Protes si Gula Manis di Majalah Bobo

Kemarin seorang teman bertanya di salah satu grup alumni, bagaimana saya mendapatkan ide buat cerpen yang berjudul Protes si Gula Manis? Saya bengong deh ditanya seperti itu. Hehehe…

Seorang teman berinisiatif menjawab kalau itu dari pengalaman pribadi saya. Teman yang lain menimpali kalau itu adalah hasil khayalan saya.

Errr…. Sebenarnya jawaban teman-teman saya itu ada benarnya juga kalau ada sekian persen dari cerita itu pengalaman pribadi saya. Dan jika ada nasehat di ujung cerita sebenarnya emang mengingatkan diri saya yang paling utama.

image

Bagaimana dengan hasil mengkhayal? Hemm… Ada benarnya juga. Mengkhayal dan berpikir beda tipis kan? Hihihi… Seperti yang saya ceritakan di sini kalau cerpen itu lahir dari kelas menulis dongeng di grup Penulis Tangguh. Saat itu yang jadi Peje adalah Mbak Yuniar Khairani dan Mbak Saptorini. Waktu itu diberikan beberapa kata kunci untuk memancing ide salah satunya adalah gula.

Saya pun kemudian memandangi toples gula di dapur. Seperti berdialog dengan toples gula.

“Hey, Gula. Apa yang bisa aku tulis dari kamu?”

Di samping gula berjejer bahan-bahan dapur lainnya. Ada botol madu, botol kecap, botol saos, dll, dsb.

Dari situlah kemudian ide mencuat. Bagaimana jika mereka bisa bicara? Bagaimana jika salah satu ngambek? Kan saya paling jago kalau urusan ngambek. Hahaha…. Maklum, anak bungsu :p

Yuk dibaca cerpen saya yang dimuat di Bobo no. 4 tahun XLIII.

Protes si Gula Manis

Oleh : Hairi Yanti

 

Gula mendengus. Suara dengusan Gula terdengar nyaring. Penghuni dapur yang lain serentak menoleh pada Gula.

“Ada apa denganmu, Gula?” Tanya Kecap yang ada di dekat Gula. Kecap mengikuti arah tatapan Gula yang tertuju pada Dika. Dika sedang meminum Teh sampai habis.

“Aku pasti tidak disebut.” Gula menghela nafas. Kecap dan teman-teman penghuni dapur yang lain mengerutkan kening. Belum mengerti apa maksud Gula.

“Teh ini enak sekali,” terdengar suara Dika yang membuat wajah Gula semakin tertekuk mendengarnya.

“Benar kan, Teman-teman? Dika hanya menyebut Teh. Tidak menyebut Gula. Padahal Teh enak juga karena Gula,” keluh Gula. Teh dan teman-teman yang lain kaget mendengar penuturan Gula.

“Maafkan aku, Gula. Aku tidak bermaksud seperti itu.” Teh berkata sambil menunduk. Ada perasaan bersalah dalam nada bicaranya. Gula lekas menggeleng. “Ini bukan salahmu, Teh,” Gula berkata cepat. Gula tidak mungkin menyalahkan Teh. Gula hanya kecewa pada manusia.

Gula tahu kalau dirinya larut di air. Bentuk Gula sekarang padat. Tapi kalau dilarutkan di air dan diaduk, maka Gula akan menyatu dengan air. Sehingga Gula tidak lagi terlihat. Keberadaan Gula pun diabaikan.

“Seandainya aku tidak larut di air, adanya aku akan tetap menarik perhatian.” Gumam Gula. Manusia jika menikmati rasa manis akan menyendok Gula dan memakannya langsung. Jadi, manusia akan sadar kalau Gula itu manis. Tidak diabaikan keberadaannya kemudian yang disebut cuma Teh atau Kopi. Sepanjang malam Gula terus berpikir seperti itu. Gula memohon pada Tuhan supaya dia tidak larut di air.

Pagi datang menjelang. Seluruh penghuni dapur tersenyum riang. Ibu Dika sedang menyiapkan sarapan. Penghuni dapur ingin memberikan yang terbaik agar sarapan terlezat bisa dinikmati hari itu. Tapi ada yang aneh saat ibu Dika membikin kopi untuk ayah.

“Kenapa, Bu?” Dika bertanya melihat ibunya yang terus-terusan mengaduk teh.

“Gulanya tidak larut, Dika.” Ibu masih mengaduk kopi dengan wajah heran. Penghuni dapur langsung melirik ke arah Gula. Gula tersenyum sumringah. Permintaannya dikabulkan. Pagi ini Gula tidak larut di air.

“Tenang, Teman-teman. Jika ingin manis, mereka bisa menyendokku langsung dan memakannya,” sahut Gula bangga. “Dengan begitu mereka akan tahu kalau aku penting.”

Penghuni dapur menunggu dengan deg-degan saat ayah Dika meminum kopi tanpa gula yang larut. Kening ayah Dika tampak mengernyit. Mimik ayah Dika tidak seperti biasa yang menyeruput Kopi dengan nikmat. Gula tetap berada di dasar gelas ketika ayah Dika meletakkan gelas Kopi dan berlalu dari dapur untuk berangkat ke kantor. Gula pun cemberut.

“Ayah Dika hanya belum terbiasa saja,” Gula berkata pada teman-temannya.

Sore datang kembali, saat Ibu Dika membikin teh untuk bercengkrama dengan keluarga. Kesibukan kembali terlihat di dapur rumah Dika. Gula tersenyum cerah. Penghuni dapur yang lain pun ikut bersemangat di sore hari. Siap mempersembahkan yang terbaik untuk santapan dan minuman.

Ibu Dika mengambil gelas dan mengambil Teh celup. Meletakkan Teh celup ke dalam gelas kemudian menuangkan air panas ke dalamnya. Gula tersenyum senang, bersiap diri untuk dicampurkan dengan Teh.

“Tehnya sudah siap.” Suara ibu Dika mengagetkan penghuni dapur. Gula belum dimasukkan ke dalam Teh.

“Tehnya sore ini pakai Madu. Karena Gula hari ini tidak larut di air.” Suara ibu Dika mengagetkan Gula. Gula baru ingat ada Madu yang bisa jadi pengganti sumber manis selain dirinya. Gula mendengus lagi, antara sebal tapi juga sedih.

“Tak masalah kalau kita tidak disebut, Gula.” Garam berkata lembut pada Gula.

“Aku juga jarang disebut manusia, padahal tanpa aku makanan jadi hambar. Walau tak terlihat dan jarang disebut, yang penting kita bermanfaat,” ujar Garam lagi.

Gula menatap Garam yang melempar senyuman manis pada Gula. Garam benar, Gula berujar dalam hati. Daripada aku tak disentuh sama sekali dan hanya berdiam diri lebih baik aku tetap larut di air dan menyenangkan Manusia yang mencicipiku. Kini Gula berdoa agar dia kembali bisa larut di air.

***

9 thoughts on “Protes si Gula Manis di Majalah Bobo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s