening. Dikirim ke hiburan@pikiran-rakyat.com. 

Continue reading