[Bahasa Banjar] Aku, Ulun, Kamu, dan Ikam

Lain Ladang, Lain Belalang.
Lain Lubuk, Lain Ikannya.

Itu pribahasa yang menggambarkan kalau dalam daerah yang satu dan daerah yang lain mempunyai adat dan istiadat yang berbeda. Hal yang di satu daerah nggak sopan untuk dilakukan, di daerah lain bisa jadi hal itu adalah biasa saja.

Lahir dan besar di daerah dengan mayoritas adalah suku banjar membuat saya tentu saja terbiasa dengan budaya banjar. Termasuk kata ganti untuk orang pertama. Dalam budaya secara umum penggunaan kata aku sebagai kata ganti orang pertama adalah hal yang biasa saja. Tapi, di daerah saya, Banjar, menggunakan aku itu kepada orang yang lebih dihormati atau orang tua dianggap tidak sopan. (Eh, ini daerah saya atau keluarga saya aja ya? :p)

Dalam bahasa Banjar ada kata ulun, sebagai kata ganti orang pertama. Ulun ini adalah kata ganti orang pertama yang sopan. Biasanya kita gunakan ketika berbicara dengan orang tua atau orang yang lebih dihormati. Menggunakan kata aku ketika berbicara dengan orang tua bisa dianggap tidak sopan. Setidaknya dalam keluarga saya. Kata ulun ini mungkin kalau Bahasa Indonesia menjadi saya.

Kata ganti ‘aku’ biasanya saya gunakan jika berbicara dengan teman sebaya atau yang lebih muda. Kalau memakai kata ‘ulun’ untuk berbicara dengan yang sebaya atau yang lebih muda rasanya juga kurang nyaman. Terasa kaku. Kecuali untuk anak kecil, biasanya saya dan keluarga memang memakai kata ‘ulun’ untuk mengajari mereka berbicara menggunakan kata ‘ulun’.

Untuk kata ganti orang kedua, dengan tingkat kesopanan yang lebih tinggi dan digunakan untuk orang yang lebih tua atau yang dihormati biasanya menggunakan kata ‘pian’, sejenis sampean gitu dalam bahasa jawa mungkin ya. Selain ‘pian’ untuk kata ganti orang kedua ada ‘ikam’. Ikam artinya kamu. Ikam ini kurang sopan gitu kalau digunakan ketika berbincang dengan orang tua. ‘Ikam’ biasanya digunakan ketika berbicara dengan yang sebaya atau yang lebih muda.

Ada Onda dan Nyawa juga sebagai kata ganti orang pertama dan kedua dalam bahasa Banjar. Tapi, berhubung saya dari Banjar Pahuluan, kedua panggilan itu jarang sekali digunakan. Biasanya yang menggunakan adalah Banjar yang bukan hulu. Yang daerah Banjarmasin sana. Kata teman saya ‘unda’ dan ‘nyawa’ itu penggunaannya lebih kasar lagi dibanding ‘aku’ dan ‘ikam’.

Tapi, itu adalah hal yang ada di daerah saya. Seperti yang saya sebut di awal, lain lubuk lain ikannya. Di daerah lain ketika seorang anak berbicara menggunakan kata aku kepada orangtuanya adalah hal yang biasa.

Karena itulah kalau berbicara dengan teman-teman dari daerah lain, kalau yang lebih tua saya biasa menyebut diri saya dengan ‘saya’. Tapi untuk yang sepantaran atau lebih muda saya malah lebih senang beraku-aku saja😀

*Tampilan WordPress baru ya :D*

4 thoughts on “[Bahasa Banjar] Aku, Ulun, Kamu, dan Ikam

  1. Asik ya mak, jadi orang Indonesia… Duh, jadi kangeeen banget dgn slogan Bhinneka Tunggal Ika. Semoga Pilpres tak bikin kita jadi lupa slogan indah dan menyejukkan itu🙂

    • Sama Balikpapan, Ka. Menasional bahasanya. Banyak bahasa Indonesia. Kecuali bila di kumpulan masing2 suku. Misal org bugis jadi bahasa bugis. Jawa bahasa jawa, banjar bahasa banjar😀 Tapi bahasa banjarnya gen kebahasa2 indonesia😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s