Menyesap Nikmatnya The Mocha Eyes Racikan Aida M.A.

Seorang cowok populer jatuh cinta dengan seorang cewek yang anti sosial. Ketika cowok itu selalu mendapat perhatian para cewek, sementara hanya cewek yang ditaksirnya itu saja yang tidak menunjukkan ketertarikannya. Hal yang sudah biasa kita temukan di fiksi romance kan? Biasa tapi tetap laris manis. Laris manisnya karena mungkin para penikmat fiksi romance ngerasa dekat dengan tokoh si cewek. Ngerasa gue banget gituh. Dan merasa mimpi terwujud dengan ditaksir cowok populer😀

Hal itulah yang juga diangkat dalam cerita di sebuah novel yang berjudul The Mocha Eyes karya Aida M.A. Walau mengangkat tema percintaan yang sudah lazim, tapi the mocha eyes dikemas dengan sangat cantik oleh penulisnya dengan menampilkan latar belakang di balik sikap anti sosial si tokoh utama dan latar belakang pekerjaan yang jarang diangkat dalam novel sejenis.

Muara, seorang gadis yang dikenal pintar, periang dan cantik yang kehidupannya seketika berubah dari coklat yang manis, menjadi kopi yang hitam pekat tanpa gula akibat pelecehan yang pernah dialaminya. Belum lagi akibat pelecehan itu, Muara juga harus kehilangan ayahnya yang merana melihat anak gadisnya dinodai. Perjalanan waktu kemudian membuat Muara jatuh cinta, tapi pria yang dia cintai justru mengkhianatinya. Tiga hal yang membuat hidup Muara tak lagi mengenal perasaan bahagia.

Dari ketiga hal yang menyebabkan traumatis pada diri Muara, trauma pertama mendapat porsi paling besar dalam kehidupan Muara yang berubah muram. Penulisnya pun mencoba menyajikan kehancuran perasaan korban pelecehan seksual. Pemerkosaan itu menyebabkan seorang yang masih hidup tampak seperti mayat. Pelakunya pantas dihukum yang sebesar-besarnya.

The Mocha Eyes juga menghadirkan setting pekerjaan yang mempercantik novel ini. Muara yang kerap dipanggil Ara bekerja di sebuah restoran fast food. Seluk beluk pekerjaan ini diceritakan dengan apik. Penulisnya bahkan riset langsung ke lapangan untuk menuliskan detail ini.

Pekerjaan lain yang mewarnai latar novel ini adalah trainer. Fariz, seseorang yang dikenal Maura dalam training yang diadakan perusahaan tempat dia bekerja adalah seorang trainer yang kerap membantu orang-orang untuk bangkit dari keterpurukan. Fariz juga lah yang berusaha membantu Muara untuk keluar dari dunia hitamnya.

Kata-kata motivasi untuk bangkit dari kelamnya masa lalu dan memaafkan apa yang terjadi pun cukup banyak mewarnai lembar demi lembar novel ini. Baik dari tokoh ibu maupun tokoh Fariz. Hingga tiap lembarnya sayang untuk dilewatkan.

Perasaan manusia itu seperti cangkir, setiap saat diisi dengan berbagai macam hal. Kamu tidak akan merasakan bahagia, jika kamu membiarkan cangkirmu diisi penuh dengan sesuatu yang rasanya pahit. Rasa cangkirmu itu berdasarkan apa yang kamu pilih! (Halaman 77)

wpid-20131228_213331.jpg

The mocha eyes juga mengambil dua sudut pandang penceritaan yang berbeda dalam ceritanya. Novel kedua yang saya temukan menggunakan dua PoV ini setelah Frankfurt to Jakarta. Bagian Muara diceritakan menggunakan sudut pandang orang pertama, sedang cerita tentang tokoh lainnya menggunakan sudut pandang orang ketiga. Cukup membingungkan di awal, tapi setelahnya bisa dinikmati.

Saya juga suka filosofi mocha yang terrangkum dalam novel ini. Mocha yang merupakan perpaduan antara kopi dan cokelat difilosofikan sebagai cinta dan kehidupan. Ada coklat yang manis sebegai penanda kesenangan-kesenangan dalam hidup. Juga pahitnya kopi sebagai simbol dari hal yang membuat sedih di hati. Bercampur dalam satu gelas kehidupan, tinggal bagaimana kita menikmatinya. Apakah kita fokus mencari rasa pahit dalam segelas moka atau menyusuri rasa manisnya saja. Tapi yang sebenarnya adalah bagaimana kita menikmati perpaduan kedua rasa itu hingga kita bisa menyesap mochaccino dengan pikiran yang tenang.

Begitulah cerita saya selepas menyesap The Mocha Eyes. Walau hadir dengan ending yang mudah ditebak, tapi liku-liku cerita hingga ke ending di sajikan dengan baik. Sehingga The Mocha Eyes tampil begitu menawan di mata saya.

  Aku percaya bahwa dalam setiap penciptaan sedih juga disiapkan penciptaan bahagia, hanya persoalan menunggu waktu saja.

Judul : The Mocha Eyes
Penulis : Aida M.A
Penyunting : Laurensia Nita
Penerbit : Bentang
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku : x+250 halaman

image

6 thoughts on “Menyesap Nikmatnya The Mocha Eyes Racikan Aida M.A.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s