Resensi Namaku Loui(sa) di Tribun Kaltim

            Resensi ini dimuat di harian Tribun Kaltim bulan September yang lalu. Setelahnya tidak ada sama sekali resensi yang saya kirimkan. Belakangan malah tidak ada resensi baru yang saya tulis. Hiks. Alasan utamanya sih karena belum ada buku yang tuntas saya baca. Semengat membaca lagi melemah 😦

Resensi buku Namaku Louisa ini saya tulis dalam dua versi. Versi pertama untuk di blog. Bisa dibaca di sini. Versi kedua untuk dikirim ke media. Rajin banget saya dulu, nulis resensi dua versi :p

Waktu resensi ini dimuat saya tepuk jidat sendiri karena merasa khilaf menggunakan kata penderita. Saya masih ingat pernah menonton wawancara seorang tuna netra. Mereka bilang, mereka keberatan disebut penderita karena mereka tidak merasa menderita. Nah kok saya bisa khilaf menyebut penderita di judul? Heuheu… Maafkan kekhilafan saya ini 😦

Baiklah sebelum pengantarnya terlalu panjang, inilah resensi saya yang dimuat di Tribun Kaltim 😀
image

 
Continue reading

Resensi Buku Misteri Pantai Mutiara di Kompas Anak

                Hari minggu adalah hari bersenang-senang buat para sastrawan dan penulis. Setidaknya itulah yang saya simpulkan kalau menengok grup Sastra Minggu di salah satu jejaring sosial. Sejak hari jum’at dan kemudian puncaknya di hari minggu, kabar-kabar tentang pemuatan tulisan di media menghiasi grup Sastra Minggu. Saya lumayan sering menyimak pembahasan tersebut. Melihat nama-nama siapa saja yang disebut di sana.

                Tanggal 7 Juni 2015 kemarin satu notifikasi di facebook menyebutkan kalau saya di-mention oleh nama yang tidak saya kenal di grup Sastra Minggu. Mendapati mention tersebut, detak jantung saya langsung berdebar-debar. Saya pun membuka grup dan menemukan komentar yang menyebutkan ada resensi saya di Kompas Anak hari itu untuk buku Misteri Pantai Mutiara.
Continue reading

Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta – Tasaro GK

image

Tadinya saya mengira Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta adalah sebuah novel. Kangen buanget dengan karya Tasaro GK yang serupa dengan Galaksi Kinanthi. Novel panjang yang manis dramatis yang membacanya bikin saya serasa menjalni sebuah perjalanan yang panjang. Tapi sayangnya, TSKdC bukan novel melainkan sebuah kumpulan cerpen, dan ketika saya mengetahui kalau bukan novel, saya mengurungkan niat buat membelinya. Terlebih pas ngecek harganya di toko buku besar, perlu banyak rupiah buat mendapatkannya.

Mahalnya buku ini mungkin disebabkan oleh tampilan bukunya yang terlihat Wah. Penuh warna. Ada frame berwarna di tiap halaman, warnanya seragam untuk halaman-halaman di bab yang sama, ketika berpindah bab, warnanya beda lagi. Jadinya ketika dilihat dari samping serasa menatap rainbow cake. Hal itu jadi bikin saya bertanya-tanya, yang penting itu isi tulisan atau tampilan? Kalau tampilan sebuah buku bikin harga buku melambung tinggi kan pembeli buku yang rada-rada sok kepengin hemat seperti saya ini mikir 4-5 kali buat belinya. Semoga ke depannya karya-karya Tasaro lebih ramah di kantong deh.
Continue reading

Paket Komplit dalam Kesturi dan Kepodang Kuning

Kenal yang namanya kepodang?

Tadinya saya pikir kepodang itu semacam kupu-kupu atau capung. Eaaa… Ternyata burung tho. Penasaran dengan kepodang karena baru saja menyelesaikan novel yang judulnya Kesturi dan Kepodang Kuning. Oya, kalau bicara Kesturi, ingatnya nama buah, jadi awalnya mengira ini adalah cerita tentang buah dan binatang sejenis kupu-kupu. Hahaha… Ternyata salah. Kesturi adalah nama orang, nama seorang bayi cantik dari seorang ibu bernama Sriyani.

Gambar
Yang menakjubkan adalah Kesturi, si bayi cantik itu bersahabat dengan Kepodang, seekor burung yang diberi nama Srikandi oleh Sriyani. Persahabatan yang ajaib, Kesturi kerap bercengkrama dengan burung Kepodang itu di pagi hari. Hal yang menarik perhatian seorang pemuda bernama Satrio yang memang sedang melakukan penelitian burung kepodang yang mulai susah ditemukan. Satrio pun meminta izin kepada Sriyani buat mengambil video keakraban Kesturi dengan Kepodang Kuning setiap hari.
Continue reading

Sewindu (Cinta itu tentang Waktu)

 Gambar

Judul Buku : Sewindu (Cinta Itu tentang Waktu)

Penulis : Tasaro GK

Penerbit : Tiga Serengkai

Tebal : 382 Halaman    

Editor : A. Mellyora

Tahun     : 2013 (Cetakan Pertama)

 

Apa jika saya menuliskan perjalanan cinta saya (halah) juga memungkinkan utk dibukukan?

    Itu pertanyaan yang saya ajukan pada Tasaro GK saat beliau mengasuh kelas menulis online di malam minggu dan pada malam itu membahas satu buku beliau berjudul Sewindu yang diterbitkan Penerbit Tiga Serangkai. Pertanyaan itu mengemuka setelah Tasaro mengatakan kalau buku Sewindu adalah perjalanan tentang sewindu setelah mengarungi biduk rumah tangga. Saya lantas berpikir, pantas saja lah kalau seorang Tasaro yang karyanya kata Andrea Hirata sudah go international meski dekat-dekat menulis buku tentang hidupnya. Lah, dia kan penulis terkemuka. Sudah punya pangsa pasar sendiri. Kalau saya? Idih, siapa juga yang mau membacanya. Tapi apa jawaban yang diberikan oleh Tasaro tentang pertanyaan saya itu.

Continue reading

The Teashop Girls (Sehangat harapan, semanis persahabatan)

Gambar   Judul : The Teashop Girls (Sehangat harapan, semanis persahabatan)
    Penulis : Laura Schaefer
    Penyunting : Ida Wajdi
    Penerjemah : Silvia L. Namira
    Desain Sampul : Fahmi Ilmansyah
    Penerbit : Noura Books (PT. Mizan Publika)
    Cetakan I, Maret 2013

Seperti judulnya The Teashop Girl bercerita tentang teh, yang ketika membacanya membuat saya seperti didesak-desak untuk menikmati secangkir teh dan akhirnya beneran menyeduh teh malam itu juga.

    TTG menceritakan tentang Annie, seorang gadis ABG karena usianya 13 tahun yang sangat menggemari teh. Annie juga jatuh cinta dari siapa pun pada kedai teh milik neneknya, Louisa. Kedai teh itu bernama Steeping Leaf. Sampai-sampai Annie ingin bekerja di sana. Yang pada akhirnya keinginan Annie bekerja di Steeping Leaf direstui orangtuanya dan disetujui oleh Louisa, sang nenek. Annie juga semakin ingin bekerja di Steeping Leaf karena ada seorang cowok bernama Jonathan yang bekerja di sana yang suka diamatinya diam-diam. Continue reading

Negeri di Ujung Tanduk (Tere Liye)

    Gambar

NDUT adalah sekuel dari Negeri Para Bedebah. Dan tak perlu kau tanya lagi (pakai nada lagu Armada), seberapa inginnya saya membaca NDUT ini begitu tau kalau dia bakalan hadir. Bahkan ketika saya terbaring di RS, saya mencoba membacanya walau hanya berhasil beberapa paragraf, pusing cyiiin. Saya pun meminta buku ini dikirimkan ke rumah ortu saya, saking penginnya melahap buku ini.

    Maka, walaupun saya dirundung bosan membacanya bahkan hingga halaman 70 tapi tetap saja saya tak ingin berhenti. Kenapa? Ya karena ekspektasi saya mengatakan buku ini seru dan menarik.

    Prolog NDUT ini diawali dengan klub petarung itu. Helloooo… Saya ga suka tinju, apalagi gulat, dan saya ngebayangin bertarung dua orang itu kalau bukan tinju ya gulat. Cabang olahraga yang sampai sekarang tak saya mengerti kenapa bisa ada (sorry Chris John). Dan tentu dunk saya ga suka, jadinya prolog dan bab-bab awal agak ngebosanin, tapi aku bertahan dan kuyakin dengan keputusanku (pakai nada lagunya Rio Febrian) kalau buku ini seru dan menarik.

Continue reading