Menyimpan Mimpi Bersama dan Untuk FLP

Pada masa putih biru menjadi seragam kebanggaan, saya kecanduan membaca yang namanya cerpen remaja. Cerpen-cerpen yang ada di majalah sebangsa aneka dan anita yang menjadi koleksi kakak saya, saya lahap semua. Setelah habis melahap punya kakak, saya kemudian melahap punya sepupu saya. Setelah semua punya sepupu saya habiskan membaca, saya meminjam majalah dari teman atau membeli majalah bekas yang ada bonus bundelan cerpen. Jaraaaang sekali beli yang baru karena majalah baru mahal!

Saya juga kemudian mulai suka membaca novel. Novel yang saya baca waktu itu kebanyakan adalah novel terjemahan dari negeri mandarin (atau Taiwan?). Karya-karya Chiung Yao selalu menjadi buruan saya saat ke perpustakaan. Waktu ulang tahun saya pun kakak saya menghadiahkan saya dua novel Putri Huan Zhu

Waktu kemudian membawa saya menemukan karya-karya fiksi yang berbeda dari karya-karya fiksi yang selama ini saya baca. Karya fiksi yang membuat hati saya bergetar dan saya beroleh banyak pengetahuan yang selama ini tidak saya ketahui. Karya fiksi yang serasa ada embun yang menetes di hati ketika membacanya. Karya fiksi yang tidak hanya melegakan kehausan saya pada bahan bacaan tapi juga menghangatkan hati dan memberi gizi pada nurani.

Pada karya dalam bentuk kumcer atau pun novel yang saya gemari itu nyaris selalu ada label yang bertuliskan FLP. Lewat sebuah majalah saya kemudian tahu dan mengikuti sepak terjang Forum Lingkar Pena. Lewat majalah itu juga saya tau siapa ketua FLP dan mereka yang bergelut memajukan FLP. Saya mulai mengenal nama-nama seperti Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Melvi Yendra, Ifa Avianty, Afifah Afra, dan banyak lagi yang lainnya. Saya kemudian memimpikan untuk bisa menjadi anggota FLP suatu saat nanti.

Gambar

Harapan saya untuk menjadi anggota FLP menemukan muaranya saat saya kuliah dan tinggal di Banjarbaru. Seorang kakak yang satu departemen dengan saya di satu organisasi bertanya. “Yanti kan suka baca, suka nulis juga nggak? Mau gabung dengan FLP?” Wah. Inilah yang saya tunggu-tunggu selama ini. Menjadi anggota FLP. Tapi, keraguan menghadang langkah saya. Saya suka baca, tapi menulis bagi saya hanya sekadar menulis di buku harian. Saya tidak bisa menulis cerpen atau artikel.

Si kakak kemudian meyakinkan saya kalau saya bisa ikut FLP sambil belajar. Dan saya pun kemudian mengisi formulir pendaftaran anggota. Tapiiii… Hanya sampai di situ saja. Selanjutnya entah saya tidak diberitahu atau memang kegiatan FLP tidak berjalan, saya tak lagi tahu kabar tentang FLP. Ke mana formulir FLP yang saya isi itu berada saya juga tak tahu. Menjadi anggota FLP masih menjadi mimpi saya hingga sekarang.

Kenapa tidak menjadi anggota FLP Balikpapan saja? Halooo, apa kabar FLP Balikpapan?🙂

Saya berdomisili di Handil Muara Jawa, salah satu kota kecamatan di Kalimantan Timur yang jaraknya sekitar 90 km dari Balikpapan. Ke Balikpapan tidak bisa setiap hari dan setiap minggu. Jadinya, saya pernah mengatakan kepada Bu Sekjen FLP agar FLP membuka perekrutan online. Yang bisa memudahkan saya dan teman-teman lain yang di wilayahnya belum ada cabang FLP untuk bisa menjadi anggota FLP. Saya juga berharap kalau FLP Balikpapan, sebagai cabang terdekat yang bisa saya akses bisa aktif kembali dan mewarnai dunia literasi Indonesia pada umumnya dan di Balikpapan khususnya.

Apa harapan saya terhadap FLP? Banyak. Kita tarik mundur dulu ke belakang. Saat saya masih jadi ABG labil. Hahaha… Saya sungguh merasa sangat beruntung tumbuh pada saat masa pencarian jati diri dengan membaca karya-karya fiksi yang bernafaskan islam. Pada saat itu karya-karya para pejuang FLP memang sedang dalam masa keemasan. Karya-karya fiksi itu mewarnai kehidupan saya.

Lewat karya fiksi itu, saya jadi tahu kalau tak seharusnya jilbab yang saya pakai diikat ke belakang (dulu saya doyan banget ikat jilbab ke belakang leher), saya juga jadi mengetahui kalau bergaul dengan lawan jenis itu ada aturannya tidak seperti yang terpampang dalam sinetron-sinetron di TV, dan banyak hal lagi yang saya dapatkan lewat cerita-cerita yang ditulis pejuang FLP. Walaupun dalam perkembangannya saya termasuk bandel dalam menerapkan hal itu di keseharian saya. Tapi setidaknya, hal itu bisa menjaga saya dari pergaulan yang kebablasan. Terima kasih buat para penulis yang karya-karyanya memberikan nilai positif dalam hidup saya.

Sekarang saya bukan ABG lagi, tapi kesenangan saya pada dunia membaca masih sama seperti dulu. Saya masih gemar melahap cerita-cerita, baik itu cerpen atau pun novel. Karya-karya yang saya baca pun kini mulai beragam. Tidak hanya yang bertajuk islami saja tapi merambah ke karya-karya yang lebih umum. Dan terkadang saya merasa miris dengan apa yang saya baca.

Karya-karya fiksi yang mengambil segmen remaja tapi dengan pergaulan yang tidak sewajarnya. Atau novel dengan konten dewasa tapi lewat media sosial saya tahu kalau novel itu banyak digemari remaja. Bacaan seperti itu jika dikonsumsi oleh remaja yang masih dalam pencarian jati diri apa tidak bahaya? Khawatirnya mereka akan menganggap hal-hal seperti tinggal serumah dengan lawan jenis atau pergi berduaan ke satu tempat dengan lawan jenis dan yang sejenisnya adalah sesuatu yang wajar. Padahal agama kita punya aturan yang jelas akan hal tersebut.

Dan dengan membaca jenis-jenis bacaan seperti itu saya berharap karya dari para pejuang FLP lebih bisa mewarnai dunia literasi di Indonesia. Walau saya akui, saya suka dan banyak mengoleksi karya-karya di luar FLP yang yah, yang begitulah. Saya kadang suka penasaran dengan karya-karya yang banyak dibicarakan dan dinilai bagus oleh orang-orang. Saya pun memburu karya itu dan membacanya. Ada memang yang dari segi kualitas menurut saya pribadi bagus. Ada juga yang biasa saja tapi banyak yang suka dan dibaca. Hal ini bisa dilihat dari review yang ada di Goodreads atau yang ada di blog-blog. Coba saja lihat ada satu buku di goodreads yang memberikan bintang di sana sampai ratusan. Banyakkah karya FLP yang seperti itu? Terkadang saya menemukan karya penulis FLP yang memberikan tanda bahwa dia membaca buku itu hanya segelintir orang.

Dalam pengamatan saya, ada dua hal yang harus dibenahi terkait bagaimana agar karya pejuang FLP bisa mencuri hati pembaca. Pertama, tentu saja kualitas. Kualitas tulisan yang bagus yang akan membuat karya itu dicari. Bagaimana mengemas nilai kebaikan bisa menyusup dengan manis ke dalam cerita hingga bisa disukai oleh pembaca. Juga menembus penerbit dan media yang karyanya beredar dengan luas di pasaran tanah air.

Ada mungkin yang ngebatin, ah, karya mereka yang laris di pasaran dan begitu dipuja-puja orang-orang ternyata ya begitu doang. Karya pejuang FLP juga banyak yang lebih bagus. Nah, kita perlu dong mencermati kenapa karya itu laris di pasaran? Bisa jadi karena promo gila-gilaan yang mereka lakukan. Dengan beragamnya latar belakang mereka yang ada di FLP, saya rasa FLP juga bisa kok melakukan promo atas karya sesamanya dengan baik. Yah, mungkin itu memang tugas penulis dan penerbit. Tapi tak ada salahnya kan FLP juga mendirikan divisi promo karya agar karya para pejuang FLP banyak dikenali dan diminati untuk sesuatu yang lebih baik.

Demikianlah secercah harapan saya buat FLP. Entah ini terlalu mengada-ada atau bagaimana tapi saya berharap FLP bisa lebih baik dari hari ke hari dan bisa mewarnai dunia literasi Indonesia dengan warna yang mencerahkan. Bersama kita bisa ya FLP *kayak slogan partai deh*

Selamat Milad yang ke 17 buat FLP. Salam dari saya di Borneo yang masih menyimpan harap untuk menjadi bagian darimu.

Gambar

 “diikutkan dalam giveaway sehari dalam rangka milad FLP blog Nunu el Fasa”

18 thoughts on “Menyimpan Mimpi Bersama dan Untuk FLP

    • Iya, Mas. Saya juga pernah lihat. Mungkin itu pertanda kalau yang nulis adalah anggota FLP ya. Tapi, nggak tahu juga sih🙂
      Setahu saya dulu ada penerbit yang namanya Lingkar Pena publishing House alias LPPH. Tapi sekarang sudah berubah nama NouraBooks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s