[Wiskul Balikpapan] Akhirnya, Kambing pun Tak Lagi Lapas

“Kambingnya lapas.” Itulah istilah yang akrab dengan saya ketika belum bisa menikmati kambing. Biasanya gini, kalau nyari lauk kambing di warung langganan, atau ada kenduri tapi tidak ada menu kambing. Maka sebutan kambing lapas itu lah yang sering dikatakan untuk memberi tahu kalau tidak ada menu kambing.

Istilah kambing lapas ini bukan berarti ketika kambing mau disembelih tapi lepas dari jeratan, tapi emang biasa disebut kalau tidak ada menu kambing. Emang tidak disediakan gitu. Ngerasa mbulet menjelaskan tentang kambing lapas ini😀

Karena saya dua kali ke tempat makan, di Gunung Kawi dan Kafe Betawi tapi belum berjodoh dengan menu nasgorkamnya, maka kemudian pada satu hari saya mengajak suami untuk bertandang ke rumah makan yang khusus menjual kambing. Kalau ke sana pun nggak tersedia menu kambing, berarti benar-benar deh nggak berjodoh sama kambing.

Tentang ada tempat makan yang menjual sate kambing enak di Balikpapan sudah saya ketahui sejak lama. Saya pernah kesasar ke blog seseorang yang bercerita tentang kota Balikpapan. Di mana dia menyebut kalau salah satu kuliner yang mesti diburu di Balikpapan adalah sate kambing. Wuiih, mendengar kata-kata seperti itu penasaran dong saya. Tapi karena tidak dijelaskan dengan rinci di mana letak tempat makan itu, saya jadi nggak bisa mengajak suami ke sana.

Nah, kembali saat saya menelusuri postingan di dapurbalikpapan.com, dari sana saya mengetahui kalau sate kambing itu berada di Jalan Tanjungpura I, Belakang Kantor Inhutani/Angkringan, Kawasan Kuliner Belakang Kantor Pos dengan nama Tanjung Hijrah. Jadi ke sana lah saya dan suami. Dan Alhamdulillah… Akhirnya berjodoh dengan kambing. Hahahha….

image

Penampakan bagian dalam Tanjung Hijrah

image

Pura-pura tidur

Kami mesan sate kambing aja dengan nasi. Disajikan panas-panas from pemangganggan, sate kambingnya benar-benar menggugah selera. Ada 2 saos yang menyertai si sate kambing. Saos kacang dan satunya lagi kecap dengan taburan bawang merah yang diiris tipis dan cabe rawit yang juga diiris tipis. Suami saya memilih untuk mencampur 2 saos itu, sementara saya lebih menikmati mencocol sate kambingnya di saos kecap saja. Favorit saya ituuuu….

image

Sate Kambing dengan 2 saos

Kambingnya empuk dan tidak ada lemak-lemaknya. Jadi satu tusuk kambing itu full daging aja. Harga per tusuk 4 ribu rupiah. Murah atau mahal itu relatif. Tapi, ini daging kambing loh, kakaaaaa. *mau bilang harganya wajar lah segitu*

image

Nasi plus sambal2an

Ada menu lain di sana seperti sop kambing, krengsengan dan…. Tapi yang menarik perhatian saya ya cuman sate kambing itu aja.

12 thoughts on “[Wiskul Balikpapan] Akhirnya, Kambing pun Tak Lagi Lapas

  1. Heripan says:

    Pas anak ulun handak banar makan sate…tutup…padahal udh pegel injak gas dr dikawasan batu ampar ke blakang kantor pos, jauh sih ngga, tapi macetnya itu…ya kecewa sih…akhirnya ya dapet di ringroad, samping maxi..lumayan satenya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s