Saya dan Kakak

Waktu membaca Amelia, buku terakhir dari serial anak-anak mamak, saya dibuat menangis tersedu-sedu. Pada bagian, saat Amelia merasakan kasih sayang begitu tulus dari Eliana, kakak sulungnya. Saat membaca Amelia, saya memang merasa punya kedekatan khusus dengan anak bungsu di serial anak mamak ini. Karena yaaa… kami sama-sama anak bungsu. Merasa iri dan tertindas dengan kakak-kakak, tapi justru juga merasa dicurahi sayang oleh kakak-kakak,

Saya dan kakak bukan tipe yang bisa mengungkapkan perasaan sayang. Malahan, kami sering bertengkar atau saling beradu pendapat betapa tidak sayangnya kami satu sama lain. Semisal kejadian beberapa hari yang lalu. Entah apa awalnya kami berbicara soal kematian. Kakak bilang pada saya, kalau dia meninggal lebih banyak yang menangisi dia ketimbang kalau saya yang berpulang. Tak mau kalah saya pun menjawab, “Iya, banyak yang nangis. Tapi cuma sehari habis itu blasss orang-orang lupa. Kalau ulun mati, walau sedikit yang menangisi tapi tangisannya lama dan abadi. Terus dikenang.”

Kemarin juga, saat kami mendengar ada seseorang yang sama-sama begitu kami kagumi ternyata kesehatan beliau tak begitu bagus, spontan saya berkata, “Semoga beliau panjang umur. Lebih baik ulun deh, Ka, yang meninggal duluan asal beliau panjang umur.” Dan si kakak pun menanggapi ucapan saya. “Nyata ae. Baik km yang mati badahulu.” Ahahaha… kesannya sadis bener ya komentarnya. Tapi kami dah terbiasa saling komentar pedas kayak gitu.

Walau begitu… Walau nyebelin dan ucapannya sadis bin pedas, saya tau kok kalau kakak saya itu sayang bener ama adik bungsunya ini. Ihihihi… Geer deh.

Contoh realnya saya temukan hari ini. Jadi dari kemarin saya sakit. Coba minum obat nggak mempan, coba dengan pengobatan tradisional juga nggak ngaruh. Akhirnya memutuskan buat pergi ke dokter saja. Saya bilang ke mama, saya mau pergi sendiri saja. Soalna kalau minta ditemenin mama, saya yang ngebonceng mama naik motor takut ga kuat. Dan si kakak yang mendengar hal itu langsung deh nawarin kalau dia aja yang antar saya ke dokter. Saya cuma nyengir dan ngoceh, ‘sayang jua pian ka lah lawan ading.’ Hihihihi… Si kakak cemberut mendengarnya.

Saya juga jadi teringat saat saya sakit Ramadhan beberapa tahun yang lalu. Saat itu kalau siang sampai berbuka badan saya akan kena demam tinggi dan lemas banget. Tapi kalau sudah berbuka akan terasa lebih baikan. Karena waktu berbuka dan sampai sahur merasa baik-baik saja, maka saya selalu memaksa buat shaum. Walau ya lagi-lagi besoknya demam dan lemas (Belakangan diketahui kalau saya kena radang tenggorokan. Jadi saat saya tidak mengkonsumsi air dalam waktu yang lama akan demam). Si kakak melihat saya memaksa shaum pun kemudian ngomel-ngomel.
“Allah tuh ngasih keringanan, kalau sakit boleh nggak puasa. Ini diberi keringanan malah maksa-maksa puasa,” omelnya sambil melotot ke arah saya. Walau diomelin, tapi saya ngerasa sekali ada kasih sayang dalam omelannya itu. Itu hanya dua contoh, dan banyak lagi contoh-contoh lain yang kadang saya suka lupa dan kalau udah dia bersikap nyebelin, saya kesal bukan main. Dan merasa dia kakak yang paling nggak sayang sama adeknya sedunia. Hahahaha….

6 thoughts on “Saya dan Kakak

    • Ini cerita saya sama kakak tengah lho, teteh. Kalau sama kakak sulung rada akur dikit. Sama kakak tengah ini sering berantem, mungkin karena usia kami yang dekat banget. Cuma beda 20 bulan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s