[Gagasan ‘Gagal’] Komunitas itu Seperti Ragi

Di Jawa Pos ada satu rubrik bernama Gagasan. Katanya honornya kalau bisa dimuat di sana 100 ribu rupiah. Lumayan kan buat traktir orang serumah ngebakso. Hehehe… Tapi sekarang rubrik Gagasan di Jawa Pos sudah ditiadakan. Saya pernah mengirim beberapa tulisan untuk Gagasan Jawa Pos tapi belum pernah satu kali pun dimuat😀

Emang sih ya idenya sederhana dan umum banget, makanya nggak dimuat :p Jadi saya muat di blog pribadi aja deh. 

Oya, ide gagasan ini dari kuis yang diadakan mbak Riawani Elyta di twitter @BaWCommunity. Mbak Lyta ngadain kuis apa arti komunitas bagi Anda. Dan saya menang saat menjawab komunitas itu seperti ragi, dibutuhkan buat berkembang🙂

Komunitas itu Seperti Ragi

Akrabnya kita dengan media sosial dewasa ini membuat banyaknya komunitas yang terbentuk secara online. Mereka yang punya kesenangan yang sama bergabung dalam suatu wadah atau group. Ada banyak sekali jenis komunitas yang bisa kita jumpai di media sosial, dari mereka yang hobby menulis, ngeblog, fotografi sampai memasak.

Lalu, pertanyaan kemudian timbul, sebenarnya penting nggak sih kita bergabung dalam sebuah komunitas yang sesuai dengan kesenangan kita? Jika saya yang ditanya demikian, maka jawabannya adalah Penting.

Saya menganalogikan komunitas itu seperti ragi dalam sebuah adonan roti. Ragi dibutuhkan untuk membuat adonan roti berkembang. Tanpa komunitas, apa yang menjadi hobby saya hanya akan berbentuk campuran tepung, telur dan margarien. Dibentuk roti belum bisa, dibuang pun sayang. Dengan adanya ragi adonan akan berkembang dengan sempurna, hingga bisa dijadikan roti atau donat.

Bergabung dalam sebuah komunitas menulis akan membuat saya meraup banyak info baru di bidang kepenulisan, menambah jejaring yang bisa menjadi tempat saling memberi saran dan kritik terhadap karya, juga menambah semangat saat melihat teman-teman melesat dengan karya masing-masing. Masuk dalam komunitas yang punya hobby masak membuat saya menemukan hal-hal yang dulunya saya rasa mustahil untuk dilakukan ternyata bisa dilakukan kalau kita mengetahui triknya, sepertin bikin brownies yang ternyata bisa tanpa mixer dan oven.

Tapi, komunitas memang tidak akan serta merta mengubah diri kita. Semua itu kembali pada diri kita sendiri sejauh mana kita bisa memacu diri untuk melangkah ke arah yang lebih baik dan maju. Seperti adonan roti, walau sudah ada ragi tanpa diuleni bisakah megambang sempurna?

Note : Belakangan saya tau kalau bisa kok bikin roti tanpa diuleni. Hihihi… Tapi ngambangnya emang beda dengan yang diuleni. CMIIW.

8 thoughts on “[Gagasan ‘Gagal’] Komunitas itu Seperti Ragi

    • Coba redakturnya mbak ya, jadi bisa dimuat. Hehhee… Belum pede kalau opini, Mbak. Tapi pengin nyoba juga supaya ketularan dimuat juga😀 makasih ya mbak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s