Menyimpan Mimpi Bersama dan Untuk FLP

Pada masa putih biru menjadi seragam kebanggaan, saya kecanduan membaca yang namanya cerpen remaja. Cerpen-cerpen yang ada di majalah sebangsa aneka dan anita yang menjadi koleksi kakak saya, saya lahap semua. Setelah habis melahap punya kakak, saya kemudian melahap punya sepupu saya. Setelah semua punya sepupu saya habiskan membaca, saya meminjam majalah dari teman atau membeli majalah bekas yang ada bonus bundelan cerpen. Jaraaaang sekali beli yang baru karena majalah baru mahal!

Saya juga kemudian mulai suka membaca novel. Novel yang saya baca waktu itu kebanyakan adalah novel terjemahan dari negeri mandarin (atau Taiwan?). Karya-karya Chiung Yao selalu menjadi buruan saya saat ke perpustakaan. Waktu ulang tahun saya pun kakak saya menghadiahkan saya dua novel Putri Huan Zhu

Waktu kemudian membawa saya menemukan karya-karya fiksi yang berbeda dari karya-karya fiksi yang selama ini saya baca. Karya fiksi yang membuat hati saya bergetar dan saya beroleh banyak pengetahuan yang selama ini tidak saya ketahui. Karya fiksi yang serasa ada embun yang menetes di hati ketika membacanya. Karya fiksi yang tidak hanya melegakan kehausan saya pada bahan bacaan tapi juga menghangatkan hati dan memberi gizi pada nurani.
Continue reading

Advertisements

Carancam – Daur Ulang Sisa Ikan

Hemat dan Irit itu seperti sudah menjadi nama tengah mama saya. Dan tentu saja beliau berusaha mengajarkannya kepada saya, anak bungsu tercintanya ini. Tapi, ya, kadang-kadang saya nggak seirit dan sehemat mama juga. *Maafkan anakmu, Ma*

Ada beberapa hal yang mama ajarkan tentang pengiritan, misalkan dalam memakai kompor elpiji. Mama bilang jangan sering dimati-hidupkan. Karena jika kompor elpiji dinyalakan, pementikan awal itu memakai lebih banyak elpiji. Jadi, cara ngiritnya itu, kecilkan apinya jika sudah selesai masak dan ada yang mau dimasak berikutnya. Jadi, sebelum yang satu masak, yang lain udah siap dimasak lagi.

Kali ini yang mau saya share adalah cara mama mendaur ulang ikan yang sudah dimasak. Dalam keluarga kami tidak terbiasa mangilau ikan. Mangilau bahasa Indonesianya apa ya? Menggado? Maksudnya makan ikan doang gitu, tanpa nasi. Jadi, biasanya ada gitu ikan sisa. Entah bakar atau goreng, atau bisa juga pepes. Kalau dibuang kan sayang tuh, biasanya dagingnya masih banyak. Dan kami tidak punya peliharaan kucing. Continue reading

Eureka! Aku Menemukanmu

Image

Entah karena saya seorang dramaholic, suka baca novel yang dramatis dan ditambah kadang kejebak nonton sinetron pulak, sehingga ada satu pemikiran yang menggangu kesenangan saya saat mau menikah dulu. Apa itu? Saya takut nggak bisa jatuh cinta sama suami saya sendiri. Khawatir kalau pas abis nikah perasaan saya biasa atau malah ilfil sama seseorang yang berstatus sebagai suami.

Kenapa bisa pemikiran itu ada? Kalau orang yang udah kenal banget sama saya  juga menjadi tempat curhat saya pasti tau deh kalau saya ini orangnya sering khawatir. Sering berpikiran yang jauh-jauh sampai menara pisa sana. Kalau kakak saya dulu bilang, ibaratnya main catur, sebelum melangkah saya bakalan mikirin 2-3 langkah lanjutannya. Bagus dong, Yan? Yeee… Hal itu malah bikin saya jadi peragu buat melakukan sesuatu. Termasuk soal menikah. Ihiks. Continue reading

[giveaway Freebies the 13th, #2] Spell your quote

Memiliki anak gadis itu akan menjadi kekhawatiran seumur hidup buat kedua orang tuanya.

Itu kalimat yang pernah saya dengar terucap dari pasangan selebritis tanah air ketika putri mereka baru lahir. Kalimat itu nancep banget buat saya karena saya merasakan sendiri bagaimana kekhawatiran orangtua saya terhadap saya. Mungkin karena saya satu-satunya anak gadis yang diamanahkan Tuhan buat mereka. Kedua kakak saya laki-laki. Karena itulah mereka ingin betul-betul menjaga saya, meski terkadang saya merasa mereka overprotective.

Tapi seiring berjalannya waktu dan kedewasaan (ehem!) saya, saya tak lagi protes dengan perlindungan-perlindungan orangtua kepada saya. Saya kemudian malah merasa sangat beruntung dengan overprotective-nya orang tua saya.

Maka, ketika saya membaca sebuah buku yang berjudul Always be in Your Heart, karya manis dari seorang penulis bernama Shabrina WS, di mana di sana ada seorang ayah yang memberikan nasehat kepada Marsela, tokoh utama di novel itu. Nasehatnya seperti ini.

“Tuhan, menitipkanmu pada Apa. Tapi, tidak setiap saat Apa bisa awasimu. Jadi, kamu ingat selalu pesan Apa. Kamu boleh berteman dengan siapa saja, tapi kamu tak boleh membiarkan seorang pun menyentuhmu. Meski itu hanya tanganmu. Tidak juga Juanito! Dirimu adalah harta untukmu, maka harus kamu jaga baik-baik harta itu.”

Always Be in Your Heart - Shabrina WS

Always Be in Your Heart – Shabrina WS

Saya suka sekali quote itu dan menjadi quote pilihan saya dalam giveaway Freebies the 13th, #2 yang bertema Spell Your Qoute. Membaca quote itu saya merasakan kasih sayang seorang ayah yang menghangatkan hati saya. Saya pun seperti mendengar lagi nasehat orang tua saya kepada saya tentang menjaga diri dengan redaksi kata-kata yang begitu indah. Saya pun disadarkan lagi bahwa kekhawatiran itu bukan hanya milik orang tua saya, tapi mungkin menjadi milik semua orang tua para gadis di seluruh dunia.

Dirimu adalah hartamu, maka harus kamu jaga baik-baik harta itu.

Freebies the 13th, #2

Freebies the 13th, #2

Eksis Ngeblog ala Yanti

Kalau dipikir-pikir nih ya status saya sebagai seorang istri yang kerjaannya cuma di rumah aja, belum punya anak dan nggak kerja juga, tentu dong saya punya banyak waktu buat yang namanya ‘me time’. Banyaknya me time yang saya lewati juga bisa bikin saya banyak ngeblog, yah, 3 atau 4 postingan setiap hari kali ya. Tapi kenyataannya nggak gitu juga ternyata, untuk ngeblog setiap hari aja saya belum bisa.
Kenapa bisa gitu? Alasan paling gampang dan paling jujur karena saya MALAS!!!

 
Tapi -mau ngebela diri dikit, kerjaan saya walau di rumah juga ga bengong aja. Ada resto dan bakery yang saya atur menu-menu dan tampilannya, juga saya sibuk berpetualang melompat dari satu mobil ke mobil yang lain. Yah, walaupun semua kesibukan yang saya sebut tadi dalam bentuk games aja :p
Continue reading

Indonesia dan Negara ASEAN yang lain : Kula Jua!

“Pegangan di sini, Bu.” Saya berkata pada seorang Ibu pada sebuah perjalanan beberapa tahun silam. Saya dan ibu itu berada dalam bus bandara yang akan mengantar kami ke pesawat. Saya berkata seperti itu karena khawatir kalau bus berjalan, si Ibu bisa terjengkang. Yang pegangan saja kadang harus susah payah mempertahankan posisi agar tetap berdiri. Tapi perkataan saya tak juga digubris si ibu itu.

“Ibu, nanti jatuh. Pegangan di sini biar aman.” Lagi-lagi saya berkata, di tengah riuhnya suara penumpang yang menyesaki bus itu. Namun, untuk kedua kalinya saya dicuekin sama si ibu hingga membuat wajah saya sedikit merengut karena dicuekin. Sekejap kemudian, kakak saya mencolek lengan saya dan menunjuk ke satu arah. Saya mengikuti ke mana telunjuk kakak saya mengarah dan kemudian tertawa sendiri menyadari kekeliruan yang saya lakukan. Kakak saya menunjuk tas yang dipakai ibu itu. Di sana ada bendera sebagai penanda dari mana si Ibu itu berasal dan benderanya bukan merah putih tapi merah putih biru putih merah. Yup, itu adalah bendera Thailand.

“Kirain dari Indonesia juga, Kak. Tadi dengarnya ngomong seperti bahasa Jawa atau Madura gitu.” Saya menjelaskan kepada kakak saya. Dan memang begitulah yang tertangkap indera pendengaran saya. Seperti mendengar ibu-ibu dari jawa yang ngobrol.

Apa yang saya alami ini kemudian membuat saya menyimpulkan karena Indonesia berada dalam satu kawasan yang sama dengan Thailand yaitu Asia Tenggara, maka sangat memungkinkan kalau ada kemiripan bahasa. Entah hanya telinga saya saja yang mendengar kemiripan itu atau memang sebenarnya mirip.

Kalau soal penampilan fisik, wah jangan tanya lagi. Kalau fisik ibu itu seperti Oprah Winfrey, tentu dong saya nggak ngajak ngomong pakai Bahasa Indonesia. Saya jadi ingat di Tanah Suci saya pernah dikira berasal dari Filipina. Kalau disangka dari Malaysia atau Singapura, wah itu sangat sering terjadi.

Yang pakai jilbab hitam dan biru dari Timur Tengah. Tampilan fisiknya beda dengan saya dan adik-adik :)

Yang pakai jilbab hitam dan biru dari Timur Tengah. Tampilan fisiknya beda dengan saya dan adik-adik 🙂

Jadi apakah bangsa kita, Indonesia dan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara adalah serumpun? Serumpun yang artinya satu keturunan, satu nenek moyang dan berasal dari induk yang sama. Pertanyaan tentang serumpun ini, membuat saya ingin mengetahui darimana sih sebenarnya penduduk Indonesia ini berasal? Setelah Nabi Adam dan Siti Hawa bertemu di Jabal Rahmah Mekkah lantas berketurunan kemudian menyebar di penjuru bumi, lewat jalan mana kah nenek moyang kita itu hingga menempati bumi Nusantara ini?
Dari hasil penelusuran lewat media internet saya menemukan beberapa pendapat tentang asal muasal penduduk Indonesia.

Drs. Moh. Ali mengatakan Bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunan, pendapatnya dipengaruhi oleh pendapat Moens yang berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari Mongol dan terdesak oleh bangsa-bangsa yang lebih kuat,dan akhirnya menyebar ke wilayah Indonesia,menurutnya nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari hulu-hulu sungai besar di Asia dan kedatangannya di Indonesia secara bergelombang tahun 3000 SM-1500 SM sampai tahun 1500 SM-500 SM. Pendapatnya didukung oleh suatu pernyataan tentang Blod und Breden Unchro yang berarti darah dan tanah bangsa Indonesia berasal dari Indonesia sendiri.
Sementara Prof.Dr.Kroom berpendapat Asal-usul bangsa Indonesia adalah dari Asia Tengah, pendapat ini didasarkan pada bukti bahwa didaerah Cina tengah banyak terdapat sungai-sungai yang besar yang menjadi sumber kehidupan manusia.Dari sini mereka menyebar ke Indonesia pada sekitar tahun 2000 SM sampai tahun 1500 SM. Sumber dari sini

Nah, dari beragam pendapat itu saya menyimpulkan kalau memang Indonesia dengan beberapa negara tetangga itu serumpun. Karena asalnya sama. Mudahnya gini, saat Nabi Adam turun manusia berpencar. Yang lebih dulu didiami adalah daratan Cina. Mereka berkembang biak mencari penghidupan, menyusuri sungai-sungai besar kemudian menyebrangi lautan hingga sampailah ke negeri kita.
Perjalanan itu entah memakan waktu berapa ratus atau bahkan ribu tahun. Jadi jika ada kesamaan dari segi budaya memang sewajarnya terjadi karena kita serumpun. Bahkan untuk sebuah peninggalan sejarah berupa candi pun ternyata ada miripnya juga.

Penjelasan ahli sejarah mengatakan relief Borobudur ada kemiripan dengan Candi Angkor Wat, yang berada di Kamboja. Padahal, antara Borobudur dan Angkor Wat ada jarak 3 abad untuk pembangunannya. Borobudur terlebih dulu dibangun sebelum Angkor Wat ada. Sesuatu yang wajar jika terjadi kemiripan relief karena memang kita berasal dari nenek moyang yang sama. Ah, suatu hari saya akan mengunjungi keduanya. InsyaAllah 😀

Maka, dengan adanya fakta sejarah yang menyebut kalau Indonesia dan negara ASEAN lagi berasal dari nenek moyang yang sama, diharapkan hal ini bisa mendongkrak kesiapan hati penduduk negara-negara tersebut untuk menyongsong ASEAN Economic Community (AEC) tahun 2015 nanti. Tidak perlu merasa sinis atau merasa terjajah, toh yang datang ‘Kula Jua’* 😀

***

Ket : Kula Jua adalah bahasa Banjar yang artinya keluarga juga.

Bila Thai Massage dan Batimung Bergandengan Tangan

“Yanti nggak ke salon? Teman-teman lagi facial di salon.” Itu pertanyaan teman saya sehari sebelum acara yudisium saya bertahun-tahun silam. Saya hanya tertawa  menanggapi pertanyaan teman saya itu, karena seumur-umur (pada waktu itu) saya ke salon cuman buat potong rambut doang. Beberapa tahun setelahnya, saya sempat perawatan rambut di sebuah salon. Boro-boro saya ketagihan, yang ada pulang dari sana rambut saya gatal luar biasa. Hingga bikin saya jera.

Saya bertandang lagi ke yang namanya salon saat menjelang pernikahan. Itu pun karena seperti diwajibkan kakak ipar saya buat nyalon sebelum nikah. Daripada diomelin, jadi nyalon deh. Kalau nggak, yah lewat. Tapi prosesi nyalon sebelum nikah ini bikin saya ketagihan. Rasanya enak juga creambath dan facial, bikin fresh setelah saya berkubang dengan tetek bengek persiapan nikah. Benar-benar sesuatu yang memanjakan diri.

Lantas kenapa ke salon kedua kalinya saya bisa lebih enjoy? Jawabannya karena salon di kota saya sudah jauh lebih berkembang. Beberapa salon dengan kualitas yang oke mulai berdiri dengan cantik, sehingga salon yang lain pun agar tak kehilangan pelanggan, meningkatkan kualitas dan pelayanan mereka. Persaingan sering membuat orang lain lebih berkembang kan?

Continue reading