Tentang Penulis Tangguh

Saya belum pernah cerita kan ya tentang Penulis Tangguh di blog ini? Maksudnya cerita khusus satu postingan gitu. Kalau nyebut sepertinya sudah sangat sering ya😀

Jadi, kelas Penulis Tangguh adalah kelas menulis online yang didirikan oleh Mbak Nurhayati Pujiastuti. Mbak Nurhayati Pujiastuti sendiri adalah penulis yang karya-karya beliau banyak sekali menghias media. Dari Bobo sampai Femina. Juga beberapa buku yang beliau tulis.

Akhir tahun 2013 kemarin, saya membaca status mbak Nur yang dishare salah satu teman saya di facebook. Inti status itu kalau mbak Nur akan membuka kelas Penulis Tangguh II. Kelas menulis dengan tujuan agar tulisan bisa tembus media. Dan disebutkan kalau kelas itu GRATIS. Membaca status itu tanpa berpikir lama saya langsung mengajukan diri buat ikutan. Waktu itu saya belum menjadi friend dengan Mbak Nur di facebook. Saya pun nge-add mbak Nur dan mengirimkan pesan kalau saya berminat sekali buat ikut kelas Penulis Tangguh.

Saya deg-degan menunggu pengumuman, sambil berharap sekali kalau bisa ikut kelas tersebut. Dan satu hari Mbak Nur mengirimkan pesan kepada saya, apa saya bisa mengikuti kelas secara online? Saya jawab bisa. Saya bertanya balik apa saya diterima di kelas Penulis Tangguh? Jawab beliau iya. Dan dudududu…. Saya rasanya senaaaang luar biasa. Bahkan sampai detik ini saat saya menulis ini pun saya masih berasa bahagianya bisa bergabung di Kelas Penulis Tangguh.

Kemudian saya ‘duduk manis’ di kelas Penulis Tangguh. Di sebuah grup tertutup di facebook. Hanya ada 15 orang murid di sana. Kami diajarkan menulis cerpen anak, cerpen remaja, cerpen dewasa, dan non fiksi (artikel). Kemudian kelas juga ditambah dengan kelas cerpen koran. Proses belajarnya pun dengan praktek langsung, tidak ada teori. Para murid di kelas Penulis Tangguh langsung disuruh nulis dengan petunjuk yang diberikan. Begitu selesai, langsung disuruh kirim.

Sebelum menulis, kami juga diminta Mbak Nur untuk mengetahui ‘aroma’ dari media yang akan dituju dengan membaca karya-karya yang dimuat di sana. Jadi tahu apa yang diinginkan media tersebut. Kalau mengirim ke majalah Bobo seperti ini, kalau ke majalah Girls seperti ini. Ke Hai, Gadis dan Femina? Tentu beda lagi.

Satu per satu tulisan pun saya kirimkan. Ada yang dimuat, ada yang ditolak juga ada yang belum ada kabarnya😀 Semua ada proses masing-masing. Setelah duduk di kelas Penulis Tangguh, saya memang jadi pede mengirimkan karya saya ke media. Menyingkirkan rasa minder yang sering muncul.

Kelas dengan bimbingan Mbak Nur memang sudah selesai. Tapi ada kelas alumni di mana teman-teman berinisiatif buat bikin kelas per minggu. Karya teman-teman dikasih masukan beramai-ramai.

Akhir tahun ini kelas Penulis Tangguh menuai banyak prestasi, ada Mbak Ruwi Meita yang menang lomba cerpen Tulis Nusantara. Kemudian kemarin ada Mbak Yuniar Khairani yang menang lomba cerpen Eye Level. Dan Ibu Guru nya, Mbak Nurhayati Pujiastuti juga tidak ketinggalan.

Rasanya terharu setiap mendapat kabar gembira dari teman-teman. Dalam seminggu ada saja yang mengabarkan berita gembira. Ada yang dimuat di Gadis, di majalah Hai, di Bobo, dll. Menang ini, menang itu. Berada di kelas Penulis Tangguh kalau saya berdiam diri sebentar, saya akan jauuuuh ketinggalan, sementara teman-teman terus melesat dengan karyanya. Semoga juga membuat saya terus semangat buat menulis😀

Saya duduk di kelas Penulis Tangguh II. Beberapa waktu yang lalu kelas Penulis Tangguh III sudah dibuka dan sudah selesai. Tapiiii… katanya Mbak Nur belum tau kapan membuka kelas Penulis Tangguh IV.

Buat saya masuk kelas Penulis Tangguh adalah rezeki dariNya. Banyak sekali ilmu menulis yang saya dapatkan dari sana dan saya tidak membayar sepeserpun. Rezeki kan?😀 Walau kelasnya gratis tapi Mbak Nur mengajarnya serius sekali, yang masuk kelas juga sedikit, agar kelas bisa berjalan optimal.

30 thoughts on “Tentang Penulis Tangguh

  1. Yantiiiii…
    ini keren sekali siiih…
    Kagum dengan mbak Nur yang bersedia membagi ilmunya secara cuma2 kepada para calon penulis keren seperti dirimuh🙂

    sampai detik ini menulis fiksi masih menjadi dinding tinggi yang sangat sulit untuk kudaki lho Yan *mulai lebay*
    Beberapa kali nyoba nulis dan ngedfrat tapi selalu berasa geli sendiri dan gak pengen dipublish…bhuahahaha…masih harus banyak belajar lah daku inih…

    • Sama, Bi. Saya juga masih kesulitan nulis fiksi. makanya yang agak bisa cuma cerpen anak. Hehehe… Yang remaja belum terbukti bisa karena belum ada yang nembus media. Hehehe… Yang dewasa apalagi… Heuheu….

      Iya, Bi. Saya aja terharu berkali-kali akan kebaikan hati Mbak Nur. Apalagi impian beliau ingin murid2nya mandiri dalam menulis dan terus menyebarkan ilmu menulis yang beliau berikan😀

  2. Ehm…aku ngerasanya sih yang paling susah dalam menulis fiksi itu show dont tell nya itu lho Yaaan, soalnya kan aku terbiasa pake bahasa yang lugas, kalo kesel langsung banting kulkas, kalo bahagia elus-elus gorden…duh pake bahasa tersirat itu susah banget deh buatku…
    Punya tips mungkin?…hehehe…

    • Bibiiii… Samaaaa… Saya juga gitu. Nih saya copas tips dari kak Prisca Primasari tentang show don’t tell : Ketika menulis, sebaiknya kita malah tidak terlalu banyak berpikir tentang teknik, termasuk teknik show dan tell. Kata editor saya, ‘Menulislah seperti orang kesurupan.’ Jadi, selesaikan dulu tulisannya, tumpahkan saja semua hal yang menurut kita perlu dijabarkan. Usai menulis, endapkan kira-kira selama dua minggu, lalu baca lagi naskah dari awal sampai akhir. Biasanya ketika kita membaca ulang inilah, kita menyadari mana bagian yang terlalu banyak ‘show’nya dan mana yang terlalu banyak ‘tell’nya. Kalau kita merasa ‘show’nya terlalu banyak, bisa dipangkas sedikit dan diganti tell. Begitu juga sebaliknya.

      Semoga membantu ya, Bi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s