Cerita Anak Kalimantan

Beberapa teman di medsos share salah satu postingan yang ada di http://www.hipwee.com yang berjudul Cuma Anak-anak Kalimantan yang Merasakan Pergulatan Batin ini!

Sebagai anak Kalimantan, setalah membaca itu saya jadi kepikiran banyak hal dan ingin ngebahas postingan tersebut. Semacam kurang kerjaan :p

Point 1. Saat tahu asalmu dari Kalimantan, banyak orang mengira kamu anak orang kaya —>

Berhubung saya mendekam di Kalimantan tercinta mulu jadi untuk point pertama ini enggak ngerasain dikira anak orang kaya :p

2. Kayaknya jarang banget ada orang luar yang tahu rasanya hidup di pulau itu. Banyak orang komentar, “Ya ampuun…rumahmu di hutan dong?”

Ini pernah sih ngerasain. Karena saya anak Kalimantan, dikira saya mainnya di hutan atau jalan-jalannya ke hutan. Hutan memang ada sih di dekat saya tinggal, atau di kampung nenek saya. Tapi, saya enggak ikut menjelajahi ke sana. Kalau dari perjalanan Banjarmasin-Barabai atau Balikpapan-Handil memang terkadang melewat hutan, tapi enggak hutan melulu juga. Kebanyakan malah sawah dan pemukiman. Dan cuma sekadar lewat aja, bukan main ke sana. Enggak pernah juga lihat Harimau tiba-tiba muncul waktu lewat :p

Kampung halaman saya ada di Kabupaten dengan nama Hulu Sungai Tengah dan seringnya mereka mengira kalau di sana itu jalan yang bisa dilewati hanya di air. Muehehe… Jadi ingat cerita abah saya katanya ada dokter yang ditugasin ke daerah saya, dan mereka bawa perahu karet. Entah benar atau tidak cerita itu.

Walau namanya Hulu Sungai, transportasi ya tetap di darat. Yang namanya perahu melewati sungai udah jarang banget di daerah saya. Mungkin karena sungainya kecil. Pengalaman saya naik kelotok (perahu kecil bermesin) hanya waktu saya ke Pulau Pinus dan Pasar Terapung doang. Dan saya tidak bisa berenang. Ihiks.

3. Entah kenapa, banyak yang menebak asalmu dari Samarinda. Padahal, belum tentu rumahmu dekat sana juga.

No Comment. Enggak pernah ngerasain dikira tinggal di Samarinda. Tapi komentar di bawahnya menarik :

Masih ada juga yang mengira Balikpapan-Pontianak itu dekat, padahal jauhnya minta ampun dah… Naik pesawat aja harus transit ke Jakarta dulu.

Nah ini… Benar banget. Jadi, pernah ada teman yang bantu promo usaha temannya. Katanya siapa tahu saya bisa jadi langganan di usaha temannya tersebut, kan sama-sama di Kalimantan katanya. Usaha offline yang harus didatangin ke sana langsung, bukan jual beli online loh ya. Waktu saya tanya, temannya di mana? Saya lupa persisnya di mana, salah satu kota di Kalimantan Tengah dan itu jaraknya jauuuuuh sekali. Saya pun belum pernah ke sana.

Ada lagi teman komentar waktu saya bilang saya belum pernah bertemu dengan salah satu teman dunia maya yang tinggal di Balikpapan (waktu itu saya belum nikah dengan orang Balikpapan). Si teman pun bilang, kok enggak pernah ketemu? Padahal sama-sama Kalimantan. Wekekeke…. Jarak Barabai-Balikpapan itu jauh, Nona. Berangkat jam 7 malam dari Barabai sampai Balikpapan jam 9 pagi kalau via darat. Via udara, saya harus ke Banjarbaru dulu sekitar 4 jam perjalanan baru terbang sekitar 40 menit ke Balikpapan.

Heran juga kenapa ada yang mengira Kalimantan ke mana-mana dekat, padahal kalau dilihat di peta jelas sekali pulau Kalimantan gedenya ngalahin pulau Jawa😀

Poin 4 skip…

5. Yang ironis, status Kalimantan sebagai pemasok energi dan sumber daya alam gak tercermin dari hidup sehari-hari disana. Mati listrik jadi momen yang terlalu biasa!

Nah iniiii… Makanya pernah rada kesal juga sama yang ngomel-ngomel dengan pemadaman listrik yang katanya enggak sesuai jadwal. Jadwalnya jam segini udah nyala, eh belum nyala. Padahal di pulau antah berantah itu mati listriknya juga jarang banget. Di Kalimantan enggak sesuai jadwal? Jadwalnya aja jaraaaaang banget ada. Seringnya sih langsung byaar padam gitu aja. Lama? Di tempat tinggal saya sekarang bisa berjam-jam. Sering? Kalau dalam seminggu enggak ada mati listrik itu luar biasa hebatnya. Makanya saya setuju aja kalau Kalimantan dikasih otonomi khusus sekhusus-khususnya. Tapi enggak dikabulin sama Pak Menteri. Perjuangkan terus ya Pak Awang Faroek😀

6. Nggak cuma itu, antri BBM pun jadi pemandangan yang lumrah di daerahmu

Banget. Di Kota Minyak Balikpapan pun antrian BBM bukan sesuatu yang mustahil. Sering ngelihatnya.

Kalo orang Kalimantan ditanya: “BBM-nya kemana?”

Jawaban kamu pasti: “Ke Jawa Ya nggak tahu kemana, tanya aja pemerintahnya.”

Poin 7, 8, 9, 10 skip…

Poin 11… Tertarik dengan penjelasan di bawahnya…

Karena Kalimantan dikelilingi lautan, tidak susah untuk mencari makanan laut yang segar. —> Mbak atau Mas yang nulis, Jawa kan juga juga dikelilingi lautan, sumatera juga, sulewesi juga :p

Buat saya yang kampung halamannya bukan di pesisir laut di mana laut jauuuh dari tempat saya berada maka makanan laut jarang saya cicipi. Saya lebih akrab dengan ikan air tawar. Ketika kemudian saya mengikuti suami pindah ke daerah pesisir di mana makanan laut melimpah ruah, saya tetap sering kangen sama ikan air tawar. Sesuka apa pun saya sama aneka ragam seafood, tetap saya lebih suka ikan air tawar seperti haruan, papuyu, lais, dll😀

Poin selanjutnya skip deh…. Satu lagi sih yang kurang dari artikel itu. Ketika tau saya dari Kalimantan ada beberapa orang yang pernah nanya.

“Mbak tinggal di Kalimantan ya? Bensin di sana mahal ya?” Muehehehe…. Kalimantan masih dalam lingkup wilayah Indonesia, Teman-teman. Jadi harga BBM ya sesuai dengan ketentuan pemerintah selama belinya di SPBU. Jadi kalau di Jakarta BBM di SPBU Pertamina 6500, di Kalimantan juga. Kalau eceran baru deh harganya lebih mahal, di mana-mana juga gitu kan eceran lebih mahal. Nah, seperti yang disebut di poin 6, antrian di SPBU kadang panjangnya ga ketulungan. Jadi deh kebanyakan orang lebih milih beli eceran. Kalau suami saya ogah banget dia beli eceran kecuali sangat terpaksa sekali😀

Yang saya bingung waktu panas-panasnya soal kenaikan BBM kemarin itu… Ada yang komentar, udah deh naikin aja BBM, tuh sodara-sodara kita di Kalimantan udah dari kapan ngerasain BBM di atas 8000 rupiah. Hadeeeh… Kalau BBMnya naik, ya harga eceran juga naik, Bu…. Enggak tetap 8000 rupiah dunk. Jadi, jangan sok bilang memperjuangkan nasib orang Kalimantan! Tinggal di Kalimantan dulu sini😀

10 thoughts on “Cerita Anak Kalimantan

  1. saya pernah ke kalimantan meski cuma seminggu. teman seruangan juga ada yang pernah tinggal di kalimanatn, jadi bisalah ngeraba2 dikit isi postingan di atas.

    yg saya ngalamin langsung ya lihat antrian panjang di pom bensin dan di depannya ada tukang bensin eceran

  2. Meskipun bukan orang Kalimantan tapi merasakan yang Mba Yanti posting ini terutama bagian tidak meratanya pembanguna karena pernah ke sana dan melihat sendiri betapa antrian minyak dan kegelapan melanda di malam hari. Saya tiga hari tinggal di tengah kebun sawit.
    Tapitapitapi saya iriii sama orang yang hidup di sana waktu itu. Alamnya SUBHANALLAAH! Luar biasa bagus. Bahkan selama di jalan dari sampit ke palangkaraya yang hujan aja saya sampai ga berhenti mengucap subhanallaah. Bener-bener harta keindaha alamnya.

    • Benar banget, Mas. Keindahan alamnya Subhanallah… Begitu pun dengan kekayaan alamnya tapi sayang belum dinikmati oleh penduduknya. Hehehe… Saya belum pernah melewati jalan Sampit-Palangkaraya, cuma sampai di Palangkaraya aja. Jalan dari Balikpapan-Samarinda juga enggak kalah cakep, melewati hutan Bukit Soeharto. Pernah ke Balikpapan, Mas? Cakep juga kotanya. Bersih dan berdampingan dengan laut. Langganan Adipura😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s