Susahnya Move On dari Buras

Cinta tidak hanya bisa terjadi dari suapan pertama, tapi bisa juga terjadi pada suapan berikutnya. Pakai kata suapan karena kali ini kita bicara tentang makanan🙂

Hari itu bukan pertama kali saya melahap buras yang dijual warung itu. Sebuah warung yang menjual sarapan pagi semacam nasi kuning dan buras yang ada di Handil, kecamatan Muara Jawa, Kalimantan Timur. Sebelumnya sudah pernah membeli buras dan memakannya. Tapi, entah kenapa justru di hari itu saya jatuh cinta pada buras dan susah sekali move on dari dia. Tiap pagi jadinya selalu kepikiran sarapan buras. Bahkan dari malam hari sudah ngitung berapa jam lagi saya bisa sarapan Buras. Hihihi….

Mungkin juga jatuh cintanya itu karena ada teh hangat yang manis yang nikmat surantap. Hari itu saya dan suami memang makan langsung di sana. Biasanya kami hanya beli dan kemudian makan di rumah. Namun, karena saat itu air PDAM matek dan saya mau irit air dengan tidak cuci piring, jadi makannya di sana aja. Kami sama-sama mesan buras dan meminum teh hangat manis yang disediakan gratis yang ada dalam 2 buah teko.

2 gelas teh hangat

2 gelas teh hangat

Duuu… Rasa tehnya luar biasa. Disajikan dalam cangkir duralex yang mengingatkan saya akan masa kecil. Dulu di rumah pakai cangkir seperti ini buat minum sehari-hari, sebelum negara api menyerang. Maksudnya sebelum rumah saya kebakaran tahun 1998 yang lalu.

Gelasnya Mengkilap

Gelasnya Mengkilap

Warungnya juga bersih. Gelas duralex yang tersusun rapi juga terlihat mengkilap. Burasnya juga terasa maknyus, disajikan dengan ikan haruan (gabus) dan telur bebek yang keduanya adalah favorit saya membuat buras terasa begitu sedemikian menggoyangkan lidah saya. Saya pun akhirnya susah move on dari buras ini.

Buras dengan ikan haruan

Buras dengan ikan haruan

Sarapan pagi yang banyak dijual di wilayah Handil, Muara Jawa, Kalimantan Timur ini memang berbeda dengan di daerah saya berasal Barabai, Kalimantan Selatan. Kalau di Barabai kebanyakan menjual nasi kuning dan lontong.

Di Handil sama sih, nasi kuning juga, tapi bedanya selain nasi kuning yang banyak dijual di sini nasi pecel dan buras. Nah, buras ini jarang bener ada yang jual di daerah saya. Biasanya saya menikmati buras ini sewaktu lebaran aja di rumah nenek saya. Itu pun kalau beliau bikin buras. Lebih sering bikin soto banjar.

Kalau di Kalsel, buras ini disebut lapat bakuah. Karena nasi yang dibungkus dengan daun pisang itu memang disebut lapat. Karena kemudian dikasih kuah, maka disebut lapat bakuah. Kalau di Kaltim namanya ya Buras.

Buras dengan telur bebek

Buras dengan telur bebek

Disajikan dengan kuah kacang atau nangka bersantan itu memang bikin sarapan pagi jadi nikmat. Walaupun ya kata orang itu nggak sehat tapi sesekali boleh dong menikmati kuliner khas daerah sini kalau kamu mengunjungi Kaltim😀

“Tulisan ini diikutsertakan dalam GiveAway Yuk Menulis Part 1”

11 thoughts on “Susahnya Move On dari Buras

  1. Saya malah belum kenal makanan yang seperti Buras itu. Tapi lihat gambarnya sedep puuuooolllll ya. Semoga berjaya ya Mak. Oh ya mak, saya add facebooknya jenengan, saya tunggu konfirmsnya ya😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s