Belajar Menulis Cerita Anak

Ada yang kasih komentar di postingan saya yang ini, yang meminta saya mengajari cara menulis cerita anak. Wuiih, kalau disuruh ngajar tentu saya keberatan. Karena saya juga masih belum pinter. Ini juga masih tertatih-tatih belajar menulis cerita anak yang baik. Apalagi kalau dibandingin dengan penulis cerita anak yang lain, saya hanya butiran debu. Tapi, saya mau berbagi proses kreatifnya aja ya. Semoga bisa bermanfaat. Padahal sih catatan ini juga buat saya ingat juga proses kreatifnya. Hihihi…

Ada banyak hal yang bisa kita jadikan ide buat menulis cerita anak. Bisa dari pengalaman waktu kecil dulu. Bisa juga dari memperhatikan tingkah polah anak kecil di sekitar kita, baik itu adik, anak, ponakanan atau anak tetangga atau anak-anak yang kita temui di jalan. Bisa juga dari cerita kita orang dewasa tapi disajikan dengan bahasa anak-anak.

Saya pernah membaca salah satu cerita di majalah anak-anak, kalau enggak di Bobo atau Girls. Ceritanya tentang anak kecil seumuran anak TK yang suka berantem, sebut saja namanya A dan B. Trus anak kecil itu ngadu sama kakaknya masing-masing. A dan B juga punya kakak yang seumuran. Nah, kemudian kakaknya A dan B ini bertengkar buat membela adik masing-masing. Padahal adiknya udah baikan dan main bersama. Simpel kan idenya? Kalau anak kecil berantem, kita yang besar enggak usah ikutan. Karena ntar anak kecil dah pada baikan, yang dewasa masih pada sikut-sikutan.

Pernah juga saya membaca cerita di Bobo tentang seorang anak yang suka meminjamkan buku ke temannya. Tapi, bukunya tidak pernah dikembalikan. Ketika si teman minjam, dia terus saja meminjami. Temannya yang lain bilang dia harus bisa tegas, jangan dipinjamin kalau buku yang sebelumnya dipinjam belum balik. Tapi anak kecil ini enggak enak dan enggak tega gitu buat nagih buku yang dipinjam lama sama si teman.

Pada akhirnya dia nagih juga tuh buku. Ternyata si teman itu sengaja enggak balikin bukunya agar si teman berlatih buat tega menagih yang menjadi haknya. Jangan terlalu baik hati, kata si teman. Judul cerpennya kalau tidak salah ‘Baik hati’. Simpel juga kan idenya? Kejadian kita orang dewasa juga banyak kayak gitu. Tinggal kita aja yang bagaimana mengemasnya jadi bahasa anak-anak. Saya juga masih belajar.

Kembali ke cerita saya yang berjudul Kacamata Pak Rusdi. Cerpennya bisa dibaca di sini. Cerita itu terinspirasi dari pengalaman saya waktu duduk di kelas 5 SD. Wali kelas saya waktu itu orangnya penyabar sekali. Beliau tidak pernah marah meski anak muridnya nakal sekali. Saya dan teman-teman sekelas malah pernah protes kenapa Bapak itu enggak pernah marah. Hehehe… Padahal kami nakalnya kadang kelewatan juga. Suka ribut dan main di dalam kelas. Bapak itu tinggal di desa, saya dan teman-teman sekelas pernah datang ke rumah beliau dan diajak main di hutan belakang rumah beliau. Di sana kami memetik buah-buahan. Seruu.

Dari pengalaman masa kecil itu, saya mencoba menulis cerita anak. Inti dari ceritanya tentang guru yang sabar dan tidak pernah marah menghadapi kenakalan muridnya. Sebelumnya saya bikin pointer dulu buat ceritanya. Beberapa waktu yang lalu saya ketemu oret-oretan atau pointer saat menulis cerpen itu. Menulis pointer ini saya pelajari dari kelas menulis cerita anaknya Kang Ali Muakhir.

pointer kacamata pak rusdi

pointer kacamata pak rusdi

Tulisan saya sulit dibaca? Saya ketikkan ulang :p

Kacamata Pak Guru (Judul) – Pecah – kena bola – Pak Guru tidak marah – merasa bersalah – pengin ganti (how?) – bukan ganti tapi ngaku dan janji enggak main bola lagi

Itu pointer awalnya. Dan cerita bisa berkembang saat kita menulis, jadi pointer hanya panduan awal saja. Di kelas Penulis Tangguh, saya belajar tentang membelokkan cerita. Mengubah cerita supaya tidak ditebak oleh pembaca tentang bagaimana alurnya juga endingnya. Membelokkan cerita itulah yang saya pakai di cerpen Kacamata Pak Rusdi. Sehingga ceritanya jadi begini :

Main di kelas – kacamata pak guru pecah – Pak Guru tidak marah – merasa bersalah – patungan buat ganti – uang patungan tidak cukup – pak guru datang dengan kacamata baru – uang tetap diserahkan – pak guru memaafkan dan salut dengan muridnya yang bertanggung jawab – uang buat kas sekolah atau buat acara masak-masak.

Belokan cerita yang saya gunakan ada pada bagian uang patungan tidak cukup dan Pak Guru datang dengan kacamata baru. Kalau misalkan saya menulis cerita dengan alur uang patungan cukup dan kemudian mereka membeli kacamata baru dan pak guru menerimanya, ceritanya jadi lempeng dan mudah ditebak kan?

Lagian, seberapa sih uang saku anak-anak apalagi yang dijadikan patungan hanya uang sisa jajan mereka. Jadi, saya pikir tidak cukup buat beli kacamata dari uang patungan mereka saja. Makanya saya mengambil jalan cerita uang patungan mereka tidak cukup.

Kemudian satu cerpen saya lagi yang dimuat di Bobo dengan judul Kue Istimewa. Idenya dari mana ya? Mikir dulu. Hihihi… Sepertinya idenya dari pelajaran yang ingin disampaikan. Bahwa mereka yang pintar akan sesuatu tapi malas mengasah kemampuannya, akan bisa dikalahkan oleh mereka yang sering dan rajin latihan. Awalnya ingin menulis dongeng atau fabel, saya membuat pointer seperti gambar di bawah. Tapi, karena saya masih kesulitan menulis dongeng atau fabel jadi kembali deh ke manusia beneran yang jadi tokohnya.

pointer kue istimewa

pointer kue istimewa

Ceritanya jadi gini : 3 sepupu Caca, Rara, dan Tita. Caca dan Rara diajarin bikin kue – Kue Caca enak, kue Rara masih ada kekurangan – Tita mencicipi kue bikinan Caca – Tita suka – Tita selalu bertanya kapan bikin kue lagi – Caca bilang kuenya kue istimewa dan tidak setiap saat dia bikin kue itu – Ada perlombaan bikin kue – Caca ikut – Caca diminta mamanya latihan – Caca malas – Hari perlombaan Rara juga ikut – Yang menang ternyata Tita – Karena Tita suka sama kue itu jadi dia berlatih buat bikin kue seperti yang dibikin Caca – Caca kalah karena lupa takaran gula.

Saya membelokkan cerita pada bagian yang menang lomba. Bukan Rara atau Caca yang menang, tapi Tita yang sebelumnya tidak ikut diajarin nenek bikin kue.

Begitulah proses kreatif 2 cerpen saya yang pernah dimuat di Bobo. Saya menuliskan ini bukan karena saya udah jago dan pintar, tapi semata-mata ingin berbagi proses kreatif buat sama-sama belajar. Karena sampai detik ini saya juga masih kerap nge-blank kalau mau nulis cerita anak. Kadang kesulitan dapat ide, kadang juga kesulitan mengeksekusi ide yang sudah ada. Atau merasa garing dengan cerita yang tulis. Masalah klasik lah. Hehehe….

Ini cerpen saya yang judulnya Kue Istimewa. Dimuat di Bobo Nomor 37 Tahun XLII yang terbit tanggal 18 Desember 2014. Selamat menikmati Kue Istimewa eh cerpennya😀

image

Kue Istimewa

Oleh : Hairi Yanti

 

“Tadaaaa…” Caca membuka kotak yang dibawanya.

“Kue wortel istemewa bikinan Caca.” Katanya sambil menyodorkan kotak itu ke arah mama dan papa. Keduanya langsung mengambil sepotong kue wortel.

Caca melihat mama mengunyah pelan kue wortelnya. Caca tersenyum menunggu komentar dari mama dan papa.

“Ini enak banget, Ca,” seru Mama. Senyum Caca semakin melebar.

“Mirip sekali dengan kue wortel bikinan nenek,” kata Papa. Caca tersenyum puas mendengarnya. Caca dan sepupunya Rara memang belajar bikin kue wortel dari nenek. Setelah beberapa kali membantu nenek membikin kue wortel sambil belajar, nenek menyuruh Caca dan Rara membikin sendiri.

Kue bikinan Caca mendapat pujian dari nenek. Sementara pada Rara, nenek bilang ada beberapa kekurangan di kue yang dibikin Rara.

“Masa sih mirip sama kue bikinan nenek? Aku mau nyicip.” Tita sepupunya tiba- tiba muncul. Tita mengambil sepotong kue wortel. Matanya terbeliak setelah mengunyahnya pelan.

“Iya, Ca. Ini enak banget. Mirip dengan kue bikinan nenek.” Caca tersenyum senang mendengarnya.

“Kamu sih nggak ikutan belajar bikin kue juga.” Kata Caca. Caca, Tita dan Rara memang tiga cucu nenek yang usia mereka hampir sama.

“Aku lebih suka makan, Ca.” Jawab Tita sambil tertawa. Caca juga ikut tertawa. Hari ini dia senang sekali bisa bikin kue yang enak. Lebih enak dari punya Rara.

“Caca, kapan kamu bikin kue lagi?” Pertanyaan Tita ini sering sekali didengar Caca. Semenjak Tita memakan kue yang dibikin Caca, Tita selalu bertanya dan bilang ingin mencicipi kue Tita.

“Nanti lah, Ta. Aku masih sibuk,” elak Caca.

“Aku pengin banget makan kue bikinan kamu, Ca. Enak banget. Tapi kamu nggak pernah bikin lagi.” Kata Tita lagi. Caca tertawa.

“Itulah namanya kue istimewa, Tita. Kalau tiap hari nanti nggak istemewa lagi.” Kata Caca. Tita cemberut mendengarnya. Dia sudah sangat ingin menikmati kue wortel kesukaannya itu. Nenek sudah jarang sekali membuatnya. Nenek bilang sudah mengajari Caca dan Rara bikin kue itu. Nenek sudah tua dan suka cepat lelah kalau memasak.

“Caca, ada perlombaan bikin kue. Caca mau ikut?” Mama bertanya pada Caca. Mama membawa selebaran berisi informasi perlombaan bikin kue. Ada lomba bikin kue untuk anak-anak di kelurahan.

“Iya, Ma. Caca mau ikutan. Caca pasti menang. Kue bikinan Caca kan enak Ma,” kata Caca setelah membaca selebaran itu. Mama tersenyum mendengarnya.

“Iya, kue bikinan Caca enak banget. Nanti mama belikan bahan-bahan buat Caca latihan bikin kue sebelum lomba, ya.”  Kening Caca berkerut mendengar perkataan mama.

“Nggak, Ma. Caca nggak perlu latihan, kok. Caca masih ingat betul bagaimana cara bikin kuenya. Mama jangan khawatir, Caca pasti menang.” Caca meyakinkan mama.

Hari yang dinanti pun tiba, perlombaan digelar di sebuah aula. Di sebelahnya ada Rara yang juga sedang sibuk bersiap-siap.

“Halo, Rara. Ikutan juga?” Caca menyapa Rara. Rara tersenyum ke arah Caca.

“Iya, Ca. Sayang sekali kalau nggak ikutan. Bisa nambah pengalaman ikutan lomba,” kata Rara dengan riang. Caca hanya tersenyum tipis. Dalam hati Caca bilang kalau Rara akan kalah dari dia. Dulu saja kue bikinan Rara tidak seenak dibandingkan dengan kue bikinan Caca.

Perlombaan pun dimulai. Semua peserta sibuk dengan kocokan telur, tepung, margarien dan aneka bahan makanan lain. Sesekali Caca melirik ke arah Rara yang terlihat sangat serius.

Sejam kemudian, wangi kue-kue buatan peserta sudah mulai tercium. Satu per satu para peserta mengumpulkan kue bikinan mereka ke meja juri. Caca sempat kaget saat melihat Tita juga ikut dalam perlombaan.

“Aku tadi datang telat dan dapat tempat di belakang,” jelas Tita ketika Caca bertanya.

“Sejak kapan kamu bisa bikin kue?” Caca bertanya lagi dengan nada heran.

“Karena kamu nggak pernah bikinin aku kue wortel lagi, Ca. Jadi, aku belajar dari mamaku. Nenek pernah ngajarin mama,” jelas Tita. Pembicaraan mereka berhenti ketika MC mengatakan kalau pemenang lomba akan diumumkan. Wajah tegang terlihat di hampir semua peserta.

“Dan pemenang pertama untuk perlombaan kali ini adalah…” MC sengaja memberi jeda dalam kalimatnya. Kemudian berkata dengan suara lantang.

“Titaaa… Selamat buat Tita. Kue wortelnya enak sekali kata para juri.” Tita melompat senang mendengarnya. Caca terdiam di tempatnya. Wajahnya murung menyadari kue buatan Tita lebih enak dari yang dia bikin.

“Aku mencoba terus bikin kue wortel sampai bisa seenak bikinan Caca,” kata Tita. Sementara para juri memberikan penjelasan kenapa kue Caca tidak menang. Caca kebanyakan memasukkan gula. Caca lupa takaran gula yang benar karena tidak pernah berlatih bikin kue.

***

 

 

13 thoughts on “Belajar Menulis Cerita Anak

  1. Duh… uni pengen deh bisa share proses kreatif kayak yanti ini. Btw, ide pointernya menarik. Uni bikin juga tp lebih ke sinopsis. Btw.. good job yanti. Tertarik nulis novel Anak? Hehehe

    • Ditunggu Uni cerita proses kreatifnya. Ynt udah baca cerpen balon warna warni di Bobo🙂
      Tertarik Uni buat nulis novel anak, tapi kemarin ga lolos di kelas Permen. Hihihi… Jadi mau latihan nulis2 cerpen dulu😀

  2. Duuuh…
    Keren banget sih Yantiii..
    Memang sih cerita anak jalan ceritanya harus sederhana sehingga mudah dimengerti, tapi teapi tetap harus ada twist nya juga biar seru yah Yan🙂

    Ayooo lanjutkaaaan🙂
    Suka ikutan bangga kalo ada temen yang tulisannya bisa tembus ke media deh🙂

    • Belum kereeen, Bibi… Masih tertatih2 ini belajarnya. Hihihi…. Iya, Bi. Supaya anak2 suka, redaksi juga tertarik. Duh lupa kemarin istilah kerennya twist ending ya. Doakan ya, Bi, bisa nembus bobo lagi. Ini kirim email ke Bobo mental mulu. Dikejar pakai pos aja deh😀

  3. Animayuni says:

    Wah keren cerpennya ka. Oh iya kalau ngirim crpn ke bobo lwt pos, nulis kata pengantar dan biodata penulisnya dmna ya? Nyambung sma crpen atau gimana ka? Mohon dijelaskan, krna sy penulis pemula kak, hehe

    • Saya biasanya menulis kata pengantar satu lembar aja untuk semua cerpen. Sekadar pemberitahuan kalau saya mengirimkan cerpen dan menyebutkan judul2 yang saya kirim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s