Memiliki Pasangan Satu Almamater

Dulu saya pernah kepikiran, kalau saya tidak ingin menikah dengan seseorang yang punya latar belakang pendidikan yang sama dengan saya. Kenapa? Ngerasa enggak asyik aja. Kalau beda, banyak yang bisa kita gali di luar apa yang sudah kita pelajari. Lumayan bisa jadi bahan buat bikin cerita fiksi. Hihihi….

Tapi, keinginan tidak selalu sejalan dengan takdirNya. Saya justru menikah dengan seseorang yang latar belakang pendidikan yang sama. Dari kampus yang sama, fakultas yang sama dan jurusan yang sama. Bedanya dia masuk dan lulus 3 tahun lebih dulu dari saya.

Menyesalkah saya? Tentu saja tidak. Karena ternyata asyik juga menikah dengan seseorang yang pernah menimba ilmu di tempat yang sama dengan kita. Keasyikan pertama karena sudah familiar dengan lingkungan ketika dulu pasangan kuliah. Sedikit banyak tahu tentang teman-temannya. Ketika bertemu dan berkumpul dengan teman-teman suami, sementara mereka ngomongin tentang masa-masa kuliah, saya masih bisa nyambung ngikutin ceritanya. Karena sedikit banyak tahu tentang apa yang dibicarakan.

Keasyikan lain adalah saya asyik bertanya tentang berbagai hal terkait pelajaran waktu kuliah dulu. Jadi begini, saya mengklasifikasikan kalau dulu dalam perkuliahan ada 2 jenis mahasiswa, mahasiswa pelopor dan mahasiswa pengikut. Mahasiswa pelopor adalah mahasiswa yang ketika ada tugas dari dosen, dia akan mengerjakan dengan sepenuh jiwa. Di mana jawaban dari mahasiswa pelopor ini akan ditunggu oleh teman-temannya mahasiswa pengikut dan kemudian di salin beramai-ramai. Wkwkwk…

Mahasiswa pengikut adalah mereka yang mengerjakan laporan praktikum dengan mengerjakan bab 1 dan bab 2 yang berupa pembukaan dan landasan teori. Kemudian tugas lainnya adalah bikin cover praktikum, ngeprint dan ngejilid laporan. Sementara mahasiswa pelopor yang mengerjakan bagian bab 3 dan bab 4, semacam pembahasan dan perhitungan.

Mahasiswa pelopor adalah yang mengerjakan tugas besar berdasarkan ilmu yang dia dapat di bangku kuliah. Atau dari hasil belajar dari berbagai literature. Mahasiswa pengikut adalah ketika yang mendapatkan tugas besar maka dia akan mencari tugas besar milik kakak angkatannya yang klasifikasi tugas besarnya sama persis dengan tugas besar yang dia punya. Misal tugas besar struktur kayu dengan rangka nomor 2 dan atap kayu. Dia akan mencari yang sama persis dengan itu jadi tinggal mengganti bagian angkanya saja. Walaupun hal ini hanya berlaku kalau dia dapat asisten tugas besar yang ‘enak’. Karena ada asisten tugas besar yang melakukan wawancara pada mahasiswa sehingga mahasiswa itu harus paham bener apa yang dia kerjakan.

Nah, di sinilah perbedaan saya dan suami. Suami adalah tipe mahasiswa pelopor, sedangkan saya adalah tipe mahasiswa pengikut. Jadiiii… Ya gitu deh. Apa yang saya pelajari di kampus dulu banyak terbangnya daripada ingatnya. Sedangkan suami, dia terlihat  begitu menguasai konsep yang ada di masa perkuliahan dulu. Sampai sekarang saya masih sering menemui ada yang bertanya tentang konsep-konsep perhitungan waktu kuliah dulu pada suami. Baik itu teman seangkatan dia atau adik tingkatnya.

Sementara itu, saya juga sering bertanya banyak hal pada suami tentang konsep-konsep pelajaran yang pernah kami dapatkan di kampus dulu. Misal saat di jalan dan menemukan jalan rusak, saya bertanya mengapa bisa rusak. Faktor apa saja yang menyebabkan jalan rusak. Atau ketika ada proses  pengaspalan jalan, saya bertanya tahapan-tahapannya apa saja. Ketika ada gambar bangunan miring, saya juga bertanya mengapa bangunan itu bisa miring, bagaimana memperbaikinya, bagaimana mencegah agar bangunan tidak sampai jadi begitu.

Trus saya juga sering bertanya terkait tugas-tugas masa kuliah dulu. Mengapa orang merancang jalan harus berbelok-belok, tugas besar jalan raya dulu kita ngitung apaan, apa yang dimaksud dengan conjugate beam dan lain sebagainya. Barusan setelah jum’atan tadi suami kembali menjelaskan tentang Momen.

 Hihihi…. Lumayan lah bisa merefresh lagi pelajaran-pelajaran saat kuliah dulu. Walaupun sebenarnya alasan saya bertanya ini itu ke dia karena saya suka mendengar dia ngomong panjang lebar menjelaskan sesuatu. Hahahaha…. Dari dulu saya selalu suka kalau dia ngomong, saya tergila-gila dengan suaranya yang menurut saya cakep #halah :p,  tapi orangnya kan irit bicara, makanya harus dipancing pertanyaan yang kira-kira bakal dia jawab dengan jawaban yang panjang lebar. Hihihi….

Maka benarlah apa yang sering dikata orang kalau Allah memang memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan termasuk tentang jodoh.

17 thoughts on “Memiliki Pasangan Satu Almamater

  1. Gara says:

    Hihi, mengesankan betul ceritanya, Mbak. Kalian berdua serasi sekali, Mbak bisa belajar dari sang suami, dan sang suami juga bisa membagi ilmu kepada Mbak. Bukankah sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang dibagi dan berguna bagi orang lain?

    Saya jadi ingat ayah dan ibu saya yang juga memiliki kisah serupa, pernah ada di almamater yang sama, meski almamaternya SMP, cuma bedanya, ayah saya jadi guru, guru baru yang masih muda, sementara ibu saya adalah muridnya! (mereka beda 5 tahun, btw). Hihihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s