Perjalanan Darat Lintas Provinsi

Minggu kemarin saya menempuh perjalanan darat Balikpapan-Barabai untuk pertama kali. Iya, pertama kali dari Balikpapan. Kalau Barabai-Balikpapan sih sudah berkali-kali via darat.

Perjalanan darat kali ini harus ditempuh karena mobil kagak ada yang ngurus selama suami bekerja di offshore. Kagak ada tempat buat dititipin juga. Jadi deh keputusan membawa mobil ke Barabai harus diambil dengan beberapa pertimbangan. Tadinya mau merencanakan pertengahan februari ke Barabai, namun karena satu dan lain hal jadi gagal.

Berhubung suami cuma punya waktu cuti yang sebentar jadi kakak saya lah yang ke Balikpapan menjemput dan pulang ke Barabai sama kakak. Tadinya si kakak bilang kalau mau pulang sekitar jam 10 pagi aja, tapi kemudian berangkat dari hotel lebih awal dari jam 10. Begitu selesai sarapan, mandi, dan beres-beres langsung deh tancap gas menuju penyebrangan feri di Kariangau.

Untuk menempuh perjalanan darat ke Kalsel via Balikpapan memang harus menyebrang pakai feri. Ada sih via jalan darat, tapi katanya sih lebih jauh dan agak rawan terhadap keamanan. Kata orang menyebrang di feri ini yang enggak bisa diperhitungkan berapa waktunya. Kadang bisa 3 jam antri buat masuk feri. Tapi Alhamdulillah kemarin sih lancar aja. Kami keluar feri sekitar jam setengah 12 siang. Hanya sekitar 1,5 jam deh menyebrangnya.

Oya, untuk mobil biaya menyebrangnya 264 ribu. Lumayan mahal ya. Kaget aja karena selama ini via darat pakai bus dan kalau nyebrang enggak pakai bayar lagi. Saya langsung membandingkan dengan harga tiket pesawat yang Cuma 300 ribuan udah dapat tiket Garuda Indonesia Balikpapan-Banjarmasin. Tapi naik pesawat enggak bisa bawa mobil. Hehehe….

Perjalanan pun berlanjut. Sebelumnya saya sempat ngecek di google map kalau perjalanan dari Balikpapan-Barabai sekitar 320 km. Kakak saya memperkirakan sebelum maghrib sudah bisa sampai rumah. Kenyataannya? Waktu yang kami perlukan ternyata lebih panjang dari perkiraan.

Awalnya sih jalanan mulus dan lumayan sepi jadi mobil yang kami tumpangi bisa melaju dengan kencang. Saat masuk waktu dzuhur, kami pun singgah buat menunaikan shalat dzuhur dan ashar sekaligus. Ketika melipat mukena saya berdoa semoga bisa shalat maghrib di rumah saja.

Perjalanan lintas provinsi Kaltim-Kalsel ini melewati beberapa kota kecil. Dan juga melewati hutan belantara. Sepertinya saat itu saya melewati paru-paru dunia. Berkali-kali saya berdecak kagum dengan keindahan yang tersaji di depan mata. Deretan pohon hijau yang lebat, gunung dengan kabut yang menyelimutinya, tebing tinggi yang mengagumkan, juga air terjun persis di tepi jalan. Beberapa kota kecamatan yang kami lewati juga menyuguhkan pemandangan yang luar biasa. Jalanan di kota kecil itu bersih dan ada gunung yang menjulang tinggi dalam pantauan mata kita.

DSC_0614

DSC_0628

DSC_0629DSC_0664DSC_0634DSC_0649

Air terjun di tepi jalan itu ada di Gunung Rambutan. Kami pun sempat singgah sebentar di sana. Saya membeli beberapa snack. Mama saya kaget waktu saya cerita tidak menyediakan satu snack pun di dalam mobil. Hahaha… Kok enggak kepikiran ya? Jadi, yang kami bawa Cuma air putih dan kopi kemasan aja. Ehem, foto-fotonya tidak terlalu mewakili indahnya panorama di sana. Maklum kameranya bukan kamera bagus :p

DSC_0617 DSC_0621

Dalam perjalanan sebelumnya yang saya tempuh dari Barabai-Balikpapan kami singgah buat makan siang di Kuaro. Namun, ketika sampai Kuaro, saya dan kakak masih tidak seberapa lapar. Jadi, kami memutuskan tidak singgah dan berencana makan di Tanjung Tabalong saja. Tujuan kami Wong Solo yang punya menu ayam penyet favorit saya.

Di tengah perjalanan beberapa kali suami bertanya via bbm sudah sampai mana, saya pun menjawab berdasarkan petunjuk yang saya baca di pinggir jalan. Sampai saat saya menjawab Tanjung Redap, suami langsung membalas ‘Di mana itu?’. Duh, saya langsung panik, khawatir kalau salah arah. Saya beritahu kakak saya yang kemudian juga ikut bingung. Tapi dia yakin aja menempuh perjalanan yang benar. Saya cek google map tapi jaringan sedang tidak bersahabat.

Kemudian di pinggir jalan ada tulisan Muara Komam. Saya pun memberitahu suami kalau kami berada di Muara Komam. Ealaah… Hapenya tidak bisa dihubungi. Kakak saya bilang, di ujung sana pasti ada kota karena banyak mobil yang berlalu lalang. Kalau salah arah kita menginap dulu di kota tersebut dan baru pulang esok hari karena saat itu hari memang sudah menjelang sore. Lagipula kakak saya tetap yakin kalau dia menempuh jalan yang benar karena banyak mobil dengan plat DA yang kami temui di jalan, prediksinya Kalsel semakin dekat.

Kemudian hape suami sudah bisa dihubungi dan dia membenarkan kalau Muara Komam termasuk jalur menuju Kalsel. Hehehe…. Legaaa😀 Tulisan Tanjung Redap itu papan nama apa gitu dan ada tulisan Cabang Tanjung Redap, jadi bukan Tanjung Redapnya yang kami lewati.

Perjalanan kami melambat saat sudah melewati Batu Kajang. Menjelang perbatasan Kaltim-Kalsel, mobil melaju pelan hanya 10-20 km/jam. Jalanannya rusak plus hari hujan. Jadi, lubang-lubang yang terisi genangan air di jalan harus dihindari karena tidak tahu seberapa dalam lubang tersebut.

Kakak saya sampai beberapa kali bercoleteh, dia tak habis pikir kalau jalan provinsi Kaltim-Kalsel sebegitu menggenaskan. Jalannya kecil, rusak-rusak pula. Padahal Kalimantan itu pulau kaya. Ke mana uangnya?

Setelah melewati gerbang perbatasan, Alhamdulillah jalanan kembali mulus. Kali ini kakak saya yang pembalap itu memacu mobil dengan cepat. Menjelang maghrib akhirnya kami sampai di Tanjung. Langsung menuju Wong Solo dengan keadaan perut sangat lapar. Dan oh betapa nikmatnya ayam penyet Wong Solo yang saya santap saat itu. Hehehe…. Setelah makan kami shalat maghrib di Islamic Center Tanjung. Setelah itu melanjutkan perjalanan lagi.

Sampai di Tanjung ini saya merasa sudah sampai. Mungkin karena kotanya sudah familiar buat saya. Apalagi ketika sudah melewati Paringin karena keluarga saya tiap minggu ke satu kawasan di Paringin. Saya dan kakak tiba di rumah bertepatan dengan abah yang pulang dari mesjid setelah menunaikan shalat isya. Setelah shalat isya dan sedikit berbincang dengan keluarga saya pun langsung tertidur. Tepaar. Pertahanan tubuh saya pun anjlok dan terserang batuk dan demam setelahnya. Saat ini pun batuk masih betah bertahan di tubuh saya. Heh, siapa suruh dalam perjalanan jauh dan kondisi lelah dan lapar malah minum es :p

9 thoughts on “Perjalanan Darat Lintas Provinsi

  1. Gara says:

    Wah, air terjunnya pas banget di pinggir jalan. Berundak-undak pula, unik. Betul-betul perjalanan yang sangat berkesan ya Mbak :hehe. Foto-fotonya juga keren, kabutnya rendah sekali di kejauhan!
    Tapi saya masih agak kurang nangkep yang masalah penyeberangan feri itu–jadi setelah menyeberang feri pun mesti menempuh 400km lagi ya Mbak? Hebat juga jauhnya ya… :hehe.

    • Iya. Air terjunnya unik banget. Dari tepi jalan kedengaran suara air jatuh. Adem dengarnya…
      Ralat ya.. Bukan 400 km. Hehhe.. 320 km aja. 400 km itu ternyata dri tempat tinggal sy di kota kecamatan di kaltim. Bukan dri Balikpapan. Kalau dari Balikpapan 320 km. 320 km dengan menyebrang feri🙂 iya. Setelah menyebrang feri lanjut perjalanan darat🙂

    • Ralat, Mbak. Bukan 400 km ternyata. 320 km aja. 400 km itu dari tempat tinggal saya di kota kecamatan di kaltim. Kalau dari Balikpapan 320 km. Saya lupa tadi malam😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s