Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta – Tasaro GK

image

Tadinya saya mengira Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta adalah sebuah novel. Kangen buanget dengan karya Tasaro GK yang serupa dengan Galaksi Kinanthi. Novel panjang yang manis dramatis yang membacanya bikin saya serasa menjalni sebuah perjalanan yang panjang. Tapi sayangnya, TSKdC bukan novel melainkan sebuah kumpulan cerpen, dan ketika saya mengetahui kalau bukan novel, saya mengurungkan niat buat membelinya. Terlebih pas ngecek harganya di toko buku besar, perlu banyak rupiah buat mendapatkannya.

Mahalnya buku ini mungkin disebabkan oleh tampilan bukunya yang terlihat Wah. Penuh warna. Ada frame berwarna di tiap halaman, warnanya seragam untuk halaman-halaman di bab yang sama, ketika berpindah bab, warnanya beda lagi. Jadinya ketika dilihat dari samping serasa menatap rainbow cake. Hal itu jadi bikin saya bertanya-tanya, yang penting itu isi tulisan atau tampilan? Kalau tampilan sebuah buku bikin harga buku melambung tinggi kan pembeli buku yang rada-rada sok kepengin hemat seperti saya ini mikir 4-5 kali buat belinya. Semoga ke depannya karya-karya Tasaro lebih ramah di kantong deh.

Selain tampilannya yang agak ‘Wah’ gitu, TSKdC juga dihiasi dengan lukisan-lukisan dari seseorang yang bernama Dredha Gora Hadiwijaya. Yah, saya akui saya faqir jiwa seni, hingga lukisan-lukisan itu tak saya mengerti maknanya dan gagal saya nikmati keindahannya.

Ketika membuka lembar persembahan buku ini, saya juga kaget sendiri mendapati buku ini ternyata dipersembahkan untuk seorang penulis ternama yang juga seorang penyanyi yang dimiliki negeri ini. Siapa lagi kalau bukan Dewi “Dee” Lestari. Hal itu juga yang membuat ingatan saya seketika melayang pada sebuah karya Dee : Rectoverso. Kumpulan cerpen Dee yang juga di dalamnya bukan hanya ada cerpen tapi juga ada lirik lagu. Jika rectoverso antara cerpen dan lirik lagu, TSKdC adalah cerpen dan lukisan.

Sama halnya dengan Rectoverso, TSKdC menampilkan cerpen-cerpen yang beda, yang lain dari biasa. Terlebih nama seorang Tasaro GK memang dikenal sebagai seseorang yang piawai meracik cerita, sang juru dongeng. Tema-tema yang sebenarnya banyak diambil oleh para cerpenis lain tapi disuguhkan dengan unsur-unsur pembangun sebuah cerita yang komplit membuat cerpen-cerpen dalam TSKdC terasa istimewa. Soal diksi, jangan ditanya lagi deh ya, nama Tasaro seolah menjadi jaminan mutu akan pilihan kata-kata yang manis dan puitis.

Mau kubilang lantang … atau kupendam dalam diam Tetap saja kusebut (dia) cinta –cover belakang—

Memiliki anak seperti meletakkan jiwa kita pada tubuh orang lain – Hal 253 –

 

Ketika membacanya, saya terkesima dengan pilihan-pilihan judul cerpen yang diambil Tasaro. Duuuu… Kreatif banget sih. Bisaa aja cari judul yang eye catching dan menggambarkan tentang isi cerita. Semisal judul Bukan Malaikat Rehat. Saya melongo aja tuh dengan pilihan judulnya. Kok kepikiran aja judul seperti itu. Tasaro ini makannya apa sih jadi pintar gitu? Hihihi….

Judul lain yang bikin saya terkesima adalah Roman Psikopat. Cerita yang dibuka dengan sebuah soal tentang psikologi.

Ada kakak beradik perempuan. Ibu mereka baru saja meninggal, dan mereka sedang mengikuti upacara pemakaman. Si adik melihat seorang pria menawan yang tak dikenal dan ia langsung jatuh cinta kepada pria itu. Sayangnya, tak cukup waktu mengenal pria itu, ia tidak tahu siapa dan di mana alamatnya. Beberapa lama setelah pemakaman, si kakak tewas. Polisi membuktikan bahwa adiknyalah yang membunuhnya. Menurut elu, kenapa si adik membunuh kakaknya?

Katanya pertanyaan itu yang digunakan para profesional kepada para pelaku pembunuhan di Amerika. Siapa yang menjawab benar dia berpotensi untuk jadi psikopat. Karena saya sudah pernah mendapati pertanyaan ini di buku lain jadi saya sudah tahu jawabannya😀

Yang saya suka di Roman Psikopat ini adalah belokan ceritanya ketika ending dan endingnya berhasil saya tebak. Ahahaha…

Satu cerita dalam TSKdC berjudul Atarih. Cerita tentang Atarih sudah pernah saya baca di FB penulisnya beberapa waktu yang lalu. Atarih adalah sebuah kisah nyata, menceritakan pertemuan sang penulis dengan seorang penulis besar lain di negeri ini. Dari judulnya aja kelihatan kan siapa penulis yang dimaksud. Baca terbalik, Cyin.

Dan serupa Atarih yang berdasarkan pengalaman penulisnya, saya lantas juga merasa kalau beberapa cerita di sini juga adalah cerita yang benar-benar bersandarkan pada pengalaman nyata sang penulis. Tulisan yang berjudul Kagem Ibuk adalah ungkapan kerinduan penulisnya pada sang ibunda, Tulisan Bukan Malaikat Rehat yang begitu kental tarbiyahnya juga curhatan (atau protes?) si penulis, Tuhan Nggak Pernah Iseng dengan setting dunia wartawan, hey, bukankah penulisnya dulu adalah seorang wartawan? Saya juga suka pesan yang dibawa dalam cerita Tuhan Nggak Pernah Iseng yang membidik isu tentang kesukaan pada sesama jenis.

Dan saya seperti menemukan sebuah benang cokelat (bosan benangnya warna merah mulu) antara cerita dalam TSKdC ini dengan Galaksi Kinanthi yaitu sebuah cinta tak tergapai. Sama-sama bercerita tentang memendam harapan pada seseorang yang membersamai semenjak kecil, terpisah jarak tapi di hati masing-masing tetap menyimpan nama masing-masing dalam satu ruang khusus dan tak berujung dalam penyatuan. Heuheu … Kenapa cerita dengan ‘nafas’ seperti ini muncul lagi dan lagi dalam karya penulis ini? ‘

Di antara 9 cerita yang ada di buku ini yang membuat saya terkantuk-kantuk membacanya karena nggak mudeng dan lagi malas berkonsentrasi buat mencernanya adalah cerita yang berjudul Galeri. Cerita tentang lukisan, pelukis atau entah apa. Tapi, 1 cerita yang saya nggak mudeng itu serasa tidak berarti karena 8 cerita lain begitu menawan hati. Pengin sekali memiliki buku ini. Tapi, mahal, bo! Ya sudahlah, saya sudah merasa bersyukur karena bisa menikmatinya dengan meminjam buku ini pada seorang Ibu yang baik hati. Thanks Ibuuuu … Ada bonus kristiknya lagi *hug*

 

Judul               : Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta

Penulis             : Tasaro GK

Penyunting      : Indradya S.P.

Penerbit          : Qanita (PT Mizan Pustaka)

Tahun Terbit   : 2013

Tebal               : 264 halaman

17 thoughts on “Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta – Tasaro GK

    • Baca apa? Bukunya? Bukunya bisa dibeli di toko buku. Di sini saya hanya ngereview atau menceritakan kembali secara singkat isi buku itu. Terima kasih sudah berkunjung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s