Eureka! Aku Menemukanmu

Image

Entah karena saya seorang dramaholic, suka baca novel yang dramatis dan ditambah kadang kejebak nonton sinetron pulak, sehingga ada satu pemikiran yang menggangu kesenangan saya saat mau menikah dulu. Apa itu? Saya takut nggak bisa jatuh cinta sama suami saya sendiri. Khawatir kalau pas abis nikah perasaan saya biasa atau malah ilfil sama seseorang yang berstatus sebagai suami.

Kenapa bisa pemikiran itu ada? Kalau orang yang udah kenal banget sama saya  juga menjadi tempat curhat saya pasti tau deh kalau saya ini orangnya sering khawatir. Sering berpikiran yang jauh-jauh sampai menara pisa sana. Kalau kakak saya dulu bilang, ibaratnya main catur, sebelum melangkah saya bakalan mikirin 2-3 langkah lanjutannya. Bagus dong, Yan? Yeee… Hal itu malah bikin saya jadi peragu buat melakukan sesuatu. Termasuk soal menikah. Ihiks.

Seperti yang saya bilang di awal tadi, saya takut nggak bisa jatuh cinta sama suami saya sendiri. Emmm, ketakutan saya ini ada alasannya sih. Duluuu, waktu masih dalam masa jahiliah *sekarang udah tobat, Bok! Ya iya lah dah jadi istri orang sih :p* saya kan pernah tuh suka sama beberapa orang. Teman cowok gituh. Nah, giliran orangnya juga menunjukkan indikasi suka ama saya, saya bawaannya kabuuur. Jadi ilfil. Dan entah kenapa perasaan suka itu meluntur seluntur-lunturnya. Maunya saya sih kalau saya suka, dia nggak usah ikutan suka. Haghaghag…

Nah, bagaimana jika menikah? Apa saya bakalan seperti itu? Apa saya bakalan ilfil dengan suami sendiri? Trus kalau itu kejadian bagaimana? Padahal saya dan dia udah diikat dengan yang namanya Mitsaqan Ghaliza kan ya. Perjanjian yang kuat. Jadi, gimana dong? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi benak saya.

Bukannya saya nggak suka dengan beliau yang meminang saya itu. Saya akui kecendrungan itu ada. Bahkan, hanya dengan beliau itulah yang hati saya bisa menerima. Yang hati saya bisa berkata, ya, saya mau menikah dan kemudian memprosesnya hingga menjelang hari-hari menuju pernikahan. Tapi, ya itu lah kekhawatiran nggak jelas juntrungannya itu menyeruak ke permukaan menjelang hari-hari pernikahan.

Saya pun mencoba mengingat-ingat hal-hal manis tentang pernikahan yang pernah saya baca di buku-buku tentang pernikahan yang sudah saya konsumsi sejak masih berseragam putih abu-abu. Atau novel-novel tentang rumah tangga yang so sweet banget gitu loh. Berharap bisa menyingkirkan segala kekhawatiran saya itu jauuuh ke planet jupiter sana. Tapi ternyata kekhawatiran itu masih saja enggan beranjak dari benak saya.

Sampai kemudian, di sela persiapan menuju pernikahan, tilawah saya sampai pada satu ayat yang ketika menemukannya saya rasanya ingin bersorak : Eureka!

Ini loh jawaban akan segala kegundahan saya. Saya tertegun dan terharu ketika membaca ayat itu. Saya merasa begitu dicintaiNya. Saya kan tilawah sekadarnya saja, nggak ada deh yang namanya waktu itu one day one juz. Dan dalam tilawah saya yang sangat sedikit itu, Allah memberikan jawaban akan kegalauan saya. Dalam surah Ar-Rum ayat 21. Iya, bener, itu firmanNya yang kerap tertulis di undangan-undangan nikah tapi saya baca maknanya sekadarnya dan kemudian terlupa. Padahal di sanalah letak jawaban apa yang beberapa hari itu saya khawatirkan.

  Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Kata-kata ‘dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang’ itu loh, Kaka, yang bikin saya tersedu ketika membacanya. Saya nggak seharusnya khawatir kalau nantinya bagaimana-bagaimana dengan perasaan saya setelah menikah. Toh, Allah sudah mengatakan dalam firmanNya yang saya yakini kebenarannya. Kalau Dia akan memberikan rasa kasih sayang di antara pasangan.

Saya mendapat jawaban dan juga ketenangan dari apa yang saya khawatirkan selama ini yang ternyata ada dalam Al-Qur’an, bukan dalam novel-novel atau cerita drama-drama yang pernah saya lahap.

Dan semuanya terbukti setelah menikah. Saya berkali-kali jatuh cinta pada orang yang sama. Suami saya. Beliau selalu menjadi pendengar yang baik buat saya bercerita. Untuk seseorang sanguinis seperti saya, yang merasa segala hal selalu penting untuk diceritakan, tentulah butuh seorang pendengar yang baik. Selain itu tentu saja banyak hal-hal lainnya, sepanjang interaksi kami yang membuat hati saya menghangat dan merasa dilingkupi cinta kepadanya. Perhatiannya, cara beliau memanjakan saya, memberikan kemewahan akan kesenangan saya, dan banyak hal lainnya termasuk yang lazim disebutkan para pasangan : mencintai saya apa adanya. Haghaghag…..

Semoga cinta ini terus tumbuh sepanjang usia kami dan bisa bersama lagi di surgaNya. Aamiin…. *Doakan yaaaa*

Numpang narsis di es teller 77 ewalk Balikpapan

Sekarang sama-sama pakai kacamata😀

“tulisan ini disertakan dalam Giveaway Novel Perjanjian yang Kuat.”

17 thoughts on “Eureka! Aku Menemukanmu

    • Waaah… sama lagi. Bertemu orang2 yang suka berpikir kejauhan. Hihihi… Mungkin lebih banyak org yang mikir jauh gitu ya mas, ketimbang berpikir simpel.

      Aamiin… Makasih, Mas Dani🙂

  1. BSF says:

    Dulu suka mikir terlalu jauh juga, tapi berhubung banyak yg gak sesuai harapan, jadi lebih selektif, apa aja yg bisa dan harus dipikirkan jauh ke depan, apa aja yg gak perlu, yg terpenting matangkan persiapan aja..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s