Resensi Pangeran Bumi, Kesatria Bulan di Koran Jakarta

Alhamdulillah, Sabtu 9 Agustus 2014 resensi saya dimuat lagi di rubric Parade Koran Jakarta. Sebenarnya kemarin itu sempat malas banget nulis resensi lagi. Namun, saya diliputi perasaan bersalah karena kalap beli buku sebelum Ramadan dan sewaktu Ramadan di Jakarta kemarin. Jadi dengan iming-iming ntar kalau resensi dimuat saya bisa dapat honor, maka saya mulai menarikan jemari saya di atas keyboard. Oh honor, kau memang penyemangatku. Hihihi….

image

Merindukan mereka saat mudik kemarin

Saya membaca buku Pangeran Bumi, Kesatria Bulan saat lagi mudik di kampong halaman saya, Barabai. Biasanya kalau mudik lebaran saya nggak pernah selesai baca satu buku pun. Kemarin karena jeda antara lebaran dan waktu balik lumayan lama, plus saya lagi libur shalat dan jaringan internet lagi nggak bisa diajak bekerjasama karena lelet luar biasa, jadi deh saya lancar baca bukunya. Dua buku yang saya bawa semuanya tandas saya selesaikan. Saya juga merindukan buku-buku yang saya tinggalkan di Balikpapan dan Handil.

Karena nggak bisa berselancar di dunia maya, saya juga akhirnya menggunakan laptop kakak saya buat nulis resensi buku yang saya baca. Targetnya emang pengin nembus Korjak. Pakai laptop kakak saya karena laptop saya saat itu lagi rusak. Pengin langsung kirim saat resensi itu selesai, tapi apa boleh buat saya kesulitan dengan jaringan internet yang lelet.

Sewaktu tiba di Handil, kamis kemarin, barulah saya kirimkan resensi tersebut. Dan Alhamdulillah sabtu sudah dimuat. Senaaaang…. Ini resensi ke 4 saya di Korjak dan resensi ke 3 di tahun ini serta tulisan ke 8 yang dimuat di media tahun ini. Masih jauh dari target. Masih harus terus belajar dan usaha agar target tahun ini 20 tulisan di media bisa tercapai. Cemungudh…😀

image

Berikut naskah asli yang saya kirimkan ke Korjak. Yang sudah diedit pihak Korjak bisa dilihat di link ini. Judulnya juga diedit pihak Korjak. Hihihi….

Mimpi, Impian dan Cinta Mereka yang Terbuang

Oleh : Hairi Yanti

Keluarga  merupakan hal penting dalam kehidupan seorang anak manusia. Begitu juga dengan anak-anak terbuang dalam asuhan rumah asuh Bunda Wulan, mereka merindukan dan berjuang mendapatkan atau menemukan keluarga seperti Septiani dan Oktavano, si kembar yang selalu gagal mendapatkan orangtua asuh. Hal ini disebabkan karena Septi  yang tumbuh sempurna tidak ingin diadopsi sendirian tanpa Okta.

Para calon orangtua asuh mereka selalu menolak kehadiran Okta karena Okta adalah penyandang sindrom Asperger. Sindrom Asperger mirip dengan autisme. Sindrom Asperger adalah gejala kelainan perkembangan saraf otak. Tapi, penyandangnya memiliki kecerdasan dan perkembangan bahasa yang normal. Hanya gagap dalam hubungan sosial dan kurang cakap berkomunikasi. Mereka memandang dunia dengan cara yang berbeda. (Halaman 47).

Jika Septi dan Okta masih berjuang menemukan orangtua asuh, lain lagi dengan Maylana atau yang biasa dipanggil Maya. Bagi Maya, bunda Wulan dan adik-adiknya di rumah asuh Bunda Wulan adalah keluarganya. Lebih baik ia tidak menemukan orangtua karena berarti ia akan mengetahui alasan mereka membuangnya. Alasan yang kemungkinan besar sangat menyakitkan. (Halaman 125)

Maya biasa gigih dan bertanggung jawab. Maya membenci citra anak panti asuhan miskin. Mereka mungkin tidak berbapak-ibu, pada awalnya hidup dari belas kasih orang, atau dipelihara negara. Tetapi, tidak boleh begitu selamanya. (Halaman 104). Karena itulah Maya bekerja semenjak dia masih kecil dan tak ada waktu baginya untuk menikmati hidup.

Kehidupan Maya menjadi lebih berwarna setelah kehadiran Geo. Seorang pemuda tampan dan baik hati yang kakaknya adalah tetangga tempat Maya tinggal. Geo hadir dengan segala kebaikannya dan juga dengan masalah yang dihadapinya. Geo merasa tertekan dengan desakan keluarganya yang terus menuntut dia menjadi pewaris tunggal keluarga. Hal yang membuat Geo ingin sendirian di dunia, hidup tanpa keluarga.

Hal yang sama juga dialami Juno. Teman yang tumbuh bersama Maya dalam pengasuhan Bunda Wulan. Juno di masa usianya 14 tahun dijemput oleh ibu kandungnya di rumah asuh Bunda Wulan. Tapi kehidupan bersama ibu kandungnya tidak serta merta membuat Juno bahagia. Ibunya yang menderita depresi justru terus merongrong kehidupan Juno sehingga menjadi rumit. Juno menjadi terbelit utang akibat kelakukan ibunya. Apa yang terjadi pada Septi, Okta, Geo dan Juno membuat Maya berpikir begitu sulitkah menemukan keluarga dan begitu sulitkah  berada di tengah keluarga? (Halaman 101)

Geo dan Juno yang kehadiran mereka terus membantu Maya juga membuat Maya bimbang untuk memilih salah satu diantara keduanya. Geo terang-terangan menyatakan perasaannya pada Maya dan juga telah berhasil menemukan jalan untuk mendapatkan restu keluarga untuk berhubungan dengan Maya. Sedangkan Juno walau tidak terang-terangan tapi Juno bagi Maya sudah seperti nafas. Saat bercerita tentang dirinya pada Geo, Juno disebutkan oleh Maya seperti udara yang harus dihirup kalau tidak mau kehabisan napas. (Halaman 199)

Pangeran Bumi, Kesatria Bulan adalah sebuah novel dengan setting anak-anak di sebuah rumah asuh yang terbuang dan tidak mengenal orang tua mereka. Novel yang dapat mempertebal kepekaan pembaca akan kehidupan anak-anak di panti asuhan atau rumah asuh. Meski mereka tidak mengenal dan mengetahui siapa orang tua mereka, tapi mereka juga adalah anak manusia yang punya cita-cita untuk kehidupan yang lebih baik.

Dalam salah satu adegan di novel ini yang bercerita tentang Augy, salah satu anak asuh di rumah asuh Bunda Wulan juga menyadarkan kita akan pentingnya berempati pada para anak-anak terbuang itu. Augy diceritakan protes karena berita tentang anak terbuang justru diberitakan di media televisi oleh presenter yang menyatakan keprihatinannya justru dengan nada dan suara yang bertolak belakang dan dengan pakaian dan dandanan pesta. Bahkan wajah presenter yang sering di-close-up menampilkan senyum dan binar mata yang menggoda. Hal itu sangat menyakitkan buat mereka yang merupakan bayi-bayi terbuang. (Halaman 243)

***

Data Buku :

Judul               : Pangeran Bumi, Kesatria Bulan

Penulis             : Ary Nilandari

Penyunting      : Prisca Primasari

Penerbit           : Qanita

Tebal Buku      : 324 Halaman

ISBN               : 978-602-1637-38-8

Tahun Terbit    : Cetakan I, Juni 2014

***

3 thoughts on “Resensi Pangeran Bumi, Kesatria Bulan di Koran Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s