Uang Niken Hilang di Majalah Girls

Selalu ada cerita dibalik cerita. Ini cerita dibalik cerpen yang dimuat di majalah Girls seperti yang saya ceritakan di sini.

Cerpen ini terinspirasi dari kisah mama saya yang kehilangan uang. Jadi, waktu itu dompet mama tergeletak di sofa ruang tamu. Sewaktu dilihat lagi dompetnya terbuka dan ada uang di dalamnya yang hilang. Sebelumnya ada 2 orang yang masuk dan duduk di ruang tamu.

Hal ini tentu saja tidak baik untuk hati, bisa membuat berprasangka tentang 2 orang yang masuk ke ruang tamu dan uang yang hilang itu. Saya meminta mama untuk bertanya pada abah atau kakak saya tentang uang tersebut. Siapa tahu mereka yang mengambil untuk keperluan tertentu. Mama saya sepertinya enggan memperpanjang masalah tapi itu tidak baik untuk hati kan? 

Akhirnya mama bertanya juga pada abah dan ternyata abah yang mengambil uang tersebut untuk membeli sesuatu😀 Masalah selesai, hati tak jadi berprasangka. Kisah itu pun saya jadikan cerpen dengan mengubah tokohnya menjadi anak-anak.

Berikut cerpennya, judul yang saya kirimkan Misteri Uang Niken, yang kemudian diganti redaksi menjadi Uang Niken Hilang. Ada beberapa kalimat juga yang diedit dan yang saya lampirkan di bawah ini adalah naskah asli dari cerpen tersebut. Dimuat di Majalah Girls No. 24 Tahun X. Majalah Girls adalah majalah dwi mingguan. Oya, saya dapat pemberitahuan pemuatan via email. Selamat membaca ^_^

Cerpen di Majalah Girls

Cerpen di Majalah Girls

Misteri Uang Niken

Oleh : Hairi Yanti

Uang itu hilang. Niken menggeledah isi tasnya. Tak puas hanya menggeledah, Niken menumpahkan semua isi tasnya. Merogoh tiap kantong dalam tas. Tapi hasilnya tetap nihil. Niken terduduk dengan isi tas yang masih berserekan.

Sore tadi Niken menemukan tasnya di sofa ruang tamu. Kantong depannya terbuka. Melihat kantong depan yang terbuka perasaan Niken menjadi tidak enak. Perasaannya bertambah galau saat tak menemukan selembar uang 50 ribu di sana. Niken ingat sekali dia menaruh uang di sana.

Uang itu hasil Niken membantu ibu membikin kue. Kalau Niken membantu ibu, ibu akan memberikan Niken bonus uang saku. Niken menyimpan uang itu untuk membeli buku yang sudah lama dia inginkan.

Niken mengingat lagi kejadian siang tadi. Niken pulang sekolah bersama Laras. Laras ingin meminjam buku cerita punya Niken. Laras diajak Niken masuk dan duduk di ruang tamu. Tas sekolah Niken taruh begitu saja di atas sofa. Niken dua kali meninggalkan Laras sendiri di ruang tamu, saat bikin minum dan mengambil buku. Setelah Laras pulang, Niken mengunci pintu rumah. Makan siang dan kemudian tidur siang. Dia lupa mengambil tasnya yang tergeletak di sofa.

***

“Ada siapa saja di rumah saat itu, Ken?” Lena bertanya pada Niken. Setelah Niken bercerita pada Lena esok harinya sepulang sekolah. Lena adalah tetangga Niken, tapi tidak satu sekolah dengannya.

“Ada ibu. Tapi ibu sedang bikin kue di dapur. Ayah juga sedang bekerja. Tapi tidak mungkin ayah dan ibu yang mengambil uangku kan, Len?” Lena mengangguk. Setuju dengan pendapat Niken.

“Atau ada yang mengambil pesanan kue datang ke rumah?” Lena bertanya dengan nada menyelidik. Niken menggeleng. Sore itu ibunya sendiri yang pergi mengantar kue pesanan pada langganannya. Tidak ada yang datang ke rumah.

“Tidak bertanya saja pada ibu atau ayah kamu?” Usul Lena langsung disambut gelengan kepala Niken. Niken khawatir ibu marah karena Niken tidak berhati-hati menyimpan uang.

***

“Pagi, Niken.” Laras tampak ceria pagi itu. Dia menyapa Niken dengan senyum manis di wajahnya.

“Tebak aku punya apa?” Laras duduk di samping Niken. Niken menggeleng, antara tidak tahu dan tidak minat ingin tahu.

“Tradaaaaa…” Laras mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kotak pensil berwarna pink. Niken ingat saat mereka ke toko buku beberapa waktu yang lalu Laras bilang ingin sekali punya kotak pensil itu. Tapi Laras mengaku dia tidak punya uang.

“Akhirnya aku bisa beli kotak pensil ini, Ken,” kata Laras sembari tangannya mengelus kotak pensil.

“Dapat uang dari mana?” Niken bertanya curiga. Laras menatap Niken masih dengan senyum di wajahnya.

“Ada deh,” jawab Laras sambil mengedipkan mata ke Niken. Niken menatap Laras tak senang.

***

“Aku tambah curiga, Len.” Niken menceritakan pada Lena semuanya setelah pulang sekolah. Tentang kotak pensil baru Laras, tentang Laras yang tidak mau memberitahu dapat uang dari mana.

“Dulu Laras bilang enggak punya uang.” Niken mengakhiri ceritanya.

“Dulu kapan?” Pertanyaan Lena membuat Niken mengingat-ingat saat mereka ke toko buku. Saat itu juga Niken melihat buku yang ingin dibelinya. Itu terjadi sebulan yang lalu.

“Kalau kamu udah dapat uang buat beli buku, mungkin Niken juga sudah punya uang buat beli kotak pensil itu,” tukas Lena.

“Tapi aku tidak mencuri,” cetus Niken.

“Laras juga belum terbukti mencuri uang kamu.” Lena menyahut yang membuat Niken terdiam. Tapi kecurigaannya belum juga hilang. Sejak kejadian itu Niken lebih banyak mendiamkan Laras. Mereka tak lagi mengobrol akrab seperti biasa.

***

“Kemarin sudah beli bukunya, Ken?” Ibu bertanya saat Niken membantu ibu membikin kue di dapur. Niken bingung harus menjawab apa.

“Uangnya kemarin kurang ya? Nanti ibu tambahin kalau kurang.” Kata Ibu lagi. Saat ibu berkata itu, ayah yang baru pulang kerja masuk ke dapur.

“Atau minta tambahan dari ayah. Ayah baru dapat bonus tuh dari kantor.” Ibu melirik Ayah sambil tersenyum.

“Minta tambahan apa nih? Ayah baru datang langsung ditodong,” seloroh Ayah sambil nyengir.

“Itu loh, Yah, Niken mungkin uangnya kurang buat beli buku.” Ibu menjelaskan. Tiba-tiba ayah menepuk jidatnya sendiri.

“Astaga. Ayah lupa,” seru ayah yang membuat Niken dan ibu menghentikan kegiatannya dan melirik ayah.

“Beberapa hari yang lalu Ayah mengambil berkas yang ketinggalan di rumah. Ayah naik taksi tapi kelupaan bawa dompet. Ayah melihat ada uang menyembul dari tas Niken. Jadi, Ayah ambil uang itu dulu buat bayar taksi karena Ayah balik kantornya pakai mobil. Ayah lupa buat mengganti uang Niken.” Penjelasan ayah membuat Niken tertegun. Berarti Laras tidak bersalah, bisik hati Niken.

“Maafin Ayah ya, Niken. Nanti Ayah tambahin ya uangnya buat beli buku. Sebagai permintaan maaf.” Niken menunduk sedih. Dia teringat mendiamkan Laras beberapa hari ini. Perasaannya semakin tak nyaman saat menyadari kalau dia telah menuduh Laras mencuri.

“Ibu, boleh bikin kuenya lebih? Niken mau kasih kue buat Laras.” Ibu mengangguk. Ibu selalu senang berbagi.

Niken tersenyum senang. Dia akan mengajak Lena ke rumah Laras untuk mengantar kue. Sekalian meminta maaf pada Laras. Lena benar, seharusnya dia bertanya dulu pada orang rumah tentang uangnya yang hilang. Tidak serta merta langsung menuduh tanpa bukti, hanya berdasarkan prasangka. Semoga Laras mau memaafkannya.

***

7 thoughts on “Uang Niken Hilang di Majalah Girls

  1. Gara says:

    Heey, cerita ini keren… kadang kita memang lebih suka menuduh orang sebelum meneliti semua orang di rumah sendiri ya Mbak. Jujur, kejadian ini juga sering terjadi di rumah saya. Agaknya kita mesti belajar dari cerita ini bahwa sebelum melibatkan orang luar, telitilah dulu semua orang di rumah sendiri. Cerita yang bagus! Dua jempol untukmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s