[Cerpen] Tarian Aya

Tarian Aya

Oleh : Hairi Yanti

(Dimuat di Bobo tahun kemarin, edisi 38 Tahun XLII Terbit 25 Desember 2014. Cerita di balik layar cerpen ini pernah saya ceritakan di sini)

Cerpen ketiga di Bobo

Cerpen ketiga di Bobo

“Aya nggak mau lagi latihan nari,” cetus Aya sepulang sekolah. Mama dan kak Tari melihatnya bingung. Pulang sekolah Aya sudah bikin pengumuman.

“Bukannya Aya suka menari?” Kak Tari bertanya heran. Biasanya Aya suka dan selalu bersemangat latihan lari.

“Suka, Kak. Tapi Aya capek. Latihan berulang-ulang, tapi tampil cuma sebentar.” Aya teringat saat latihan tahun kemarin. Saat itu Aya latihan menari buat memeriahkan acara perpisahan kakak kelas 6. Aya latihan dari tiga bulan sebelumnya. Dan tampil di panggung tidak sampai 10 menit.

“Memangnya Aya mau di panggung berapa lama? Tiga jam?” Goda Kak Tari sambil tertawa. Wajah Aya merengut.

“Nggak selama itu juga, Kak. Tapi latihannya juga jangan lama-lama, Aya kan capek.” Aya memijit-mijit lengannya. Seakan pegal sekali setelah latihan menari.

“Ya sudah, terserah Aya saja. Nanti Aya bilang sendiri ke Bu Dina, ya,” kata Ibu. Aya mengangguk setuju. Dia tadi sudah bilang ke Bu Dina. Bu Dina berusaha membujuk Aya. Tapi Aya tetap nggak mau lagi berlatih nari.

“Nanti teman-teman tampil bagus, dikasih tepuk tangan, difoto-foto Aya nggak ikut di foto.” Aya terdiam mendengar kata-kata Kak Tari, tapi begitu ingat betapa capeknya latihan. Aya tetap tidak ingin latihan menari lagi.

Siang itu Aya membantu Ibu membuat kue coklat. Ibu memecahkan telur, mencampurkan gula dan mengocoknya dengan mixer.

“Dikocok berapa lama, Bu?”

“Sampai mengembang. Kalau adonannya sudah kental.” Jelas Ibu. Sambil menunggu telur dikocok, ibu mengayak tepung juga mencairkan margarin. Aya hanya memandang kocokan telur.

“Ini sudah selesai ya Bu?” Tanya Aya. Ibu melirik ke arah mangkok mixer.

“Belum, Aya.” Jawab Ibu.

Aya menelungkupkan wajahnya di meja. Dia sampai ketiduran menunggu kocokan telur mengembang.

“Aya,” Kak Tari membangunkan Aya. Aya melihat Ibu sudah menuangkan adonan ke dalam cetakan. Mata Aya berbinar.

“Kapan Aya bisa makan kuenya, Bu?” Aya bertanya sambil menelan ludah. Lezatnya kue coklat sudah terbayang di matanya.

“Kalau sudah masak, dong.” Kak Tari yang menjawab. Aya mondar mandir di dekat oven. Sesekali wajahnya mencoba melihat ke dalam oven. Aya tak sabar ingin memakan kue bikinannya tadi.

Ketika kue sudah matang, Aya pun langsung mengambil potongan kue paling besar. Aya memakannya dengan lahap.

“Aya makannya cepat banget. Kan tadi bikinnya lama. Nggak seru ah, bikin kuenya lama, Aya makannya cepat.” Aya cemberut mendengar protes kak Tari.

“Tapi kuenya enak banget, Kak.” Aya mengambil lagi satu potong kue. Menaruhnya di piring dan memakannya lagi.

“Wah, kuenya udah ludes separuh.” Ibu tertawa melihat anak-anaknya makan dengan lahap.

“Iya nih, Bu. Aya makannya cepat banget. Padahal bikinnya kan lama, tapi makannya bentar,” kata Kak Tari lagi. Tangan Aya terhenti di udara. Aya merasa akrab dengan kata-kata yang diucapkan Kak Tari tadi. Aya mencoba mengingat-ingat. Ah, Aya menepuk jidatnya sendiri. Dia ingat sesuatu.

“Kak Tari menyindir Aya yang nggak mau latihan nari karena tampil sebentar, ya?” Tanya Aya langsung. Kak Tari tertawa senang Aya mengerti maksud Kak Tari.

“Iya, adikku sayang.” Kak Tari menyentuh pundak Aya.

“Kan semuanya perlu waktu buat tampil sempurna. Seperti kue yang dibikin berjam-jam tapi Aya makannya bentar banget.” Aya meringis mendengar perkataan Kak Tari.

“Sama juga dengan buah yang sering Aya makan.” Kak Tari menujuk keranjang buah di meja makan. Ada pisang, jeruk dan jambu.

“Buah kan asalnya dari bibit, kemudian tumbuh jadi pohon, baru berbuah. Lama kan, Ya? Tapi Aya makannya bentar banget. Buah nggak protes kan kalau Aya makannya cepat padahal buat jadi buah dia perlu waktu yang lama?” Aya nyengir mendengar kata-kata Kak Tari.

“Iya, deh. Aya mau latihan nari lagi. Supaya sama dengan buah dan kue. Enak ketika dimakan. Penampilan tarian Aya juga disenangi yang nonton.” Kak Tari bersorak mendengar perkataan Aya. Kak Tari juga memberikan semangat buat Aya.

***

21 thoughts on “[Cerpen] Tarian Aya

    • Susah2 gampang, Mbak. Hehehe… ada kalanya sy lancar nulis. Tapi sering juga yang tersendat2 ga tau mau nulis apa lagi. Masih harus belajar🙂

  1. ternyata memang bener ya, dari cerita sehari-hari bisa banget dituliskan jadi fiksi. baru baca juga behind the scene nya. keren. semoga cerpenku ada yg dimuat lagi di media *lah :))

    • Iya, Putri. Saya juga sekarang sering mengamati polah anak-anak kecil. Bisa jadi bahan cerita. Aamiin…. Putri udah keren bisa tembus kompas🙂

  2. Gara says:

    Mengena sekali pesannya, sudah begitu sukar diduga sampai di akhir cerita. Keren, Mbak :hehe. Semua keberhasilan itu butuh proses yang panjang, bahkan meski durasi keberhasilan itu sangat singkat, tapi tetap prosesnya panjang. Lama sebentarnya suatu kesuksesan itu sangat bergantung pada seberapa cukup itu dirasa, bukan oleh kita, tapi oleh Yang Di Atas :)).

  3. Ceritanya keren Mbak. Kebetulan sudah baca di BOBO cetaknya. Jadi mau ikutan kuisnya. Cerita Tarian Aya dimuat di Bobo nomor 38 Tahun XLII Terbit pada 25 Desember 2014. Selamat ya Mbak.

  4. Aaaaaah, masuk BoBo ya ceritanya😀 sebagai penggemar Bobo sewaktu kecil, saya terkagum bisa ketemu sama salah satu penulis ceritanya di blog ini :3 aaah, Mbak Yanti😀 kamuuu kereeen😀

      • Aaaaah, Hebat ah mbak Yanti ini😀 salut aku😀 Akhirnya impian kecilnya terealisasikan juga ya mbak😀

        Hihihi nggakpapa mbak, kan proses, sedikit dulu, nanti jadi langganan deh tulisan mbak yanti masuk di majalah bobo😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s