Setelah Menonton Film 12 Menit untuk Selamanya

Gambar

Saya menunggu-nunggu film ini setelah jatuh cinta pada novelnya yang wow luar biasa bagi saya. Direncanakan tayang desember tahun kemarin, tapi ditunda hingga akhir januari. Ceritanya sama dengan di novel karena memang novel itu ditulis berdasarkan skenario filmnya. Penulis skenario dan penulis novelnya juga sama : Oka Aurora.

Yang mau lihat sekilas tentang ceritanya ada di review novel yang sudah saya tulis di sini

Lalu, bagaimana kesan saya setelah menontonnya?

Openingnya aja udah bikin saya nangis. Melihat tim marching band latihan dengan setting alam Bontang bikin saya terharu. Saya suka sekali melihat mereka latihan di tempat yang terbuat dari kayu (apa sih namanya) di tepi laut itu. Pemandangan yang ditawarkan baguss. Bikin pengin ke Bontang.

Memilih mereka yang memang berkecimpung dalam dunia marching band buat menjadi pemeran Elaine, Tara dan Lahang ada plus minusnya. Plusnya tentu saja mereka bisa melebur dalam tim marching band, memainkan alat musik sesuai keahlian mereka tanpa digunakan pemain pengganti. Teringat dulu ada aktris yang ada adegan main piano tapi dia nggak bisa main piano, jadinya ada pemeran pengganti yang memainkan piano. Tangannya aja yang terlihat main, padahal itu bukan tangannya si aktris. Dalam 12 menit hal itu tidak terjadi karena mereka memang pemain marching band sebenarnya.

Untuk logat bahasa yang digunakan juga demikian. Tidak masalah untuk Tara dan Elaine. Karena mereka adalah pendatang di Bontang yang jika tidak memakai logat asli bukan sebuah ketimpangan. Tapi, berbeda dengan Lahang, Lahang adalah anak Bontang yang lahir dan besar di Bontang. Dan untuk logat bicaranya dapaaat banget tentunya. Mendengar Lahang berbicara dengan teman-temannya serasa mendengar sekelompok pemuda ngobrol di Kampung Baru Balikpapan. Hahahaha….

Beberapa kali Lahang bicara juga mengundang tawa di studio tempat saya menonton. Tertawa bukan tidak pas logatnya. Tapi, tertawa senang karena logat sehari-hari yang mereka gunakan ada di layar lebar bioskop, lewat Lahang dan teman-teman.

Namuuuun… Menggunakan mereka yang serba baru di dunia akting tentu lah tidak bisa mengharapkan kualitas akting sebaik Reza Rahadian. Ya iya lah…. :p

“Duh, jelek banget aktingnya.” Kata penonton di sebelah saya. Saya yang mendengar hanya tersenyum miris. Mencoba tidak setuju dengan sematan kata banget. Walau untuk kata sebelum banget, saya bersepakat *maaf*

Saat Lahang berkata pada kak Rene “Kita harus menang, Kak.” *Sluuurrrp* *suara seperti terisak dengan seperti menahan sesuatu yang ada di hidung* “Kita harus menang, Kak.” *Slurrrrp lagi*. Tapiii… Mana air matamu, Lahang? Kok cuma slurrp slurrp ajaaaa….

“Pa,” Elaine bicara dengan papanya. Dengan ada satu bulir airmata di pipi. Dududu, saya gregetan melihat satu bulir airmata itu nempel di pipi. Tidak bergulir sedikit pun dari tempatnya dari awal Elaine bicara sampai pembicaraan selesai. Mengapa bulir airmatamu tidak bergulir, Elaine?

Mungkin saya terlalu ngarep emosi yang ditampilkan para pemainnya seperti emosi dalam imajinasi saya ketika membaca novelnya. Tapi, semangat yang ada di novelnya juga kerasa kok pada filmnya. Apalagi dengan karakter kak Rene yang diperankan dengan baik oleh Titi Rajo Bintang. Kelihatan tangan dinginnya dan keras kepalanya dalam melatih. Berapi-api menyemangati timnya. “Selesaikan apa yang sudah kalian mulai. Jangan berhenti di tengah jalan. Kalian melakukan ini semua bukan untuk siapa-siapa. Tapi, untuk diri kalian sendiri. Saat kalian mundur dan kalah, kalian bukan mengecewakan orang lain. Tapi kekecewaan terbesar akan dirasakan oleh kalian sendiri.” *Jleb banget deh*

Latihan demi latihan, omelan demi omelan, dan kesalahan-kesalahan yang harus diperbaiki oleh para tim marching band itu menunjukkan semangat mereka untuk tampil sempurna. Berlatih ribuan jam untuk 12 menit yang akan dikenang selamanya.

Pada saat pelepasan tim marching band ke Jakarta, itu juga yang dadah-dadah kok dikit banget siiih. Padahal yang dilepas kan ada 130 orang. Yang dadah-dadah paling banyak 10 orang. Coba gitu panggil saya yang di Handil ini buat ikutan dadah-dadah juga. Hahahaa…

Saya menanti penampilan 12 menit mereka di akhir film. Berharap menyaksikan full penampilan 12 menit. Tapi, kok cuma 6 menit sih, Kaka? Padahal emang bagus bener lho penampilannya. Dibandingkan dengan yang tampil sebelum-sebelumnya penampilan marching band PKT Bontang itu memang sesuatuuu banget.

Saya juga melihat hasil latihan mereka yang tidak sekadar memainkan alat musik, menguasai nada tapi juga mereka harus berlatih menyesuaikan langkah, membentuk formasi-formasi dan melakukan atraksi-atraksi dalam penampilan 12 menit itu. Kebayang lah latihannya pasti nggak mudah. Memang perlu latihan ribuan jam.

Akhirnyaaa… Memang sebuah film itu sutradara yang ngatur, para pemain film yang ngejalanin dan penonton seperti saya yang bagian komentarin.

Vincero! Saya Akan Menang!

19 thoughts on “Setelah Menonton Film 12 Menit untuk Selamanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s