Promo Buku Paling Yahud

Saya dan suami senang mencoba tempat-tempat kuliner baru. Eh, sebelum diprotes suami saya ralat sedikit. Saya suka mencoba tempat-tempat kuliner baru dan sebagai pendamping yang baik suami saya senang-senang saja dengan hobby saya ini. Dia jadi teman buat nyicip tempat makan baru plus sponsor utamanya, yang ngebayarin dia. Hihihi….

Dalam mencoba tempat-tempat makan itu, biasanya setelah makan kami akan mengambil kesimpulan akan tempat makan itu. Ada tempat makan yang akan kami datangi lagi, ada tempat makan yang Cuma sekadar tahu saja bagaimana rasa masakan di sana dan tidak berminat balik lagi, ada juga yang 50 : 50, enggak niat balik sana tapi kalau lagi pengin ke sana ya boleh aja sih makan di sana. Dalam hal ini masalah rasa dan harga memang jadi pertimbangan utama. Kalau rasanya cocok alias enak, dan sesuai dengan harganya, maka ada kemungkinan kami bakal balik lagi makan ke sana.

Masalah rasa tentu juga berhubungan erat dengan selera. Jangankan saya dan orang lain, dengan suami pun kadang masalah selera ini beda. Misal saya lebih suka segala sesuatu yang dibakar, menurut saya bumbunya lebih terasa dan meresap dengan dibakar. Kalau suami, lebih suka yang digoreng. Saya suka dengan kepiting, suami enggak terlalu doyan. Katanya ribet makan kepiting, enakan kepiting soka langsung hap hap hap. Makanan ini sebelas dua belas dengan buku. Mari topik kita alihkan ke tentang promo buku.

Bicara tentang promo buku memang tidak ada habis-habisnya. Selama buku masih dicetak dan dipasarkan, buku akan terus dipromokan. Para penulis dan penerbit pun mencari cara paling jitu buat promo. Ada banyak cara, misalkan dengan mengadakan kuis, menceritakan tentang buku di media sosial, mengadakan lomba resensi, memberikan buku gratis buat para blogger buat dipromokan, dan banyak lagi.

Lalu, promo buku seperti apa yang paling berhasil buat saya? Saya memposisikan diri sebagai pembaca dan pembeli buku yang punya hobi belanja buku. Kalau dalam rentang waktu tertentu belum ada buku baru rasanya ada sesuatu yang tak sempurna #halah.

Belanja buku itu butuh uang… duileee… Semua orang juga tahu. Dan uang didapatkan dari hasil keringat, bukan metik doang di kebon belakang rumah *padahal belum punya kebon :p*

Jadi, dalam membeli buku tentu saja saya tidak semberangan beli buku ini dan itu tanpa perhitungan. Saya tentu saja tidak ingin merugi dalam membeli buku. Saat membeli buku, saya ingin mendapatkan suatu bacaan yang memuaskan saya. Bukan buku yang saya tutup dengan bergumam “nyesal deh beli buku ini” atau buku yang tidak bisa saya tamatkan karena saking bosannya membacanya atau saking sebalnya dengan isi di dalamnya.

Jadi, promo buku yang paling yahud versi saya adalah isi buku yang bagus. Hahaha… Garing banget ya :p Semua orang juga tahu itu :p Seperti makanan, jika rasanya enak maka kita akan balik lagi ke tempat makan tersebut.

Mengapa saya membeli buku Orizuka sampai belasan buku dalam jangka waktu satu tahun? Oke, ini pertama berdasarkan rekomendasi Mbak Dhani. Tapi, kalau setelah membacanya merasa bukunya nyebelin dan tidak istimewa, tentu dunk saya tidak akan membelinya lagi dan lagi.

koleksi buku Orizuka yang saya beli sepanjang tahun 2014

koleksi buku Orizuka yang saya beli sepanjang tahun 2014

Saya membaca Summer Breeze, Meet the Sennas dan Audy : 4R untuk pertama kalinya. Saya suka ketiganya dan merasa itu novel emang bagus banget. Saya pun memburu lagi karya-karya Orizuka yang lainnya. Begitu pun dengan penulis-penulis yang namanya saya buru. Dulu saya dipinjamkan teman buku Windry Ramadhina yang berjudul Memori. Buku yang sangat bagus sekali. Saya terpesona membaca isinya. Jadinya, saya mencari buku Windry yang lain seperti Interlude, Metropolis, Montase, dll. Walaupun karya sesudahnya belum bisa sebagus Memori, tapi saya tidak pernah kecewa membaca karya Windry yang lain.

Begitu juga dengan Tere Liye, kalau Hafalan Shalat Delisa yang pertama kali saya baca tidak bagus, saya mungkin tidak akan membeli karyanya yang lain. Tasaro GK juga begitu, Ifa Avianty juga begitu. Karena karya sebelumnya yang saya baca dari mereka itu bagus dan keren jadilah saya kemudian tak berpikir panjang lagi untuk membeli karya mereka selanjutnya.

Senada dengan makanan, jagalah kualitas rasa agar pelangganmu akan datang lagi dan lagi. Begitu juga dengan buku, berikanlah karya berkualitas untuk pembaca, dengan begitu maka pembaca seperti saya akan memburu karya selanjutnya tanpa perlu promo yang jor-joran atau yang bagaimana. Hanya cukup mengetahui kalau dia mengeluarkan karya, sudah cukup untuk membuat saya rela merogoh uang buat membelinya. Kalau karya sebelumnya sudah ya gitu deh, kan jadi malas buat beli karya setelahnya.

Namun, saya juga menyadari kalau ada proses yang harus ditempuh seorang penulis. Bisa jadi karyanya yang pertama bukan karya terbaik, masih bolong sana sini dan perlu perbaikan di sana sini, dan karya-karya selanjutnya lebih baik. Saya pernah membaca karya seorang penulis terkenal saat dia masih awal-awal mengeluarkan buku, dan ketika saya membacanya saya maklum kalau karya perdananya itu tak sebagus karyanya sekarang. Tentu saja karena dia telah melewati proses berkembang dan meningkatkan kualitas. Tapi, kalau kualitasnya masih segitu-segitu aja setelah berkali-kali melahirkan karya…. Jangan salahkan pembaca kalau tak melirik bukunya lagi.

Dengan sebuah karya yang bagus, kita juga akan mendapatkan testimoni dan komentar yang bagus terkait buku kita. Dari review di blog atau goodreads misalkan. Dan testimoni itu bisa jadi alat promo buku yang paling bagus.  Walaupun dalam masalah suka atau tidak suka ini, selera juga bicara. Sama dengan makanan, jangankan sama orang lain, dengan suami sendiri aja bisa beda banget seleranya. Dalam hal bacaan saya dan suami juga punya selera yang beda. Saya lebih suka romance-romance gitu, sementara suami lebih suka fantasi😀

8 thoughts on “Promo Buku Paling Yahud

  1. Aku penulis yang setahun nukar 3 bukunya itu kevin alan milne. Pertama nukar bukunya di bazar murah dan ternyata isinya bagus. Pas datang lagi ke tokonya sekalinya bukunya didiskon tarus. Nukar ae lagi😀

  2. iya sih, kalo kualitas bukunya bagus dan sreg di hati, biar kata gak pernah di promo in juga tetep aja kita pengen beli yah🙂

    Aniwei, seri orizuka emang bagus yah? sering lihat di gramed tapi belum kepengen beli sih…
    Coba ntar diintip2 dulu ah🙂

    • Iya, Bi. Kalau enggak dengar promonya kita malah merasa ketinggalan kalau bukunya terbit kita enggak dengar kabar. Kayak drama Aa Lee Min Ho juga kan, Bi. Enggak perlu dipromoin kita udah nyari aja. Hihihi….

      Tergantung selera, Bi, kalau Orizuka. Soalna ada teman yang bingung kenapa saya suka Orizuka. Coba intip Chronicle of Audy, Bi. Itu seru😀 Bakal 4 buku sih. Baru keluar 2 buku.

  3. Gara says:

    Suara pembaca seperti ini yang seharusnya juga diindahkan oleh para penulis :hehe
    Kalau saya… karena belum pernah ikut promo sebelum-sebelumnya jadi kurang tahu :hihi, tapi memang benar, sebagian besar buku yang saya baca (dan saya akui bagus) juga saya peroleh informasinya dari review atau tulisan teman di blog :hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s