Melawan Lupa atau Memberi Kesempatan Kedua?

Sebenarnya saya enggan mengingat hal ini. Namun banyaknya gerakan melawan lupa di media sosial membuat kejadian ini berkelabat kembali dalam pikiran saya. Gerakan melawan lupa yang saya maksud identik mengingatkan kesalahan orang atau parpol dengan tujuan, mungkin, buat nggak milih parpol atau orang itu. Initnya yang berhubungan dengan kampanye politik. Semacam black campaign? Entahlah. Saya juga enggan membahasnya.

Ini kejadian 4 tahun yang lalu. Yang terjadi persis di malam pilkada di daerah saya. Cerita ini sebenarnya sudah pernah saya ceritakan di MP dulu dan di blogspot saya. satu kejadian yang membuat saya eneg dengan yang namanya partai politik, apa pun parpolnya. Kejadian yang membuat saya berniat golput aja jika ada pemilu karena kepercayaan saya pada yang namanya parpol nyaris sudah tidak ada sama sekali. Walaupun ini tidak berhubungan dengan pengkhianatan atau apa. Tapi lebih kepada sikap yang bikin saya eneg dan bersikap tidak peduli lagi dengan yang namanya politik.

Malam itu, empat tahun yang lalu, saya mendapat sms dari nomor yang tidak dikenal. Sms itu berisi kampanye untuk mendukung salah satu pasangan calon gubernur dan calon bupati dari parpol tertentu. Yang menarik perhatian saya waktu itu adalah isi smsnya, yang menyebut kalau beberapa ulama berkeliling Kalsel agar umat Islam memilih calon yang diusung tersebut. Sms itu menyebutkan beberapa ulama kharismatik di daerah saya, termasuk satu ulama di mana keluarga saya sering mengikuti pengajian pada ustadz tersebut.

Saya pun merasa ada yang salah dari isi sms tersebut. Kata ulama berkeliling untuk menyuruh memberikan suara ke pasangan tertentu tidak sesuai dengan kenyataan yang saya hadapi. Karena satu ulama yang pengajiannya sering keluarga kami ikuti tidak pernah satu kali pun dalam pengajian beliau menyuruh jamaah untuk mencoblos calon tertentu. Lah kalau di pengajian beliau aja nggak ada nyuruh gitu apalagi berkeliling? Hal itulah yang saya pertanyakan hingga saya membalas sms tersebut. Saya mempertanyakan kebenaran sms itu, bukan bentuk membantah.

Lantas apa balasan sms yang saya dapat? Si pengirim sms entah siapa itu justru tidak menjawab pertanyaan saya. Yang dia bahas adalah saya sombong dan tinggi hati, ngerasa alim sendiri dan ngerasa menjadi orang paling baik karena saya berkoar-koar kalau saya rajin datang ke pengajian. Astagaaa… Yang saya tanya apa, dia bahas apa. Ga nyambung.

Saya pun menegaskan lagi pertanyaan saya, kalau yang saya tanya adalah kebenaran isi dari sms itu. Bukan ngebahas soal saya ke pengajian atau lainnya. Tapi, teteup aja si pemilik sms keukeuh menyebut saya sok ngerasa alim, ngerasa shaleh karena datang ke pengajian. Dia juga bilang buat apa ke pengajian kalau bakalan sombong.

Dan kesalahan terbesar saya saat itu adalah saya meladeni smsnya. Dengan menerangkan saya nggak bermaksud sombong bla bla bla, yang saya inginkan adalah penjelasan dari kebenaran isi sms. Dan begitulah, beberapa lama saya terus berbalas sms dengan si entah siapa itu. Yang membuat malam saya jadi berantakan. Sampai di satu titik, saya menyadari perdebatan itu nggak akan ada habis2nya. Jadi, saya hapus semua sms di hape saya termasuk sms yang baru masuk yang belum saya balas. Saya ingin menghilangkan jejak sms itu agar saya tidak berhubungan lagi dengan orang yang tidak saya kenal itu.

Walaupun esoknya saya agak nyesal juga menghilangkan jejaknya, karena saya ingin ngesms dia dengan ketawa ngakak karena calon gubernur yang diusungnya kalah. Hahhahaa….

Tapi ya itulah yang terjadi, kejadian malam itu cukup membekas dalam benak saya. Hingga saya eneg dengan yang namanya parpol. Saya bertanya apa, dia ngebahas apa. Ga nyambung. Dan kejadian ini cukup sering saya temui di media sosial. Ketika orang mengkritik tentang parpol, kader parpol itu kemudian ngebahas tapi dengan bahasan yang nggak nyambung dengan apa yang dikritik.

Sikap ini kalau menurut saya pribadi bikin orang jadi eneg dan agak gimana gitu dengan parpol tersebut. Atau mungkin karena saya sudah eneg duluan? Entahlah.

Lalu, kenapa saya akhirnya tetap memutuskan mencoblos di 9 April kemarin padahal saya eneg dengan parpol mana pun? Mengutip pernyataan dari Sannaha dalam novel Citra Rashmi karya Tasaro GK, saat Sannaha menyelamatkan Purundara dari penjara padahal Purundara telah membunuh adik dari Guru Sannaha. Sannaha mengatakan : “Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua.”

Maka ketika disodorkan pilihan antara melawan lupa atau memberikan kesempatan kedua? Saya memilih keduanya, tidak melupakan kesalahan tapi tetap memberi kesempatan kedua. Karena saya membayangkan diri saya yang banyak juga melakukan kesalahan, apa jadinya jika orang-orang di sekeliling saya tidak memberikan kesempatan kedua buat saya memperbaiki diri? Melawan lupa lebih ditekankan kepada diri saya sendiri kalau mendapat sms sejenis, nggak usah dibahas. Langsung hapus saja.


 

4 thoughts on “Melawan Lupa atau Memberi Kesempatan Kedua?

  1. Tanggung jawab sbg pemimpin itu berat sekali, tp memangapa begitu banyak yang berebut untuk menjadi pemimpin..?? Aaah bukan pemimpin tapi penguasa tepatnya😦

    • Itu karena fasilitas dan gaji yang menggiurkan, Teteh. Kemarin ngobrol sama suami kenapa pada berebut kekuasaan? Coba kata suami penguasa itu fasilitasnya biasa aja dan gajinya juga nggak gede2 amat trus ga bakal ada suap2an dari siapa pun. Pada nggak mau tuh ngecalon.

  2. harusnya mereka nggak usah digaji yah😀
    mungkin sebaiknya yang terpilih adalah orang2 yg sudah kaya sehingga tidak perlu lagi sama gaji, dan gajinya digunakan untuk menolong para simpatisannya yang memerlukan bantuan
    *ngayal*

    • Gajinya jangan terlalu besar gitu, Mas. Jadi yang mau bekerja adalah mereka yang benar2 tulus membangun negeri *duilee bahasanya*. Hehehe….

      Bingung saya ngapain ngeluarin uang milyaran hanya buat jadi aleg. Ihiks…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s