Assalamualaikum, Cinta… Eh Beijing…

Tadinya saya tidak terlalu berminat menonton film ini, bukan karena apa-apa, tapi ke Balikpapannya itu kadang yang bikin males. Namun, beragam review yang bertabur pujian dan apresiasi terhadap film ini membuat saya penasaran juga. Saya bahkan sampai googling dengan keyword Assalamualaikum Beijing filmnya jelek dan enggak seru demi mendapatkan review yang bisa mematahkan keinginan saya buat nonton. Tapi sayangnya review yang seperti itu tidak saya dapatkan. Yang ada hanya puja dan puji terhadap film tersebut. Dan kemudian menontonlah saya…

image

Asmara Nadia *namanya mirip banget sama penulis novelnya* (Revalina S Temat) menggagalkan pernikahannya yang sudah di depan mata dengan Dewa (Ibnu Jamil). Dewa mengkhianatinya, khilaf berbuat dosa dengan seorang wanita yang membuat wanita bernama Anita itu mengandung anaknya. Patah hati? Tentu. Dan Asma pun membawa luka hatinya kepada satu negeri yang asing baginya, Tiongkok. Di sana dia bertugas di salah satu kantor berita perwakilan Indonesia untuk Beijing. Asma menulis sebuah kolom dengan judul : Assalamualaikum, Beijing. Kolom bersambung yang hadir setiap minggu.

Di Beijing, Asma disambut oleh Sekar dan Ridwan, suami istri yang menjadi sahabatnya. Di Beijing pula lah Asma tak sengaja bertemu di Bus dengan seorang pemuda Tiongkok yang tampan rupawan bernama Zhong Wen. Sekar yang mendapat cerita tentang Zhong Wen dari Asma berandai-andai kalau nantinya Zhong Wen yang dipanggil Sekar dengan Chong-chong ini akan berjodoh dengan Asma. Sekar pun diingatkan suaminya kalau Asma dan Chong-chong tidak seiman. “Yang penting itu seiman, kalau enggak, ribet urusannya belakangan.”

Setelah beberapa kali pertemuan tak sengaja yang tak sempat membuat mereka saling bertatap muka, emm.. maksudnya gini… Ada Zhong Wen yang melihat Asma tapi Asma enggak melihatnya. Atau Asma yang melihat Zhong Wen, tapi Zhong Wen juga ternyata tidak melihat kehadiran Asma. Tapi pada akhirnya mereka bisa benar-benar ketemu. Zhong Wen akhirnya menjadi guide Asma untuk berjalan-jalan di Beijing. Dialog mereka tentang agama dan hidup pun berlangsung juga sebuah dongeng yang disampaikan Zhong Wen kepada Asma. Tentang Ashima, puteri nan cantik jelita dari negeri Yunan. Zhong Wen pun memanggil Asma dengan Ashima.

Suatu hari Zhong Wen mengajak Asma untuk ke Yunan, melihat patung Ashima. Namun, rencana itu gagal karena Asma pulang ke Indonesia secara mendadak. Asma divonis menderita sindrom APS. Antiphospolipid Syndrome (APS) atau Sindrom Darah Kental memang belum begitu dikenal oleh masyarakat luas. Penjelasan sederhana dari sindrom itu adalah darah yang terlalu cepat mengental. Jika darah mengental, maka akan menyumbat di bagian tubuh tertentu. Jika darah menyumbat di ginjal, yang terjadi adalah penderita APS akan terkena penyakit ginjal. Jika penggumpalan darah terjadi di mata, mata akan mengalami gangguan penglihatan sampai kebutaan. (Halaman 163) *sumber dari novel Assalamualaikum Beijing. Reviewnya bisa dibaca di sini.

Sedangkan Dewa walau sudah menikah juga tak berhenti mengejar Asma. Pernikahannya dengan Anita adalah sebuah kecelakaan dan keterpaksaan. Dewa akan menceraikan Anita pada saatnya dan kembali pada Asma. Dewa bahkan mendatangi Asma ke Beijing.

Sudah cukup cerita tentang filmnya. Sekarang kita menuju ke tugas penonton sebagai komentator. Wkwkwk…. Kata beberapa review yang saya baca, ketika menonton ini siap-siaplah dengan tissue. Sebelum menonton saya dan suami sempat belanja dulu di sebuah mart dan ketika melirik bagian tissue, saya bertanya ke suami, apa perlu beli tissue buat nonton Assalamualaikum, Beijing? Jawab suami saya. Tidak perlu.

Dan benar saja, saya tak perlu tissue karena saya hanya menangis di bagian Sekar datang saat Asma sakit. Saat Sekar merentangkan tangannya dan bilang pada Asma “Aku sudah jauh-jauh datang dari Beijing, kenapa tidak dapat pelukan dari kamu, Ma?” Asma pun seperti mendapatkan suntikan semangat untuk berjalan dengan sangat tertatih karena penyakitnya ke arah Sekar.

Keindahan Beijing dan negara Tiongkok juga tereksplorasi dengan sangat baik di film ini. Belum lagi narasi yang ada di film yang menjelaskan tentang sejarah Islam di negeri Tiongkok. Islam termasuk agama yang diakui di sana walau jumlah pengikutnya paling kecil. Dan beberapa penjelasan lain yang bisa menambah wawasan kita.

Nilai islam memang lumayan kental di film ini. Seperti saat Zhong Wen mengulurkan tangannya pada Asma namun disambut Asma dengan tangkupan tangan saja. Pada satu kesempatan Asma menjelaskan tentang hukum bersentuhan dengan lawan jenis. Begitu juga dengan komentar Ridwan tentang harus seiman untuk pernikahan. “Yang penting seiman. Romantis itu belakangan.”

Begitu juga jilbab yang dipakai oleh Asma, Sekar dan ibunya Asma. Walau tidak terlalu lebar tapi cukup menutup dada. Dan sangat modis. Wekekeke… Cakep-cakep deh Revalina dan Claudia C Bella makai jilbab, pada dasarnya orangnya udah cantik yeee… Dijilbabin ya tambah cakep. Saya juga suka dengan chemistry antara Sekar dan suaminya Ridwan yang diperankan serius oleh Desta.

Soundtrack yang dinyanyikan oleh Ridho Rhoma juga tampil menawan dan menyelip dengan sangat baik. Mungkin karena saya sudah familiar dengan lagu tersebut karena beberapa kali ngeyoutube lagu itu. Banyak kutipan-kutipan cantik yang akan cakep buat dijadikan status. Begitu pun dengan penjelasan media tentang sindrom APS ini juga bisa menambah wawasan yang menonton.

Sosok Asma di film juga tak lepas dari dunia tulis menulis. Dia menulis kolom di Koran tentang Beijing, juga menulis novel. Saya suka banget saat Asma berhadapan dengan laptop. Merasakan kalau mereka yang menulis itu keren sekali. Saat itu juga saya rasanya ingin menulis. Hahaha…. Oya, ada satu adegan yang menggambarkan kalau Asma membaca buku. Anehnya buku yang dibaca bukan buku karangan Asma Nadia, tapi karya Hanum Rais yang berjudul Bulan Terbelah di Langit Amerika. Saya jadi curiga kalau buku itu akan difilmkan dalam waktu dekat.

Namun, entah sepertinya saya belum bisa move on dari film Merry Riana yang saya tonton seminggu yang lalu. Yang ada saya malah ngebandingin tuh film. Karakter Zhong Wen yang baik luar biasa tak cukup untuk membuat saya jatuh cinta pada karakternya. Mungkin karena karakter tokoh di film Merry Riana tergali dengan baik sehingga saya jatuh cinta dengan karakter Alva. Dan di Merry Riana lebih terasa manusiawi karena ada baik dan buruknya diperlihatkan.

Semisal sosok Alva. Itu sosok yang baik hati sekali. Tapi baiknya Alva itu masih manusiawi, ketika Merry minta jaminan padanya, Alva tak serta merta menerima. Begitu pun saat Merry terlalu bernafsu dalam berbisnis dan hanya berpikir uang, uang dan uang, Alva bisa marah dan meninggalkan Merry.

Sementara di Assalamualaikum Beijing, Zhong Wen dan Asma adalah sosok makhluk sempurna, tanpa dendam, tanpa cela. Selain fisik Asma yang melemah karena kesehatannya, Asma adalah sosok yang baik hati. Bahkan terhadap Dewa yang menghianatinya. Saat Sekar marah akan kehadiran Dewa, Asma justru tetap ingin menemui Dewa. “Jarak antara Jakarta dan Beijing itu enggak dekat, Kar.”

Pada saat menonton, penonton di sebelah saya beberapa kali nyelutuk. Misalkan, saat Dewa tetiba muncul di depan Zhong Wen dan Asma, dia bilang “Beijing kecil kali ya. Bisa aja Dewa ketemu sama Asma di jalan.”

Kemudian saat Dewa mengantar Zhong Wen dan Asma ke satu tempat, dia nyelutuk lagi. “Ih, kayak hafal banget deh Dewa sama kota Beijing.” Di sana Dewa memang menyetir sendiri. Walaupun saya masih memaafkan adegan ini karena disampingnya ada Zhong Wen sebagai pemandu jalan walau tidak ditampakkan dalam tayangannya Zhong Wen menunjukkan jalan. Tapiii yang bikin saya eneg, enggak penting banget sih Zhong Wen minta antar Dewa padahal dari sikap tubuh Asma, jelas-jelas Asma sudah menolak kehadiran Dewa.

Jika di film 99 Cahaya Eropa yang banyak dikritik saat tokohnya menyuap makanan dengan tangan kiri, maka di film ini saya menemukan saat salah satu tokohnya minum sambil berdiri. *ada ajaaa ya kalau mau ngasih kritik*

Kesimpulannya film ini bagus. Tapi tidak seseru ekspektasi saya ketika membaca komentar banyak pihak. Mungkin karena saya sudah baca novelnya jadi yaaa….. gitu deh…. Kalau saya bilang saya jauh lebih suka dan merasa Merry Riana the Movie lebih bagus, jangan-jangan bakalan ada yang nyerang saya dan bilang saya tidak mendukung film islami. Ada yang bakal bilang gitu? :p

20 thoughts on “Assalamualaikum, Cinta… Eh Beijing…

    • Moga nanti bisa nonton di TV ya mbak… film Indonesia jarang bertahan lama di bioskop. Tapi penontonnya lumayan banyak nih assalamualaikum beijing.. siapa tahu bakalan lama di bioskop

  1. Duh, banyak film2 indonesia bagus2 yaaa sekarang. Udah lama banget ga nonton di bioskop indonesia. Saya kayaknya sepakat Mak, kebanyakan karakter tokoh di film2 islami gini sempurna bangeet. Sholeh sholehah tanpa cela. Bukannya ga suka sih, di kehidupan nyata memang ada juga orang yg seperti itu. Tapi berasa ga manusiawi gitu kali ya. *maunya apa sih?*😀
    Tapi saya tetep pengen nontooon. Penasaran. Kira2 ni film bakal ada di youtube ga yaaa? Haha😀

    • Kykna bakal ada deh Mak ntar di youtube. Paling beberapa bulan lagi keluar. Ini produsernya sama dgn 99 cahaya kalau ga salah… belum 1 tahun biasanya dah tayang di tv. Iyaaa mak…. terlalu sempurna jadi ya gimana gitu kita lihatnya ya. Apalagi abis dikhianatin dgn menghamili cewek lain.. lempeng banget maafinnya… hihihi…

  2. Swastika Nohara says:

    Nggak mendukung film Islami? hahaha…. ada2 aja deh. Aku rasa, bebas lah soal selera film, mana yg kita suka ya tonton🙂

    • Nah setuju banget saya mbak. Film kan soal selera. Lagian kritik juga tetap diperlukan biar lebih bagus lagi filmnya. Jangan bertabur pujian aja dan kemudian terlena dengan pujian🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s