Pernikahan tanpa Persetujuan Mempelai Wanita. Bolehkah?

Kemarin saya membaca sebuah cuplikan novel. Di mana ceritanya membuat alis mengernyit dan ke kening berkerut. Jadi, cerita novel itu tentang seorang wanita. Sebut saja namanya Mawar. Mawar sedang menanti pernikahan dengan Kumbang. Tapi sehari sebelum pernikahan itu, Kumbang kecelakaan dan meninggal.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Kumbang berwasiat kepada Lebah, Kakaknya Kumbang, agar menikahi Mawar. Sementara kematian Kumbang, dirahasiakan dari Mawar. Mawar tidak tahu kalau Kumbang telah wafat.

Esok harinya pernikahan tetap dilangsungkan. Mawar menunggu di ruang tunggu saat akad nikah berlangsung. Dan betapa kagetnya ia mengetahui kalau ijab kabul bukan atas nama Kumbang, tapi Lebah. Namun, akad nikah telah terikrarkan. Lebah telah menjadi suami Mawar.

Pertanyaan saya, apakah memang sah pernikahan tersebut? Karena Mawar sebelumnya setuju kalau ia menikah dengan Kumbang tapi pada kenyataannya walinya menikahkan ia dengan Lebah? Apakah seorang wanita bisa menikah tanpa dimintai persetujuannya?

Di kampung halaman saya ada satu proses sesaat sebelum akad nikah yang dinamakan Bawali. Bawali adalah permintaan mempelai wanita kepada walinya untuk menikahkan dia dengan seorang pria. Redaksinya kurang lebih seperti ini.

“Abah, nikahakan ulun dengan seorang pria bernama fulan bin fulan.”

Pernah kejadian satu kerabat saya dijodohkan dengan seseorang yang tak ia kehendaki. Walaupun menolak tapi keluarganya tetap keukeuh buat melangsungkan pernikahan. Di hari H pernikahan, calon mempelai wanita itu tidak mau diminta untuk Bawali. Ia menolak. Padahal undangan sudah berdatangan dan pengantin pun sudah dirias.

Undangan pun ribut karena pernikahan molor dari jadwal. Akhirnya si calon mempelai wanita buka suara juga setelah dibujuk dan dirayu. Ia mau bawali. Menyampaikan permintaan pada walinya agar dinikahkan. Akad nikah pun berlangsung. Sayang pernikahan mereka tidak berlangsung lama

Mendapati peristiwa itu justru membuka wawasan saya. Peristiwa tersebut terjadi jauh sebelum saya menikah. Dari situ saya tahu kalau ternyata memang tidak bisa pernikahan dilangsungkan dengan dipaksa. Mempelai wanita punya hak untuk menolak. Dulu saya berpikir, kalau dipaksa menikah saya tidak punya daya upaya mencegah. Akad nikah hanya antara mempelai laki-laki dan wali. Ternyata tidak, mempelai wanita juga berhak menyuarakan keinginannya.

Pembahasan ini juga saya lemparkan ke salah satu grup WA dan mendapatkan tanggapan teman-teman. Ternyata ada hadist yang membahas tentang hal ini.

Hadist riwayat Abu Hurairah ra. :

Bahwa Rasulullah saw. bersabda : Seorang wanita janda tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai pertimbangan dan seorang gadis perawan tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai persetujuan. Para sahabat bertanya : Ya Rasulullah, bagaimana tanda setujunya? Rasulullah saw. menjawab : Bila ia diam. (Shahih Muslim No. 2543)

Hadist riwayat Aisyah ra. :

Dari Zakwan ia berkata : Aku mendengar Aisyah berkata : Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang seorang gadis perawan yang dinikahkan keluarganya, apakah ia harus dimintai persetujuan atau tidak? Beliau menjawab : Ya, harus dimintai persetujuan! Lalu Aisyah berkata : Aku katakan kepada beliau, perempuan itu merasa malu. Rasulullah saw. bersabda : Itulah tanda setujunya bila ia diam. (Shahih Muslim No. 2544)

Hadist lainnya :

Dari Ibnu Abbas ra. : Sesungguhnya ada seorang wanita (gadis) datang kepada Rasulullah kemudian menceritakan bahwa ayahnya telah menikahkan dia, tetapi dia tidak suka (pernikahan itu), maka Nabi Saw menyuruh dia untuk memilih (melanjutkan dilangsungkan pernikahan itu atau tidak),” (HR. ABu Dawud dan Ibnu Majah)

Dari tiga hadist di atas maka jelaslah kalau perempuan punya hak untuk dimintai persetujuannya, baik gadis atau pun janda.

Bagaimana dengan cerita novel yang saya ceritakan di atas? Saya tidak tahu sih bagaimana kelanjutannya karena hanya membaca 3 bab pertama yang bisa saya baca gratis di sebuah web. Tapi yang saya garisbawahi adalah kalau mempelai wanita harus dimintai persetujuannya dulu baru pernikahan bisa dilangsungkan.

والله أعلمُ بالـصـواب

18 thoughts on “Pernikahan tanpa Persetujuan Mempelai Wanita. Bolehkah?

    • Xixixi… Iya, Mas. Tapi kasian yg baca kalau beranggapan hal seperti itu bisa terjadi. Ntar anak gadis was2 kalau dinikahkan tanpa sepengetahuannya🙂

  1. kalau nggak salah ada kasusnya seorang sahabiyah yang dinikahkan ayahnya tanpa sepengetahuannya. trus dia lapor sama Rasulullah saw. tapi kemudian pas ditanya apa dia ridho buat dinikahkan jawabnya ridho. sahabat itu melapor cuma biar orang-orang tahu kalau perempuan juga punya hak suara dalam pernikahan. mungkin itu ya asal-usulnya hadits di atas

  2. kebanyakan kl dipaksa suka ga awet, syukur2 kl kasusnya bs tumbuh cinta seiring jalan, kl terus dlm kepura2an..cm makan hati dan jadi penyakit ..tertekan lah.

    • Betulll mbak. Walaupun di novel2 romance yg saya baca kebanyakan mereka saling jatuh cinta pada akhirnya dan menerima pernikahan itu. Tapi terkadang kenyataan tak seindah fiksi. Hehehe…

  3. iya bener harus melalui persetujuan emang perempuan boneka apa hey perempuan juga manusia justru nantinya perempuanlah yg lbh banyak berperan dlm rumah tangga tsb.
    tapi yaa mama saya dipaksa nikah sama si papa tapi awet sampe skr hehehe

  4. Gara says:

    Kira-kira nilainya adalah, maka kalau tak setuju, bersuaralah, begitu ya Mbak :)).
    Ah, fiksi. Memang eksplorasinya tanpa batas :hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s