Menguliti Cinta dan Patah Hati

Choi Young Do sungguh salah langkah. Salah satu tokoh dalam drama Korea yang berjudul The Heirs ini tertarik dengan Cha Eun Sang. Dalam ketertarikannya itu, Choi Young Do tidak memberikan pujian dan rayuan tapi malah menimbuni si gadis dengan kengerian oleh sikap bandelnya. Jelas saja, Cha Eun Sang tidak tertarik. Andai Choi Young Do mengubah strategi, memberikan rayuan kepada Cha Eun Sang mungkin akan terlihat hasil yang berbeda.

Rayuan dan pujian memang kerap dinilai sebagai gombalitas semata, tapi semua itu akan membuat seseorang merasa teristimewa jika dilakukan berulang kali. Hal itulah yang disebut kaidah reciprocity effect. Seorang gadis yang mulanya sebal pada pemuda X, tetapi pemuda X selalu rutin menyambangi, memuji berulang-ulang, merayu berulang kali, pada akhirnya perasaan tawar si gadis luntur dan berbalik lunak (Hal 35)

Kaidah reciprocity effect ini bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang paham akan hal tersebut untuk mempermainkan wanita. Tapi, hal ini juga perlu diketahui agar para wanita bisa membangun benteng yang kuat agar tidak mudah terpedaya oleh rayuan dan pujian. Bagi pasangan yang sah, tentu saja hal ini bisa dimanfaatkan untuk kelanggengan hubungan. Selalu bersikap romantis pada pasangan, tak segan memberikan pujian dan rayuan bisa kembali menghangatkan sebuah hubungan.

Masih tentang drama Korea The Heirs, Lee Bo Na, seorang teman sekalas Cha Eun Sang selalu memandang khawatir pada persahabatan Cha Eun Sang dengan kekasihnya, Yoon Chan Young. Lee Bo Na berpendapat, dalam persahabatan antara cewek dan cowok itu tidak ada yang sejati. Benarkah demikian? Banyak pihak setuju dengan pendapat Lee Bo Na. Tapi, toh, sampai akhir episode Lee Bo Na tidak menemukan hubungan yang aneh antara Cha Eun Sang dengan Yoon Chan Young. Mereka memang bersahabat saja.

Apa yang mendasari sebuah persahabatan terjalin? Bisakah tidak ada cinta yang terlibat di dalamnya? Menurut Robert Stanberg, seorang psikolog dan peneliti yang mendalami kecerdasan atau IQ, hubungan interpersonal memiliki tiga komponen yang terdiri dari intimacy, passion, dan commitment. Intimacy mengacu pada kehangatan, kedekatan, dan hal berbagi dalam suatu hubungan. Passion mencakup dorongan-dorongan, termasuk daya tarik seksual. Sementara commitment adalah keinginan serta kesungguhan untuk memelihara hubungan meskipun penuh kesulitan dan pengorbanan. (Hal 42)

Dari tiga komponen itu, friendship atau persahabatan hanya punya satu komponen yaitu intimacy. Tidak ada rasa lebih yang muncul selain untuk berbagi kehangatan, kedekatan, perasaan terikat satu sama lain, tanpa keinginan untuk melakukan hal-hal yang lebih intim atau memunculkan komitmen. (Hal 43)

Oke, sekarang kita tinggalkan drama Korea The Heirs yang tokoh-tokohnya saya ceritakan di atas. Kini, kita berpindah kepada kasus saya. Suatu hari saya melakukan sebuah perjalanan dan berkumpul dengan para istri. Saat itu hanya saya sendiri yang belum menikah. Salah seorang dari mereka berkata kepada saya, “Bagi seorang istri, suaminya adalah pria paling tampan sedunia. Meski pun di luar sana ada banyak pria tampan, baik atlet, selebritis atau siapa pun, tapi suami tetap juara soal ketampanannya.”

Jelas saja kening saya berkerut mendengarnya. Saya dilanda penasaran dan baru bisa membuktikan kebenarannya bertahun-tahun setelah kejadian tersebut. Tentu saja kebenaran itu terbukti setelah saya menikah.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Itulah perilaku cinta. Bagi orang lain, si kulit hitam tak menarik. Tapi untuk si X, dialah makhluk paling menawan hati. Bagi orang lain, gadis cerewet sangat menyebalkan, tapi bagi pemuda Z, dia justru teman paling asyik. (Hal 55)
Hal itu terjadi karena Sensasi dan Persepsi. Sensasi adalah stimulasi atau rangsangan pada organ sensori. Sementara persepsi adalah seleksi, organisasi, dan interpretasi terhadap hal-hal yang masuk lewat indera sensori. (Hal 81)

Hal inilah yang berbeda satu dengan yang lainnya. Ketika sesuatu bagi seseorang menarik, bisa berbeda dengan yang dirasakan oleh orang lain. Tergantung sensasi dan persepsi yang dirasakan masing-masing.

Apa yang saya sampaikan di atas saya dapat dari sebuah buku berjudul Kitab Cinta dan Patah Hati. Sebuah buku yang menguliti tentang cinta juga patah hati, yang ketika membaca ulasan-ulasan di dalam buku tersebut, kita bisa mengidentifikasikan dengan kasus-kasus yang terjadi di sekitar kita. Baik yang terjadi langsung pada diri kita, pada orang terdekat kita atau pada cerita fiksi yang kita tonton dan kita baca.

Sinta Yudisia, penulisnya kembali menunjukkan kepiawaiannya mengemas latar belakang keilmuan beliau di bidang psikologi dalam sebuah buku yang bisa dinikmati oleh banyak pihak. Keahlian penulis dalam menulis banyak karya fiksi juga berimbas pada karya non fiksi beliau yaitu pada pilihan kata-kata yang terasa manis dan apik jadi membuat nyaman untuk dibaca.

Masalah cinta memang kerap diidentikkan dengan cinta pada lawan jenis dan kemudian berujung pada pernikahan. Buku ini pun setelah mengupas tuntas tentang cinta mencoba fokus kepada hal tersebut. Bagaimana bersikap saat jodoh tak kunjung datang, bagaimana saat sudah menikah kita menjalani dan mempertahankan cinta, juga yang tak kalah menariknya buku ini juga menyajikan kisah-kisah cinta sejati yang bisa ambil keteladanan di dalamnya. Hal ini membuat buku ini bisa dinikmati siapa saja, baik mereka yang tengah menjalani pernikahan atau mereka yang masih dalam masa lajang.

Sebagai seorang penulis yang sudah punya personal branding sebagai penulis islami, buku ini juga menyajikan bahasan-bahasan tentang cinta dari sudut pandang Islam. Hal yang membuat buku ini semakin bermakna.

Cinta, seharusnya membawa manusia mengorbit lebih tinggi. Melesat lebih jauh, memberikan semangat produktifitas lebih besar. Demikian memang, saat cinta digantungkan pada pasak tertinggi, melebihi jangkauan bintang dan hamparan langit. Cinta yang disandarkan pada penguasa ‘arsy semata. (Hal 119)

Pada pembahasan tentang Skala Cinta menurut Zick Rubin, ada quistioner yang diberikan untuk pembacanya. Tentang poin-poin yang perlu menjadi titik tekan bagi harmonisasi cinta. Sayangnya tidak ada skala nilai yang diberikan dalam quistioner tersebut. Sehingga pembaca seperti saya menjadi bingung untuk mengisinya. Pembaca diminta menilai sendiri, berapa besaran angka tanpa ada rujukan juga tentang nilai ideal dari hasil menjawab quistioner tersebut.

Sesuai judulnya yang memuat kata Patah Hati, buku ini juga bertutur tentang Broken Heart di penghujung bukunya. Menjelaskan tentang definisi patah hati dan bagaimana menyikapinya jika keadaan itu menghampiri kita. Dan seperti halnya pada bab cinta yang memuat tentang kisah-kisah cinta sejati, bagian patah hati juga menyajikan cerita-cerita tentang patah hati yang terkenal di seantero dunia. Dari kisah Cleopatra sampai Maralyn Monroe.

Judul : Kitab Cinta & Patah Hati
Penulis : Sinta Yudisia
Penyunting Bahasa : Mastris Radyamas
Penerbit : Indiva
Tahun terbit : 2013
Tebal dan Ukuran Buku : 384 hlm.; 19 cm
Harga : Rp. 49.000,-

ISBN : 978-602-8277-99-0

image

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Resensi Buku Indiva 2013

20 thoughts on “Menguliti Cinta dan Patah Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s