Rectoverso, Sebuah Catatan yang Tertunda

Kemarin saya nonton film yang berjudul Rectoverso, film yang diangkat dari karyanya Dee. Ada 5 cerpen yang difilmkan. Tiap cerpen di lagu itu juga ada lagunya masing-masing. Sebagian dari kita mungkin tak asing dengan lagu yang berjudul Malaikat Juga Tahu dan Firasat. Itu dua dari lima cerita yang diangkat ke dalam film.

Saya sendiri punya bukunya, kumpulan cerpen yang berjudul Rectoverso. Tak semua cerita yang ada di buku itu saya baca. Malahan ada cerpen yang baru saya baca setelah selesai menonton filmnya. Untuk memperjelas jalan cerita.

Baik buku maupun filmnya yang jadi juara bagi saya adalah Malaikat Juga Tahu. Baik cerpen atau pun filmnya sukses membuat saya mewek. Saat abang mengamuk karena kehilangan cintanya dan bagaimana bunda menenangkan dan memeluk abang. Saat bagaimana bunda menatap abang dengan mata penuh luka. Ditambah lagi dengan adanya suara Gleen Fredly menyanyikan Malaikat Juga Tahu.

Cintanya adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang. Bukan baginya. Cintanya tak punya cukup waktu untuk dirinya sendiri.
Tidak perlu ada kompetisi di sini. Ia, dan juga malaikat siapa tahu siapa juaranya.

Cinta siapa yang juara? Siapa lagi kalau bukan cinta seorang Ibu. Cinta bunda pada abang.

‘Namun kasih ini silakan kau adu. Malaikat juga tahu. Aku yang kan jadi juaranya.’

Dalam Malaikat Juga Tahu, sosok perempuan muda yang bernama Leia juga tak digambarkan sebagai sosok antagonis. Dia sosok perempuan yang benar-benar manusiawi. Tak ingin menyakiti tapi pada ujungnya memang benar ada yang tersakiti. Lagi-lagi di depan saya ditampilkan bahwa cerita bagus itu premisnya kuat. Saat Leia menangis menyaksikan abang sementara dia harus pergi, itu benar-benar dilematis bagi seorang Leia.

Ketika menonton Malaikat Juga Tahu, saya sampai bergumam, untuk apa cinta datang jika akhirnya harus pergi dan akan ada yang terluka? Ahahaha… Pikiran saya juga masih tertaut pada My Avillanya Mbak Ifa Avianty. Tentang Fajar yang mengungkapkan perasaannya pada Margriet dan setelahnya malah bilang ‘Maukah kita saling melupakan?’

Dee dalam cerpennya menjawab begini :

‘Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengorbannya dengan sembrono. Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia.’

Maka… Berhati-hatilah menyalakan sesuatu yang bernama perasaan, entah itu harapan atau cinta. Ada baiknya diletakkan pada sesuatu yang benar dan tak akan mengecewakan *NtMS*

Selain Malaikat Juga Tahu, cerita yang membuat saya jleb adalah Hanya Isyarat. Cerita tentang seorang Al yang berlibur bareng teman-temannya di milis backpacker. Dari 4 cowok yang traveling bersamanya ada satu yang merebut perhatiannya. Al suka dengan tulisan dan pemikiran teman mayanya itu. Saat ada di satu tempat mereka berkumpul, Al sering hanya menyendiri, menatap teman-temannya dari kejauhan.

Di satu malam, Al pun dipaksa bergabung dengan mereka. Mereka mengadakan satu permainan, menceritakan hal tersedih yang pernah dialami. Siapa yang menang maka bisa menunjuk siapa pun untuk melakukan hal apa pun dan tak boleh menolak. Masing-masing bercerita.. Tentang tunangan yang tewas sebulan sebelum pernikahan, tentang sahabat yang kecelakaan, tentang bencana alam yang membuat dia tak tahu dari mana dia berasal dan tentang mati suri.

Sampai giliran Al, Al pun mulai bercerita.

“Kisah aku, kisah aku tentang sahabat aku yang lahir di negeri orang. Dia hidup dengan keluarganya yang sangat sederhana. Setiap kali ibunya harus menyediakan ayam sebagai lauk, ibunya akan pergi ke pasar dan membelinya. Tapi hanya bagian punggungnya saja. Akhirnya sahabat aku pun itu tumbuh dewasa dengan mengetahui kalau ayam itu hanya punya bagian punggung. Dia tak pernah tahu kalau bagian ayam ada paha, dada, atau sayap. Punggung adalah satu-satunya definisinya tentang ayam.

Kalau aku, aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta yang hanya sanggup aku gapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang hanya bisa aku nikmati bayangannya saja tapi tak bisa aku miliki. Seseorang yang hanya hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan.
Tapi sekarang menurutku sahabatku itu adalah yang paling berbahagia. Karena dia bisa menikmati punggung ayam karena hanya itu yang ia tahu. Sementara aku, aku adalah yang paling bersedih. Karena aku tahu apa yang tak bisa aku miliki.”

Semua teman-temannya takjub akan cerita Al yang disampaikan dengan bahasa yang begitu mendayu dan menyentuh perasaan. Dan kemudian menobatkan Al sebagai juara. Al berhak memilih satu orang untuk melakukan apa pun yang dia inginkan.

“Raga,” Al memanggil seseorang yang cintanya sebatas punggung.
“Bisa tolong nyalakan lampunya lagi.” Pinta Al. Hanya itu. Dan kemudian Al kembali duduk ke tempat dia semula duduk. Kembali menjadi latar tak jelas yang tak perlu diajak bicara.

Cerita tentang Al adalah tentang kisah kasih tak sampai yang banyak sekali ditampilkan dalam banyak cerita. Baik nyata, maupun fiksi. Dan Dee mengemasnya dalam bentuk yang begitu puitis. Cinta sebatas punggung. Kalau kata kang Tasaro GK dalam satu kesempatan kelas malam minggunya, Dee mendeskripsikan sesuatu dengan begitu personal.

Maka tak berlebihanlah jika satu malam minggu bersama Tasaro GK dengan kelas menulisnya, membedah karya Dee. Di sana Tasaro mengatakan kadang, kita bertemu dengan kalimat, paragraf, yang rasanya, tersusun kata2 yang biasa saja. Tapi, begitu menjadi kesatuan utuh, kok mak nyus rasanya?

Seperti halnya kalimat ini : “Cintanya adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang.” (Malaikat Juga Tahu). Bagaimana Dee bisa mendiskripsikan CINTA seperti itu?

Pada kasus kalimat tadi, percayaaaalaah….itulah, salah satu hasil perenungan, hasil berfilosofi, yang dilakukan Dee. Dia menuliskan sebuah konsep, bukan sekadar susunan kata-kata indah. Itulah mengapa daya tendangnya luar biasa. Seperti juga “AKU INGIN MENCINTAIMU DENGAN SEDERHANA. DENGAN ISYARAT YANG TAK SAMPAI DIUCAP OLEH KAYU KEPADA API YANG MENJADIKANNYA ABU” by Sapardhi Djoko Damono. Nah, proses berpikir, merenung, menyingkir dari kehebohan dunia itulah yang tidak dilakukan banyak penulis. Sebagian terjebak pada keinginan untuk memperindah kalimat semata. Bukan memperdalam makna. Sehingga kata2nya memang tampak mendayu, tapi ringan dan cair.

Bagaimana deskripsi cinta itu adalah pemaknaan personal seorang Dee. Karena itulah diksinya terasa Wow. (3 paragraf di atas dikutip dari penjelasan Tasaro di kelas malam minggu)

***

Ini tulisan lama yang ternyata belum saya posting di blog. Saya mencari tulisan ini lagi karena kemarin ada pertanyaan dari Ka Antung😀 Di folder saya tulisan ini tersimpan di bulan juni tahun 2013. Sudah satu tahun terlewati. Dan saya kemudian menyadari saya sering kangen dengan tulisan saya sendiri yang ditulis di waktu yang lampau. Hihihihi….

4 thoughts on “Rectoverso, Sebuah Catatan yang Tertunda

  1. aku hanyar ja sadar makna dari cerpen Dee yang Hanya Isyarat tu. tapi memang hanyar membaca jua pang cerpennya. Versi film aku kada tapi meresapi. memang dalam banget ternyata cerpen itu🙂

  2. Swastika Nohara says:

    Tulisannya indah… aku suka cara penulisannya tidak telak2 membandingkan film dari bukunya, karena dua medium ekspresi seni itu mmg sangat berbeda dan tidak bisa dibandingkan.
    *jempol*
    My new blog post: Laut Biru Banget http://bit.ly/1kK8xyR

    • Makasiiih, Mbak. Ini karena keduanya baik buku maupun filmnya bagus. Ada bagian yang saya tidak mengerti di buku menjadi jelas di film, begitu juga sebaliknya. Jadi saling melengkapi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s