tentang Negeri Para Bedebah

Kalau sebuah buku dinilai bagus jika punya bab2 awal yang bisa merebut perhatian kita, maka buku ini sedikit gagal merebut perhatian saya di awal. 

Itu status saya di GR ketika update perkembangan terbaru bacaan saya di sana. Yah, dibandingkan dengan Tahta Mahameru yang sudah merebut perhatian saya di prolog, buku ini benar-benar gagal. Saya dilingkup bosan dengan wawancara Thomas dengan Julia di atas pesawat, ingin segera menutup buku dengan konfrensi apa tuh yang bikin kepala saya puyeng dengan istilah ekonomi, dan tinju.. oh tidak. Tinju olahraga yang paling membosankan sejagad raya bagi saya dan olahraga itu disajikan di bab2 awal. Continue reading

Morning Light – Windhy Puspitadewi

“Novel ini ditujukan untuk kalian, khususnya para bunga matahari yang masih berusaha mengejar matahari”

Itulah sederet kata yang tertulis di kata pengantar Morning Light karya Windhy Puspitadewi, yang membuat saya semakin tertarik dan menebak-nebak isi ceritanya . Yang terbayang dalam pikiran saya buku ini bercerita tentang seorang gadis yang naksir abis dengan temannya , terus mengejarnya hingga sampai pada satu titik di mana dia berhenti berharap. Hal ini tentu saja diperkuat dengan keterangan lain di kata pengantar di mana si penulis mengatakan bahwa novel ini berdasarkan pengalaman pribadinya sendiri, di mana ada seseorang yang dikejar sejak dia kecil . Continue reading

Refrain (Saat Cinta Selalu Pulang)

cover Refrain yang ada amplopnya buat surat2an 😉

Pernah tidak merasa tertipu dengan tulisan di cover depan atau belakang sebuah buku? Yang di cover itu tertulis cerita yang begini dan begitu tapi ternyata isinya tak seperti yang ada dalam pikiran kita ketika membaca isi tulisan di cover. Atau malah tulisan di cover tidak mampu menjelaskan isi bukunya. (Tulisan di cover yang saya maksud bukan endorsement ya…)

Atau pernahkah mengalami hal yang sebaliknya? Saat membaca tulisan di cover depan atau belakang yang isinya ternyata sangat sesuai dengan isi bukunya Jika hal itu ditanyakan pada saya, maka ya. Saya pernah menemukan buku itu. Di sebuah buku berjudul Refrain yang ditulis Winna Efendi, di cover depan sebagai sub judulnya tertulis Saat Cinta Selalu Pulang. Saya menunggu-nunggu apa maksud dari kalimat itu dan saya menemukan maksudnya saat selesai melahap buku ini. Continue reading

Hujan dan Teduh (Wulan Dewatra)

 

“Aku dan kamu seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.

Mungkin jalan kita tidak bersimpangan.”

Itu alasan pertama, kenapa pada akhirnya saya menginginkan novel ini. Ah, tuh kan saya selalu tertarik menceritakan bagaimana saya berjodoh dengan sebuah buku. Dan perumpamaan tentang hujan dan teduh yang ada di cover belakang novel ini menarik, menarik sekali. Humm, gagas memang selalu bisa membuat saya tertarik dengan cover2nya yang cantik dan manis itu, tidak hanya tampilan warnanya yang saya banget tapi juga kata2nya yang membius. Hihihi….

“Juara pertama 100% roman asli Indonesia.”
Continue reading

forgiven (yang tak terlupakan)

“Everyone makes mistakes. But only a few could forgive. Padahal ada banyak kesalahan yang hanya perlu dimaafkan bukan dihukum.”

Saya pernah menonton sebuah film Jepang yang berkisah tentang seorang jenius yang sangat gandrung dengan matematika. Suatu ketika si jenius ini terlibat dalam sebuah pembunuhan dan kemudian ada satu orang jenius lagi yang gandrung dengan fisika yang mencoba mencari titik terang dari pembunuhan tersebut. Film itu menarik, karena si jenius matematika mencoba membuat alibi dengan logika matematika yang bermain di otaknya, yang menggandrungi fisika pun juga dengan logika2 fisikanya mencari tau apa yang terjadi di balik pembunuhan itu. Apa judul filmnya? Saya lupa!

Alena (Selubung Cinta di Muzdalifah)

“… dalam perjalanan umrah atau haji… biasalah kalau ada jamaah pria dan wanita yang jomblo… jadinya ada ajang perjodohan dari teman2 sesama jamaah…”…

hemm… jadi teringat kata2 itu .. dan aq berpikir keras… siapa yang mengatakan hal tersebut…

aha… !!!

q temukan jawabnya… Syaiful Jamil ternyata… hehe…
dalam sebuah wawancara ketika ditanya padanya bagaimana bisa kenal dengan ‘tunangannya’ yang dari Malaysia…
hehe… jadi infotainment banget deh…

oke lah… tak seberapa penting darimana kalimat itu.. tapi sepertinya kalimat itu cukup mewakili untuk buku yang satu ini…
ALENA… yang ada sub judulnya… Selubung cinta di Muzdalifah…
wah… untung aja mbak Ifa Avianty sang penulisnya gunain sub judul itu… soalna aq hanya tertarik akan kata Muzdalifah, sehingga ‘menarik’ buku itu menjadi koleksi pribadi..… mungkin karena kerinduan untuk bisa ke sana. Amin…

Ceritain dong yan….

Oke deh… simple aja ya… tentang seorang bernama Alena… akhwat yg dinamis, energik,modern… menunaikan rukun Islam yang kelimanya.. trus bertemu Khaidir, muthawifnya yang juga masih jomblo.. seorang mahasiswa S2 di Yaman, indo-arab, backpacker… trus deh dijodohin ibu2 jamaah lain…

Biasa aja tuh ceritanya… hehe… emang biasa sih.. kan yang cerita aq.. yanti kan ga pandai cerita… tapi walaupun sama2 jomblo dan dijodoh2in teman2 sesama jamaah.. sampai didoain di multazam lagi supaya berjodoh… tetap aja susah bersatu… karena Alena sudah dalam status lamaran orang lain..

Ialah Haikal… the Ice prince.. seorang pengusaha muda… juga rising star politik Indonesia.. tampan … genius tapi seperti gunung es… melihat penggambaran tokoh yang hampir selalu tanpa ekspresi ini.. membuat aq teringat Limbad.. runner up de master itu… ^_^…

Alena pun berusaha meneguhkan hatinya untuk tidak tertarik pada Khaidir… ingin setia terhadap komitmennya pada Haikal… yang pada malam terakhirnya di Mekkah.. Alena mendapatkan sebuah sms dari Haikal…
“finally… I found the answer, hope you’ve found yours…”

The answer apakah??? Yang kemudian membuat hidup Alena menjadi berbeda…

Ternyaata apa yan?
Wah… dah q bilang aq ga pandai bercerita…. Intip novelnya aja deh… jadi lebih seru… hehe… Jadi kayak resensi di majalah….

Catatan q tentang novel ini…

Ini buku kedua setelah Diorama Sepasang AlBanna… yang ingin q teriakkan pada dunia….
GUE BANGETTTTTT…..

seperti sebuah memoar tentang perjalanan haji seseorang… mbak Ifa juga mengemasnya dengan berbagai info tentang haji juga tentang sejarah2 tempat bersejarah umat Islam…

membacanya seperti membaca diary pribadi qta jika berada di sana… tampat2 ziarah di mekkah.. pemakaman Ma’la, jabal tsur, gua hira, Arafah, Jabal Rahmah, Mina.. dan tempat2 lain di mekkah yang lazim dikunjungi para jamaah Haji…

juga di madinah.. mesjid Quba, Uhud, pasar Kurma dll… tak ketinggalan tour di kota Jeddah… mesjid terapung, makam Siti Hawa, Sepeda Nabi Adam.. hehe… beneran sepeda Nabi Adam ya?? Sepertinya bukan… ^_^..

buku yang bagus deh buat yang pengin membangkitkan kenangan atau kerinduan terhadap Tanah Suci…

Apalagi mbak Ifa yang jago bahasa Inggris ini.. hampir selalu menggunakan kata2 dalam bahasa Inggris.. entah itu di percakapan.. atau mengungkapkan perasaan… buat yang English nya klepak-klepek kayak aq.. buku ini oke buat belajar dan nambah kosa kata baru… ^_^

… Catatan yg lain… klo dilihat sih sepertinya setting waktunya tahun 2008… soalna diceritakan Haikal sedang persiapan untuk pemilu 2009… tapi kok masih ada Pasar Seng?
Alena yg ikut jamaah haji khusus… tapi kumpul di asrama pondok gede???
Sama juga ketika dalam perjalanan dari Arafah ke Mina.. saat Alena mencium aroma maskulin yang diyakininya Khaidir berada di dekatnya… bukankah saat itu dalam kondisi Ihram? Yang berarti ga boleh memakai wangi-wangian… atau mungkin aroma itu bukan parfum kali ya? Ga tau juga deh…

trus lagi ketika diceritakan betapa ‘mudahnya’, Alena dan teman2 mencium Hajar Aswad… malah sempat berdiskusi lagi di depan Hajar Aswad… hari2 menjelang Wukuf adalah hari2 terpadat di Mekkah, klo menurut pikiran q hal seperti ini terlalu fiksi… tapi.. ga tau juga deh… hanya pikiran q aja.. mungkin pikiran yang mewakili rasa iri karena ketidakmampuan kali ya… ^_^

Yah… walaupun ada beberapa “ketidaknyamanan” saat membaca novel ini… tapi novel ini cukup oke.. dengan ending yang mengejutkan.. bahwa jodoh qta itu adalah sebuah RahasiaNYA.. dan qta tak akan menduganya.. jadi… jangan terlalu berharap dengan seseorang jika tak ingin kecewa.. huhu…
seperti kata2 OST KCB..
‘garis tangan tergambar… tak bisa aq menentang… “

selain ending novel ini juga menggambarkan pengingat kematian yang menggetarkan…
seperti kata2 Alena..

“aku belajar dari kematian.. bahwa bersicepat dengan malaikat maut bagaikan bersiaga duapuluh empat jam dengan amunisi kebaikan…”

Dongeng Semusim

Don’t Judge Book From the Cover. Itu ya yang sering dikatakan orang2.. tapi jangan salahkan saya kalau sy suka dengan cover buku ini. Pink gitu loh.. eh.. beneran pink kan?.. benar atau tidaknya ga penting.. yang penting sy suka ^^. Dan karena covernya pink pastinya dapat ditebak para pembaca yang budiman kalau ini bercerita tentang cinta. Uhuk.. uhuk.. cinta lagi.. cinta lagi..

“Mengapa cinta lagi dan lagi-lagi cinta? Karena cinta adalah inspirasi dari hidup itu sendiri. Cinta itu universal, dan merupakan naluri dasar manusia yang tak habis untuk digali. Bukankah kitapun tak bosan untuk menyemai cinta setiap hari?”.. (bagian yang bercetak tebal sy ambil dari ‘sebab cinta tak bermata-nya mbak Ifa Avianty).. so.. jangan protes lagi ya buat teman sy yang katanya udah bosan dengan cinta… hoho… (ada gitu orang yang bosan dengan cinta?)

Oke.. kembali ke buku yang mau sy review.. eniwei.. sy dapet gratis lho.. hehe.. thanks buat mbak Sefry…^^.. buku dengan judul Dongeng Semusim yang ditulis oleh mbak Sefryana Khairil ini emang bicara cinta sepasang dua anak manusia yang berlabuh dalam sebuah biduk bernama Pernikahan (ehem!).

Seperti yang pernah sy tulis di review Facebook on Love nya mbak Ifa.. Pernikahan itu bukanlah sebuah akhir, tapi merupakan awal dari sebuah kehidupan baru, makanya dalam ucapan selamat untuk pengantin baru kan sering disebutin “selamat menempuh hidup baru”.. begitupan ketika dua manusia di buku ini, Sarah dan Nabil memasuki kehidupan mereka pasca menikah, banyaaaaakk sekali hal-hal yang terjadi dalam hidup mereka yang tak terduga sebelumnya. Terlebih bagi Sarah yang dengan pengorbanannya menyamakan keyakinan seperti yang dianut suaminya.

Huaaa… hal ini pernah menjadi bahan diskusi sy dengan seorang teman. Bagaimana jika pasangan qta itu muallaf? Dan diskusi kami sampai pada satu kesimpulan, pasangan yang satunya mestinya haruslah seseorang yang punya pemahaman Islam yang kuat dan mungkin akan lebih mudah jika yang muallaf itu adalah istrinya, karena peran seorang suami kan emang jadi imam buat keluarga. (tapi ga juga ding… sy teringat seseorang yang sy temui mengajarkan Iqro buat suaminya yang bule dalam sebuah perjalanan sy di akhir 2008.. kapan2 deh sy ceritakan.. tapi ga janji..)..

Lalu mudahkah buat kehidupan Sarah dan Nabil? kan istrinya yang muallaf gituh… dan sang suami bisa jadi imam buat Sarah.. ah.. sayang jawabannya itu TIDAK. Kalau boleh blak-blakan sy nyebut Nabil belum bisa jadi imam yang baik buat Sarah,, haha,,, kasar yah istilahnya? Tapi.. yang namanya Hidayah itu hak mutlak kepunyaan Allah kan… dan bisa diberikanNYa pada siapa saja yang dikehendakinya.

Begitupun dalam cerita ini.. di mana digambarkan karakter Sarah lah yang justru gigih mendalami agama barunya, tanpa bantuan suami.. eits.. tapi dibantu oleh teman dan adik iparnya.. Nabil malah terkesan cuek jika Sarah bertanya tentang shalat dhuha, ngaji dan hal2 berkaitan dengan agama. Eits.. bukan cuek tapi ga suka ya,,. Hingga kemudian perubahan-perubahan Sarah ke arah yang lebih religius membuat Nabil justru tidak suka. Rasa tidak suka Sarah tehadap perubahan Nabil sama dengan rasa tidak suka Nabil melihat perubahan Sarah.

Wadooh… gimana dong? Ribet yah… ga kok.. sebetulnya ga ribet.,.. sy suka dengan kata2 sohibnya Nabil yang bernama Aan saat mengatakan “nggak selamanya hidup berjalan sesuai keinginan qta. Kadang-kadang qta juga harus memandang sesuatu dari kacamata orang lain.”.. dan itulah yang menjadi masalah.. terkadang qta terlalu egois dengan melihat persoalan hanya dari kacamata qta.(… barusan sy mendapat kata2 ini di status dosen favorit sy.. ^^..)

Wew… tentunya sy bukan orang yang berhak bicara banyak tentang sebuah pernikahan, belum punya pengalaman gituh :)..tapi sy percaya aja saat banyak orang yang bilang kalau qta memang akan melihat bagaimana pribadi seseorang itu sebetulnya saat sudah menikah.. dan bagaimana ketika qta melapangkan hati untuk menerima pasangan qta apa adanya, di sanalah dibutuhkan komitmen. Sy sepakat dengan endors yang ada di buku itu, seperti kata mbak Ifa Avianty bahwa pernikahan adalah sisi real dari cinta, bahwa dalam pernikahan, cinta dan komimen sama pentingnya.

Dan oleh endors yang diberikan seseorang bernama Roos kalau novel ini mengajarkan bagaimana menyikapi pernikahan sebagai sesuatu yang saling melengkapi dan membuatnya menjadi utuh, semuanya memang tidak mudah dan perlu usaha keras yang tidak saja menguras energi tapi juga emosi.

Lalu bagaimana dengan pernikahan Nabil dan Sarah? Sanggupkah mereka keluar dari segala permasalahan dan perbedaan yang semakin meruncing. Jawabnya… heuheu… ada teman yang protes kalau review sy jangan nyeritain ending.. so.. yang mau tau endingnya.. baca novelnya aja ya… ^^

Pada sebuah cinta.. kisah ini pernah ada.. dan review ini berakhir hingga di sini saja..

(makasih buat mbak Sefry atas bukunya.. maaf reviewnya kelamaan muncul… buat mbak Ifa.. makasih untuk cinta tak bermata-nya.. ^^…)