tentang Negeri Para Bedebah

Kalau sebuah buku dinilai bagus jika punya bab2 awal yang bisa merebut perhatian kita, maka buku ini sedikit gagal merebut perhatian saya di awal. 

Itu status saya di GR ketika update perkembangan terbaru bacaan saya di sana. Yah, dibandingkan dengan Tahta Mahameru yang sudah merebut perhatian saya di prolog, buku ini benar-benar gagal. Saya dilingkup bosan dengan wawancara Thomas dengan Julia di atas pesawat, ingin segera menutup buku dengan konfrensi apa tuh yang bikin kepala saya puyeng dengan istilah ekonomi, dan tinju.. oh tidak. Tinju olahraga yang paling membosankan sejagad raya bagi saya dan olahraga itu disajikan di bab2 awal. Continue reading

Advertisements

Morning Light – Windhy Puspitadewi

“Novel ini ditujukan untuk kalian, khususnya para bunga matahari yang masih berusaha mengejar matahari”

Itulah sederet kata yang tertulis di kata pengantar Morning Light karya Windhy Puspitadewi, yang membuat saya semakin tertarik dan menebak-nebak isi ceritanya . Yang terbayang dalam pikiran saya buku ini bercerita tentang seorang gadis yang naksir abis dengan temannya , terus mengejarnya hingga sampai pada satu titik di mana dia berhenti berharap. Hal ini tentu saja diperkuat dengan keterangan lain di kata pengantar di mana si penulis mengatakan bahwa novel ini berdasarkan pengalaman pribadinya sendiri, di mana ada seseorang yang dikejar sejak dia kecil . Continue reading

Cahaya di Atas Cahaya (Oki Setiana Dewi)

Baru saja menyelesaikan membaca bukunya Oki Setiana Dewi, Cahaya di Atas Cahaya.

Cahaya di Atas Cahaya adalah buku ke 3 nya Oki, dan saya belum membaca buku pertama dan keduanya. Saya jadi tertarik dengan buku ini karena rekomendasi dari seorang kakak, yang menyebutkan kalau buku ini bercerita sewaktu Oki ada di Mekkah. Wuiiiih… saya langsung deh ngiler, pertama karena cerita tentang pengalaman orang di Tanah Suci selalu membuat saya tertarik dan kedua, karena waktu di Mekkah saya pernah ketemu dan foto bareng sama Oki. Wkwkwkwk…. Siapa tahu cerita tentang fansnya yang norak-norak bergembira ngajak foto sampai dua kali di museum Mekkah ada nempel di bukunya sana. xixixixixii….. Continue reading

Refrain (Saat Cinta Selalu Pulang)

cover Refrain yang ada amplopnya buat surat2an 😉

Pernah tidak merasa tertipu dengan tulisan di cover depan atau belakang sebuah buku? Yang di cover itu tertulis cerita yang begini dan begitu tapi ternyata isinya tak seperti yang ada dalam pikiran kita ketika membaca isi tulisan di cover. Atau malah tulisan di cover tidak mampu menjelaskan isi bukunya. (Tulisan di cover yang saya maksud bukan endorsement ya…)

Atau pernahkah mengalami hal yang sebaliknya? Saat membaca tulisan di cover depan atau belakang yang isinya ternyata sangat sesuai dengan isi bukunya Jika hal itu ditanyakan pada saya, maka ya. Saya pernah menemukan buku itu. Di sebuah buku berjudul Refrain yang ditulis Winna Efendi, di cover depan sebagai sub judulnya tertulis Saat Cinta Selalu Pulang. Saya menunggu-nunggu apa maksud dari kalimat itu dan saya menemukan maksudnya saat selesai melahap buku ini. Continue reading

SETELAH 7 WANITA MENAMPARKU

“Usia dua puluh tujuh memang bukan usia keemasan bagi seorang gadis dan menjadi kakak dari sepuluh adik juga bukan posisi yang diharapkan banyak gadis.”

Tentu saja sederet kata-kata di atas bukan tentangku. Aku memang berusia dua puluh tujuh di tahun ini, tepatnya bulan depan (waktu mengetik ini masih di bulan Mei), di tanggal 29. Tapi aku terlahir sebagai anak bungsu jadi tak punya adik kandung satu pun, apalagi sepuluh. Continue reading

Episode Meminjam Buku

Hai.. hai.. apa kabar? hehehe…

Sebenarnya saya tak berniat ngeblog dalam waktu dekat ini karena pengin menggarap sebuah project yang lumayan serius, eh bukan lumayan ding, tapi emang serius. Tapi apa mau dikata kalau jemari saya sudah begitu gatal ingin menari di atas keyboard yang sayangnya bukan untuk menggarap project serius itu tapi buat ngeblog. Huhuhu… Ta tak apa lah, toh sy merasakan manfaat dari ngeblog, membuat tulisan sy jadi tambah luwes.. pedeeee bener deh :p Continue reading

Hujan dan Teduh (Wulan Dewatra)

 

“Aku dan kamu seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.

Mungkin jalan kita tidak bersimpangan.”

Itu alasan pertama, kenapa pada akhirnya saya menginginkan novel ini. Ah, tuh kan saya selalu tertarik menceritakan bagaimana saya berjodoh dengan sebuah buku. Dan perumpamaan tentang hujan dan teduh yang ada di cover belakang novel ini menarik, menarik sekali. Humm, gagas memang selalu bisa membuat saya tertarik dengan cover2nya yang cantik dan manis itu, tidak hanya tampilan warnanya yang saya banget tapi juga kata2nya yang membius. Hihihi….

“Juara pertama 100% roman asli Indonesia.”
Continue reading