Ifthor dan Tarawih di Istiqlal

Bagi orang daerah seperti saya, bangunan-bangunan yang sering dilihat di TV memang menjadi daya tarik tersendiri. Dalam cerita di film dan novel 12 Menit, salah satu tokoh di sana yang bernama Lahang begitu ingin melihat Monas di Jakarta. Bagi Lahang, dengan dia melihat monas, maka itu akan menjadi pembuka jalan baginya untuk melihat menara-menara lain di berbagai negara lainnya.

Selain Monas yang menarik bagi orang daerah adalah Istiqlal. Banyak acara kenegaraan yang berhubungan dengan keagamaan dilaksanakan di mesjid terbesar di Asia Tenggara itu (CMIIW). Siaran langsung shalat Idul Fitri pun kerap disiarkan dari mesjid tersebut. Saya masih ingat ketika pertama kali ke Jakarta waktu masih kecil dulu. Saya dan keluarga menyempatkan ke Istiqlal, sekadar untuk melihat tiang mesjid besar yang kerap kami saksikan di TV. Bukan untuk shalat karena memang datang bukan pada waktu shalat.

Maka ketika 11 hari di Jakarta kemarin, suami saya nyelutuk, “Rugi banget deh kalau kita 10 harian di Jakarta waktu Ramadan tapi nggak tarawih di Istiqlal.” Saya mengamini apa kata suami. Jadilah akhirnya jum’at sore malam ke 21 Ramadan saya dan suami ke Istiqlal. Berangkat sekitar jam setengah 6 sore, setelah suami pulang kerja. Dan jadilah kami terjebak macet di sekitar Tanah Abang. Dan akhirnya membatalkan puasa di atas taksi karena sewaktu adzan maghrib berkumandang kami masih di tengah kemacetan.

Sampai di Istiqlal, saya kaget sendiri dengan suasananya yang sangat ramai. Banyak orang jualan, banyak jamaah juga. Setelah shalat maghrib saya pun jajan siomay, buat asupan energi tarawih nanti😀

Sempat gagap juga dengan tarawihnya karena pertama kali di situ. Dan ternyata tarawihnya ada 2 versi. Versi pertama 8 rakaat, yang kedua 20 rakaat. Jadi, setelah imam tarawih 8 rakaat, ada shalat witir 3 rakaat. Yang mau ikut tarawih 20 rakaat bisa minggir ke tepi sebentar untuk tidak ikut shalat witir. Setelah witir, imam berganti dan diteruskan tarawihnya menjadi 20 rakaat. Karena saya masih bingung, jadi saya ikut witir dan akhirnya ikut tawarih 8 rakaat saja. Karena saya dibesarkan di lingkungan NU jadi saya sebenarnya lebih terbiasa dengan tarawih 20 rakaat.

Setelah tarawih, saya dan suami keluar. Tidak langsung pulang karena suami janjian dengan teman kuliahnya dulu yang sedang menyelesaikan tarawih 20 rakaat. Untuk menunggu teman suami, kami membeli kerak telor khas betawi dan juga saya sempat beli jilbab buat oleh-oleh keluarga😀 Senang lihat banyak orang jualan macam-macam di sana. Hahaha….

Sewaktu saya selesai membeli jilbab dengan proses tawar menawar yang agak alot, saya lihat suami sudah duduk manis dengan teman kuliah di sampingnya. Bersama teman suami, kami makan lagi😀 Kali ini teman suami saya yang traktir mie ayam.

Malam itu bukan malam pertama dan terakhir saya dan suami ke Istiqlal. Besoknya saya dan suami ke sana lagi. Saya suka suasananya. Kali itu kami datang lebih awal dari biasanya. Jadi sempat beli nasgor dulu buat buka. Di sekitar pelataran Istiqlal sudah banyak sekali orang-orang yang menunggu Ifthor. Dari panitia mesjid Istiqlal sebenarnya menyediakan tempat khusus buat Ifthor di lantai bawah. Namun, di lantai atas, di pelataran mesjid saya melihat beberapa orang menuju satu tempat kemudian pulang dengan satu box makanan di tangan.

image

Pelataran Istiqlal menunggu adzan naghrib

Iseng sambil ngarep-ngarep pengin dapat ta’jil juga akhirnya saya mendekati titik tersebut. Belum sampai langkah saya ke sana, saya sudah ditanya petugasnya berapa kotak ta’jil yang saya perlukan. Saya menjawab satu saja, karena sudah beli nasgor dan ada bakmi GM yang didapat suami dari kantor. Jadi deh saya dapat ta’jil yang berisi ayam bakar plus lalapan. Alhamdulillah.

image

Menatap penuh minat

Malam terakhir di Jakarta waktu itu, saya dan suami akhirnya memutuskan ke Istiqlal lagi. Itu malam ke 26 dan suasana di Istiqlal sudah sepi. Nggak seramai biasanya. Sudah pada mudik kali ya. Jalanan Jakarta juga lebih lenggang dari biasanya.  Tapi untunglah masih ada yang jual kerak telor😀

Pengalaman ifthor dan tarawih di Istiqlal sangat menyenangkan buat saya. Ke sana membuat saya menyadari bahwa betapa saya masih tidak memanfaatkan waktu Ramadan dengan baik. Karena saya sempat mendengar ada seorang ibu yang dari awal Ramadan berada di Istiqlal. Pulang ke rumahnya yang di Banten hanya waktu tanggal 9 Juli buat nyoblos. Selain itu di Istiqlal terus. I’tiqaf sepanjang waktu ya.

Belum lagi ada yang jauh dari Bandung, khusus buat Ifthor dan tarawih di Istiqlal. Katanya suasana Ramadan di Istiqlal itu ngangenin. Ada juga yang saya dengar dari Pontianak. Eh, saya dan suami juga dari jauh ya. Dari Balikpapan. Hihihi….  

2 thoughts on “Ifthor dan Tarawih di Istiqlal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s