Resensi Namaku Loui(sa) di Tribun Kaltim

            Resensi ini dimuat di harian Tribun Kaltim bulan September yang lalu. Setelahnya tidak ada sama sekali resensi yang saya kirimkan. Belakangan malah tidak ada resensi baru yang saya tulis. Hiks. Alasan utamanya sih karena belum ada buku yang tuntas saya baca. Semengat membaca lagi melemah😦

Resensi buku Namaku Louisa ini saya tulis dalam dua versi. Versi pertama untuk di blog. Bisa dibaca di sini. Versi kedua untuk dikirim ke media. Rajin banget saya dulu, nulis resensi dua versi :p

Waktu resensi ini dimuat saya tepuk jidat sendiri karena merasa khilaf menggunakan kata penderita. Saya masih ingat pernah menonton wawancara seorang tuna netra. Mereka bilang, mereka keberatan disebut penderita karena mereka tidak merasa menderita. Nah kok saya bisa khilaf menyebut penderita di judul? Heuheu… Maafkan kekhilafan saya ini :(

Baiklah sebelum pengantarnya terlalu panjang, inilah resensi saya yang dimuat di Tribun Kaltim😀
image

 

Dilema Kehidupan Penderita Ambiguous Genitalia

Setiap orangtua menginginkan bayi yang dilahirkannya sempurna. Namun, dalam kehidupan ada kalanya anak terlahir istimewa. Seperti mengalami jenis kelamin yang salah diidentifikasi karena bentuk yang tak biasa. Dalam istilah medis disebut Ambiguous Genitalia ; terlahir dengan jenis kelamin yang meragukan. Ambiguous Genitalia dikenal dengan istilah alat kelamin ganda atau interseksual yaitu alat kelamin yang meragukan ketuika seseorang dilahirkan. Penderita memiliki cirri-ciri genetik, anatomik dan atau fisiologik yang meragukan antara pria dan wanita. (Sumber : http://www.fk.undip.ac.id/)

Louisa dilahirkan di sebuah desa di NTB ketika ayahnya bertugas membantu penduduk di sana dalam peternakan sapi. Saat itu, kelahiran Louisa hanya dibantu oleh dukun beranak. Nama Louisa baru ditentukan seminggu kemudian, Louisa menduga ayahnya meragukan jenis kelaminnya karena tak seperti bayi normal lainnya. Namun, ibu Louisa menolak pemeriksaan lebih lanjut karena beranggapan kalau perasaan seorang ibu mengatakan kalau Louisa adalah bayi perempuan.

Louisa pun  tumbuh dan besar sebagai seorang perempuan. Walaupun kemudian tubuhnya tidak tumbuh seperti perempuan pada umumnya. Louisa juga tidak pernah mendapatkan haid seperti Jingga sahabatnya. Ketika Jingga mengeluhkan nyeri haid setiap bulannya, Louisa juga mengeluhkan hal yang sama, nyeri yang membuatnya nyaris pingsan. Ternyata nyeri itu berasal dari sebuah benjolan, semacam testis pada pria tapi tidak turun ke bawah layaknya laki-laki normal.

Mendapati tubuh anaknya yang tak sama dengan anak perempuan pada umumnya, Ibu Louisa pun mengambil langkah agar Louisa terlihat normal. Ibu Louisa selalu mengecek apakah Louisa memakai bantalan-bantalan untuk dadanya atau tidak. Awalnya Luoisa merasa baik-baik saja mengenakannya, ia terlihat sama dengan Jingga dan gadis lainnya. Namun, semakin usianya bertambah, Louisa semakin merasakan ketidaknyamanan. “Banyak orang terlahir tidak seperti yang lainnya, kau hanya tak tahu,” bujuk sang Ibu pada Louisa. (Halaman 16)

Sang ibu jugalah yang mengenalkan Louisa pada biola. Menerapkan aturan pada Louisa untuk mengikuti les biola tiga kali dalam seminggu. Les biola itulah satu-satunya aturan ibunya yang pelan-pelan nyaman Louisa jalankan hingga saat dia besar Louisa menjelma menjadi seorang violinis atau pemain biola yang kariernya cemerlang kemudian menjadi selebriti. Louisa membintangi sebuah iklan bahkan diminta untuk bermain dalam FTV, dia juga terlibat hubungan dengan salah seorang aktor, dan menjadi sasaran pemberitaan para reporter infotainment.

Di tengah kariernya yang menanjak, Louisa semakin gelisah pada keadaan dirinya. Satu kejadian pada suatu malam membuat Louisa lari dari dan menghilang dari orang-orang yang dikenalnya. Louisa memeriksakan dirinya pada dokter spesialis obgyn yang kemudian merujuknya lagi untuk menjalani pemeriksaan yang lebih intensif kepada dokter ahli di Semarang.

Pemeriksaan laboratorium pun dilakukan, jaringan kulit dan darah Louisa diambil. Ketua tim dokter yang menangani Louisa menawarkan untuk memeriksakan darah Louisa di Belanda, karena ketersediaan alat yang belum lengkap di Indonesia. Setelah enam belas hari, hasil pemeriksaan itu pun keluar. Dokter memberikan penjelasan tentang kondisi tubuh Louisa. “Kromosom Anda XY, dengan level testosteron tinggi. Secara genetis Anda seorang laki-laki, namun secara penampilan fisik perempuan. Tubuh Anda mengalami syndrome kekurangan enzim alpha reductase.” (Halaman 91)

Louisa pun dilanda kebingungan mendapati penjelasan tersebut. Seperti kebimbangannya saat mendapati toilet umum, tulisan wanita dengan tanda panah ke kiri, tulisan laki-laki dengan tanda panah ke kanan. Louisa harus memutuskan ke arah mana dia harus melangkah.

Novel kedua yang ditulis oleh Adya Pramudita ini terbilang unik dengan menjadikan tokoh utamanya seorang penderita Ambiguous Genitalia. Seperti yang dituturkan penulisnya dalam kata pengantar, ide awal dari novel ini adalah ketika penulis melihat seseorang seperti Louisa. Penulisnya pun membayangkan segala hal yang dirasakan orang seperti Louisa. Mencoba memahami gejolak yang ada dalam diri mereka. Dan hal itulah yang bisa ditemukan dalam cerita Louisa di novel ini. Bagaimana penulisnya menuturkan gelokal-gejolak batin pada diri Louisa dan juga tanggapan dari orang-orang terdekat hingga lingkungan yang tak selalu ramah pada keadaan yang terjadi pada Louisa.

Selain tentang diri Louisa, novel ini juga bercerita tentang persahabatan antara Louisa dan 2 sahabatnya, Jingga dan Dimitri. Persahabatan yang diwarnai cinta segitiga ini menjadi rumit saat satu orang di antara ketiganya ternyata penderita Ambiguous Genitalia.

***

Judul               : Namaku Loui(sa)

Penulis             : Adya Pramudita

Penyunting      : Sasa

Penerbit           : Moka Media

Tahun Terbit    : 2015

ISBN               : 979-795-964-3

Tebal Buku      : iv + 240 Halaman

4 thoughts on “Resensi Namaku Loui(sa) di Tribun Kaltim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s