Cara Mengirim Cerpen ke Majalah Bobo (bonus : cerpen saya ^_^)

Alhamdulillah cerpen saya berjudul Kacamata Pak Rusdi dimuat di majalah Bobo minggu kemarin. Rasanya senaaaang sekali. Hihihi… Selalu bahagia kalau ada karya kita dimuat di media, apalagi kalau pertama kali. Wuiiih…. Senaaaang. Rasa senang itu semoga selalu menggerakkan saya buat terus menulis dan mengirimkan karya.

wpid-img_20141111_062257.jpg

Beberapa teman bertanya tentang bagaimana mengirim cerpen ke majalah Bobo. Infonya banyak bertebaran, tinggal googling aja. Berikut saya lampirkan cara mengirim cerpen ke majalah Bobo yang saya ambil dari fanpage majalah bobo di link ini.

Syarat Teknis Penulisan Naskah Cerita

1. Font: Arial
2. Ukuran font: 12
3. Jarak baris: 1,5
4. Banyak kata: 600 – 700 kata untuk cerita 2 halaman
250 – 300 kata untuk cerita 1 halaman
5. Di bawah naskah cerita tersebut, cantumkan:
a. Nama lengkap
b. Alamat rumah
c. Nomor telepon rumah/kantor/ handphone
d. Nomor rekening beserta nama bank, dan nama lengkap pemegang rekening bank tersebut (seperti yang tertera di buku bank) Untuk pembayaran honor pemuatan dari majalah Bobo.
6. Lampirkan biodata singkat yang berisi poin nomor 5, tempat tanggal lahir, riwayat pendidikan, dan
pekerjaan.
7. Naskah berserta biodata bisa dikirimkan via pos, ke alamat:
Redaksi Majalah Bobo
Gedung Kompas Gramedia Majalah Lantai 4
Jalan Panjang No. 8A, Kebon Jeruk, Jakarta 11530

Syarat Umum Penulisan Naskah Cerita

1. Cerita harus asli, tidak menjiplak karya orang lain.
2. Cerita tidak mengandung unsur kekerasaan, pornografi, atau yang menyinggung SARA
(suku, agama dan ras)
3. Tingkat kesulitan bahasa, kira-kira yang bisa dimengerti oleh anak kelas 4 SD.
4. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik.
5. Kata-kata berbahasa asing/daerah atau dialek tertentu, diketik dengan huruf italic.
6. Alur cerita dan permasalahan cocok untuk anak-anak usia SD.
7. Penulis yang naskahnya diterima, akan mendapat honor setelah ceritanya dimuat, dan kiriman majalah
Bobo sebagai nomor bukti pemuatan cerpen.
8. Naskah yang tidak diterima, tidak akan dikembalikan. Diharapkan penulis menyimpan naskah asli.
9. Berhubung banyaknya naskah yang dikirim ke redaksi Majalah Bobo, maka waktu penantian pemuatan
cerita bisa memakan waktu minimal 4 bulan.
10. Penulis yang ingin menarik kembali naskahnya untuk dikirim ke majalah lain, diharapkan
pemberitahuannya terlebih dahulu ke redaksi Majalah Bobo, agar tidak terjadi pemuatan ganda.

NB : Saya mengirimkan cerpen saya itu lewat pos dan email. Lewat email ke email ini : naskahbobo@gramedia-majalah.com 

Update : April 2015 ada satu cerpen saya lagi yang dimuat di Majalah Bobo dan cerpen itu hanya saya kirimkan via email, tanpa melalui pos. Dan dimuat juga. Alhamdulillah🙂

Nah, berikut cerpen saya yang minggu kemarin dimuat di sana. Hehehe…

Kacamata Pak Rusdi

Oleh : Hairi Yanti

“Buk..” Bunyi hantaman bola di meja Pak Rusdi itu membuat seisi kelas mendadak hening. Chandra, Andi dan Dion yang saling melempar bola bergegas mendekati meja Pak Rusdi. Wajah terkejut mereka bertiga membuat seisi kelas khawatir.

“Kacamata Pak Rusdi pecah.” Andi menunjukkan kacamata yang kaca sebelah kanannya sudah tak berbentuk. Anggit, si ketua kelas langsung maju ke depan. Mengambil dan mengamati kacamata itu dari tangan Andi.

“Ini semua gara-gara kalian.” Seru Anggit.

“Kenapa main lempar bola di jam belajar?” Mereka bertiga diam. Walau Anggit perempuan, tapi ketegasannya lah yang membuat Anggit dijadikan ketua kelas.

“Pak Rusdi datang.” Satu suara mengagetkan seluruh kelas. Mereka langsung bubar dan duduk di bangku masing-masing. Pak Rusdi masuk kelas, berjalan ke arah mejanya. Tadi Pak Rusdi keluar sebentar setelah memberikan tugas. Pak Rusdi mengamati kacamatanya.

“Gimana tugasnya? Sudah selesai?” Pak Rusdi bertanya. Seisi kelas bingung, Pak Rusdi tidak menyinggung soal kacamata.

“Siapa yang mau mengerjakan di depan kelas?” Tiga orang mengangkat tangan, Pak Rusdi menunjuk salah satu dari mereka. Sampai pelajaran berakhir, pak Rusdi tidak menyinggung sedikit pun tentang kacamatanya yang pecah.

Chandra, Andi dan Dion bersorak karena Pak Rusdi tidak marah. Bahkan Pak Rusdi tidak ngomong sama sekali soal kacamatanya yang pecah. Tapi, Anggit tetap kepikiran. Bagi Anggit ini adalah tanggung jawabnya sebagai ketua kelas. Dia tidak berhasil menegur temannya yang bermain saat jam belajar.

“Ngapain sih, Ngit, dibahas lagi. Pak Rusdi aja nggak marah,” protes Chandra saat Anggit meminta mereka berkumpul.

“Tapi kasihan, kan, Pak Rusdi jadi nggak punya kacamata lagi. Aku kan pakai kacamata, jadi tau gimana susahnya kalau nggak pakai kacamata,” seru Anggit sambil membenarkan letak kacamata di atas hidungnya. Beberapa teman terlihat melirik ke arah Anggit terutama kacamatanya.

“Kita harus patungan buat gantiin kacamata Pak Rusdi. Teman-teman yang lain patungannya suka rela. Setelah dikumpulkan baru kita hitung. Kekurangannya nanti aku, Andi, Chandra dan Dion yang bertanggung jawab.” Anggit mengumumkan keputusannya.

“Kenapa harus Anggit? Anggit kan nggak ikut main lempar bola?” Seorang teman bertanya heran.

“Itu karena aku ketua kelas. Seharusnya kemarin aku negur mereka bertiga langsung. Tapi karena aku nggak negur jadi mereka tetap main. Jadi aku tetap ikut bertanggung jawab.” Teman-teman terdiam. Karena itulah mereka dari kelas 4 selalu memilih Anggit menjadi ketua kelas. Tanggung jawabnya dapat diandalkan.

“Setuju kan kita patungan?” Tanya Anggit lagi. Teman-teman mengangguk setuju.

“Waktunya seminggu dari sekarang, ya,” ucap Anggit lagi.

Seminggu berlalu, uang hasil patungan sudah terkumpul. Anggit, Dion, Chandra dan Andi menutupi kekurangan uang itu. Kemarin Anggit bertanya ke toko kacamata harga kacamata. Dan uang yang terkumpul masih kurang dari harga kacamata seperti yang dipakai Pak Rusdi.

“Kita tetap serahkan ke Pak Rusdi. Ini usaha kita buat menggantinya,” kata Anggit. Teman-teman mengangguk setuju.

“Kalian,” Anggit menunjuk Dion, Chandra dan Andi. “Ikut aku ke depan kelas menghadap Pak Rusdi dan mengakui kesalahan kalian.” Mereka bertiga pun setuju.

Teman-teman Anggit sudah duduk rapi sebelum Pak Rusdi masuk kelas. Begitu Pak Rusdi masuk kelas, mereka semua kaget. Pak Rusdi sudah memakai kacamata baru. Tapi Anggit tetap maju ke depan kelas bersama Dion, Chandra dan Andi.

“Minggu kemarin mereka bertiga bermain bola waktu Bapak keluar kelas dan kemudian kena kacamata Bapak dan pecah.” Anggit berkata pada Pak Rusdi. Dion, Chandra dan Andi meminta maaf.

“Ini uang hasil patungan kami buat mengganti kacamata Pak Rusdi,” ucap Anggit sambil menyerahkan uang yang sudah disiapkan Icha di dalam amplop. Pak Rusdi tersenyum lebar melihatnya.

“Ah, Bapak senang sekali menerimanya,” kata Pak Rusdi.

“Bukan menerima yang ini,” Pak Rusdi menyodorkan kembali amplop uang itu kepada Anggit. Anggit berkerut kening karena heran menerimanya.

“Tapi Bapak senang karena menerima pengakuan dan permintaan maaf dari kalian. Bapak memang sengaja diam dan menunggu kalian mengaku. Sampai seminggu ternyata belum ada yang ngaku. Ah, ternyata kalian menyiapkan gantinya ya.” Pak Rusdi tertawa.

“Sudah, uangnya masukin kas saja. Atau nanti kita belikan bahan makanan dan kalian masak-masak di rumah saya waktu hari minggu.” Seisi kelas bersorak senang. Mereka pernah bikin acara masak-masak di rumah Pak Rusdi. Istri Pak Rusdi pandai memasak, masakannya selalu enak.

“Tapi, bapak kan harus beli kacamata baru. Uang ini gantinya,” kata Anggit tetap menyodorkan amplop berisi uang.

“Kacamata Bapak yang pecah itu sudah tua, Anggit. Memang sudah waktunya diganti.” Anggit pun lega mendengarnya. ***

99 thoughts on “Cara Mengirim Cerpen ke Majalah Bobo (bonus : cerpen saya ^_^)

  1. wah artikelnya membantu sekali mbak, apalagi saya juga suka bikin cerpen. ada niatan mau kirim ke Bobo juga, tapi masih bingung. jadi kita kirimnya lewat pos dan dua alamat email itu? atau emailnya cukup salah satu saja?
    mbak dulu masa penantiannya berapa lama?

    • Iya. Saya dulu kirim pakai email, trus dikirim lagi pakai pos. Alamat emailnya saya pakai keduanya. Kan bisa pakai cc dan bcc. Masa penantian 1 tahun. Sy kirim november 2013, kirim 5 cerpen sekaligus dalam satu amplop dan dimuat 3 cerpen di bulan nov dan desember. 2014

    • Iya. Sy kirim pakai pos dan email. Emailnya sy pakai keduanya juga. Kalau mau satu aja pilih yg naskah bobo. Penantiannya satu tahun. Yg kedua dan ketiga malah satu tahun lebih.

  2. cikcik says:

    keren tuh ceritanya kalo saya belom bisa bikin cerpen -.- oh ia itu ilustrasinya kita yang buat atau dari redaksi yang ngedit mba?

  3. Bagus mbak..
    Saya juga pengen ngirim cerpen ke bobo sejak kelas 5 SD. Tapi gak percaya diri. Sekarang uda kelas 2 SMA, masih punya keinginan tapi masih belum pede sama penulis senior.
    Mending kirim naskah lewat pos atau email yah mbak?
    kalau post Berupa soft file plus lembaran naskah? Kirim berapa naskah mbak? Maaf banyak tanya. Hehehe…

    • Sy kirim tahun 2013 5 cerpen. Kirim pakai pos dan email. Alhamdulillah dimuat 3 cerpen. Kirimnya cerpen yang sudah di print kalau lewat pos. Tahun 2014 sy kirim via email aja. Dan dimuat juga. Jadi coba aja cara dua-duanya. Semangat ya. Kirim terus, jangan ditungguin🙂

  4. Animayuni says:

    Kak mw tanya, konfirmasi dr bobo tentang crpen yg kita krm lwt apa ya? Trs kalau kita krm sekaligus 5 cerpen, apa pemuatanya satu2?

    • Kalau pertama kali dimuat biasanya ditelpon kakak redaksi Bobo. Kalau soal pemuatan itu bisa tanyakan ke redaksi Bobo ya. Pengalaman saya, saya kirim 5 cerpen dan dimuat 3. Dimuatnya satu2.

  5. Sani says:

    Saya juga penggemar majalah Bobo sejak TK, jadi ingat dulu selalu baca bergantian dengan kakak saya, sampai berantem :’D
    Sekarang saya sudah kelas 3 SMA dan mau mencoba mengirim juga ke majalah Bobo, sambil menanti pengumuman PTN mungkin waktu satu tahun jadi tidak terasa, semoga bisa dimuat juga seperti mbak;)
    Terimakasih banyak ya mbak atas infonya. Sukses selalu😀

  6. Halo Mba, salam kenal, saya lagi iseng cari info tentang majalah bobo dan buka blog ini, trimakasih infonya🙂 oia ceritanya bagus sekali🙂
    Btw bole tanya”, belajar menulis cerpen otodidak kah? Hehe.. Soalnya saya pecinta bobo waktu kecil, pernah bikin cerpen juga ke satu majalah tp ditolak😀 dan sekarang pengen coba lagi, hehehe. Cuma skill ngga upgrade😀 trimakasih banyak sebelumnya.

    • Halo, salam kenal juga. Terima kasih sudah mampir di blog saya. Untuk cerita anak, saya ikut kelas menulis online di facebook. Di antaranya sama mbak Nurhayati Pujiastuti dan kang Ali Muakhir🙂

  7. meldotcom says:

    salam knl mbak. mbak klo saya langsung ngirim 3 cerpen, lalu biodatanya satu untuk 3 cerpen itu bisa ga ya mbak???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s