Menulis di Ponsel

Dulu saya selalu mengidamkan punya ponsel di mana saya bisa menulis di sana. Jadi, tidak bergantung dengan laptop lagi saat ingin menulis. Bisa dibawa ke mana saja dan bisa menulis kapan saja. Pada saat itu, saya masih memakai ponsel jadul yang tidak mendukung aktifitas menulis.

Kemudian saya memakai BB gemini. Nah… Untuk BB ini lumayan bisa ketak ketik di sana. Ada aplikasi note di sana yang bisa saya gunakan.

Setelah menikah, suami memberikan saya ponsel android di mana saya bisa install aplikasi office yang dapat memudahkan saya untuk menulis. Sayangnya saya waktu itu masih merasa rumit dengan ponsel layar sentuh. Typo mulu kalau ngetik di sana. Suami bilang, saya hanya belum terbiasa saja :’)

Setahun kemarin, saya kembali berganti ponsel. Kali ini memakai sony xperia z ultra. Ponsel yang kalau dibilang ponsel bentuknya gedeee, dibilang tablet juga masih terlalu kecil. Tapi sampai sejauh ini, saya suka dengan ponsel yang saya gunakan ini. Bentuknya yang agak kebesaran dari ukuran ponsel normal justru memudahkan saya buat main games :p juga untuk menulis.

Rupanya benar kata suami, saya hanya belum membiasakan diri mengetik di ponsel. Beberapa waktu yang lalu saya mulai membiasakan diri dan lumayan sih ada beberapa tulisan yang terlahir dari ponsel ini. Baik itu mewujud dalam postingan di blog, atau pun hanya bentuk draft yang tidak saya publish ke mana-mana. Ada juga yang sudah saya kirimkan ke media.

Salah satu yang saya kirimkan ke media adalah cerpen berjudul Nama Pena. Saya tulis di ponsel ini dan kemudian dipindahkan ke laptop untuk diedit. Alhamdulillah,  cerpen itu dimuat di percikan majalah Gadis bulan Juli. Kemarin saya melihat lagi draft awal tulisan tersebut yang masih belum saya edit. Ceritanya memang lebih panjang dari yang saya kirimkan ke Gadis. Waktu baca ulang, eh kok ngerasa dibuang sayang. Jadi, saya posting di sini aja. InsyaAllah nanti saya posting juga versi yang saya kirim ke majalah Gadis, lebih ringkas dan lebih padat🙂

image

Dalam majalah ini ada tulisan saya🙂

Nama Pena

Nama pena bukan urusan yang sederhana buat Riri. Baginya nama pena harus dipakai satu kali kemudian digunakan seterusnya. Sampai sekarang Riri belum bisa memutuskan nama pena yang akan dia gunakan.

“Kenapa tidak memakai nama asli saja?” Yunita, sahabatnya bertanya.

Riri menggeleng. Bukan, dia bukan tidak menghargai nama yang diberikan orangtuanya. Tapi namanya terlalu biasa, sebuah nama untuk karya tulis harus memikat. Harus bisa memerangkap setiap mata yang membacanya hingga memutuskan membaca karya yang dia tulis. Sementara namanya? Ah, nama Hairiati itu tidak mencerminkan kekinian.

“Nama penaku sepertinya harus ada diawali huruf W deh, Ta,” ujar Riri sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke meja.

“kamu tahu kan, Ta? Novelis-novelis yang berawalan huruf W namanya bagus-bagus. Sebut saja Windry Ramadhina, Windhy Puspitadewi, Windy Ariestanti, Winna Efendi. W semua tuh.” Riri menyebut nama penulis favoritnya.

“Ya sudah, Wairiyati aja,” usul Yunita.

Riri menggeleng, “Ga menarik,” lanjutnya.

“Atau…” Riri nampak berpikir.

“Atau apa?”

“walaupun namanya bukan berawalan huruf W tapi ada W di nama itu, Ta. Seperti Riawani Elyta atau Shabrina WS. Eh, Bambang Irwanto yang cerpennya langganan dimuat di majalah anak-anak juga ada W di namanya.” Kening Riri nampak berkerut. Dia benar-benar serius perpikir.

“Ya sudah, Ri. Cari aja tuh di buku itu nama yang berawalan huruf W,” seru Yunita sembari menunjuk buku nama-nama bayi yang Riri punya. Riri juga mencari inspirasi dari mana-mana tentang nama. Mengunduh aplikasi di android tentang nama-nama bayi dari berbagai negara, juga membeli buku tentang nama-nama bayi.

“Enggak bisa segampang itu, Ta. Nama itu harus ada unsur nama dariku juga. Bukan asal comot nama.”
Huff.
Yunita menghela napas.

“Kalau bisa dibikin mudah, kenapa harus dipersulit?” Tapi perkataan Yunita tidak mengubah pendirian Riri.

**

“Ri, Ary Nilandari ngeluarin novel baru. Horee…” Yunita bersorak di depan Riri. Ary Nilandari adalah penulis favorit Yunita.

“Novel dewasa?” Tanya Riri. Yunita menggeleng.

“Novel anak.”

Yunita memang penggemar berat cerita anak. Walaupun sudah SMA, tapi buku-buku anak masih jadi favorit Yunita. Tapi untuk menulis, Yunita lebih sering menulis cerpen remaja. Riri dan Yunita memang sama-sama suka menulis.

“Tunggu, Ta…” Tiba-tiba Riri teringat sesuatu. Yunita memandangnya dengan tatapan bertanya-tanya.

“Ary Nilandari, Ari Kinoysan, Ari Nur Utami. Itu nama-nama penulis yang nama mereka Ari semua. Dan karya mereka bagus-bagus kan?” Yunita membenarkan.

“So?”

“Gimana kalau nama penaku juga pakai nama Ari?”

“Nah… Iya, Ri. Apalagi nama kamu kan ada Ri juga. Jadi pas kan dengan keinginan kamu, nama pena harus memuat nama kamu. Gimana kalau…” Yunita nampak berpikir. “Aryati atau Aryanti?” tanya Yunita.
Riri terdiam. Beberapa detik kemudian gelengkan kepala yang dilihat Yunita.

“Itu terlalu sederhana, Ta.”

Huff…
Yunita mendesah kecewa.

Riri sangat suka menulis. Cerpen-cerpennya juga bagus. Tapi sampai sekarang dia belum pernah mengirimkan tulisannya ke media. Alasannya karena nama pena. Bagi Riri, nama pena harus benar-benar klop dan dia yakini akan dia pakai selamanya. Dan Riri belum menemukannya.

**

Pagi minggu dilewati Riri dan Yunita di alun-alun kota. Jalan santai mengelilingi alun-alun sekalian membakar kalori, untuk kemudian duduk menikmati bubur ayam kegemaran mereka.

“Wuiiih, Teguh Affandi namanya nongol terus di koran minggu,” seru Yunita.

Mereka sudah duduk di kedai bubur ayam. Yunita sedang memegang ponselnya. Rupanya ia sedang membuka grup Sastra Minggu di facebook. Grup yang mengabarkan karya siapa saja yang dimuat di koran minggu.

“Selain cerpen, juga ada resensi TA di koran.” Yunita mendecak. Kekaguman jelas terlihat di matanya.

“Wajar sih ya, dia mungkin gigih mengirim tulisan,” cerocos Yunita lagi.

“Seperti namanya, Ta. Teguh. Teguh yang teguh berjuang,” kata Riri disela ia menyuap bubur ayam.

“Benar banget.”

“Eh, tunggu…” Riri teringat sesuatu. Sendok yang berisi bubur ayam terhenti di udara.

“Bagaimana kalau nama penaku juga ada Teguh?” Yunita menepuk keningnya. Nama pena lagi.

“Boleh deh. Kamu pilih aja. Riri Teguh, Hairiyati Teguh atau Aryati Teguh. Pilih salah satu deh,” cetus Yunita.
Sungguh dia bosan membahas tentang nama pena dengan Riri. Yunita menatap Riri yang duduk dengan siku menopang dagunya. Riri sedang berpikir serius. Astagaa….

***
“Ta… Ta.. ” Riri menggedor pintu kamar Yunita.

“Gedor yang kuat, Ri. Udah sore gini belum bangun juga. Bablas itu tidur siangnya.” kata Tante Yuri, mamanya Yunita. Riri mengacungkan jempol pada Tante Yuri. Dapat restu seperti itu dia akan semakin kuat menggedor pintu Yunita.

Tak lama suara kunci diputar terdengar. Wajah Yunita nampak kusut, matanya pun hanya terbuka sedikit.

“Apaan sih, Ri.” Yunita masuk lagi ke kamarnya. Diikuti Riri di belakang. Tapi Yunita menuju ranjangnya lagi, menghempaskan tubuhnya dan memeluk guling.

“Ya ampun nih anak. Masa mau tidur lagi. Ini sudah jam lima woy…” Riri menarik guling yang dipeluk Yunita.

“Aku kan bilang begadang tadi malam. Pagi tadi enggak bisa tidur karena kamu ajak jalan. Jadi wajarlah kalau siang aku tidur,” kata Yunita dengan mata yang terpejam.

“Nih, penghilang kantuk kamu. Cerpen kamu dimuat di majalah Gadis dan majalah ini.” Riri memperlihatkan ponsel yang menyebut ada cerpen Yunita dan satu majalah di tangannya.

mata Yunita langsung terbuka. Merebut majalah dari tangan Riri. Kemudian Merebut ponsel Riri.

“Aaaaaa….” Yunita bersorak dan memeluk Riri.
Riri sontak melepaskan diri dari pelukan Yunita.

“Mandi dulu sana. Baru main peluk.” Yunita tertawa mendengarnya. Kemudian dia memandang-mandang tulisan namanya yang tertulis di majalah.

“Ta,” panggil Riri.

“Ngiri deh sama kamu. Cerpen kamu bisa dimuat di dua majalah gini.” suara Riri nampak sendu. Yunita mendongak. Menepuk-nepuk pundak Riri. Yunita tahu persis kalau Riri memimpikan juga cerpennya dimuat di majalah.

“Ri, cerpen kamu itu bagus-bagus. Stop deh mikirin nama pena. Langsung kirim aja dengan nama asli kamu.”

“Iya, Ta. Mungkin harus begitu. Selama ini tenagaku habis mikirin nama pena aja.” Yunita membenarkan.

“Eh tapi…” Riri nampak teringat akan sesuatu. Yunita menatap Riri dengan pandangan bertanya-tanya.

“Kamu ingat Yuniar Khairani dan Yulina Trihaningsih kan?” Yunita mengangguk. Dua nama cerpenis yang Riri dan Yunita suka. Beberapa kali cerpen mereka dimuat di majalah.

“So?”

“Nama mereka, Ta.” Riri nampak antusias. “Nama mereka sama-sama diawali Yu. Nama kamu juga Yu. Apa aku pakai nama pena yang juga berawalan Yu?”
Astaga!

Yunita menepuk keningnya. Kemudian meraih guling dan berbaring memunggungi Riri. Masalah nama pena ini entah kapan akan berakhir.

8 thoughts on “Menulis di Ponsel

  1. Gara says:

    Selamat ya Mbak ceritanya dimuat lagi, keren deh :)).
    Sama banget dengan saya waktu memilih nama buat blog :haha. Terlalu bingung dengan nama yang bagus, tapi akhirnya sudah dapat nama yang paling unik dan tepat, yakni nama sendiri :haha. Memang demikian ya, kadang kita terlalu ribut dengan hal-hal kecil yang remeh-temeh sampai lupa esensi sebenarnya dari apa yang kita lakukan. Saya juga sering begitu :haha.

    • Terima kasih, Gara.
      Iya. Betul banget. Bahkan sy suka bingung mencari nama tokoh si cerpen. Jadi cerpennya ga ditulis2 deh. Eh beneeer. Sy juga galau milih nama blog. Sampai sekarang masih mencari nama yg cocok padahal. Hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s