Perjuangan Masak Apam

Perjuangan panjang bikin yg namanya apam. Dari jam 4 subuh baru selesai jam 10 malam. Setelah ini nggak protes lagi apam kecil2 tapi harganya mahal

Itu bunyi status saya di muka buku beberapa hari yang lalu. Status yang kata saya sedikit agak lebay. Ahahaha… Karena walaupun memang dikerjakan dari jam 4 subuh dan baru selesai jam 10 malam, tapi bikin apam itu nggak ‘dipelototin’ terus menerus kok, banyak ditinggalnya malah.

Apam adalah salah satu penganan khas dari daerah saya. Saking khasnya sampai-sampai kota saya ini, Barabai, berjulukan kota apam. Ada banyak penjual apam Barabai yang bisa ditemui di kota ini. Apam sering dijadikan buah tangan buat mereka yang bertandang ke kota ini. Selain apam, yang khas dari Barabai ada pakasam dan kacang jaruk. Ada yang menyebut kue lam juga khas dari Barabai.

Tapi, yang saya bikin kemarin itu bukan apam yang biasa dijual buat dijadikan oleh-oleh itu. Namanya apam juga tapi bentuknya dan rasanya juga tentunya cara pembuatannya yang beda. Kata mama saya kalau apam yang biasa dijual itu tidak pakai santan dalam bahan utamanya, sedangkan apam yang saya bikin kemarin pakai santan. Kami sering menyebutnya apam putih karena warnanya putih.

Apam putih ini jadi primadona di keluarga besar kami. Jadi santapan wajib setiap hari raya tiba, idul fitri dan idul adha. Sebagai satu-satunya anak perempuan nenek saya, seharusnya mama saya lah yang paling piawai bikin apam ini. Tapi kenyataan yang terjadi 2 menantu nenek saya alias ipar mama saya malahan yang paling lihai bikin apam. Kenapa? Karena 2 acil (tante) saya itu yang tinggal paling lama bersama nenek setelah menikah dengan anak nenek saya. Jadi, tiap hari raya tiba, 2 acil saya itu turun tangan membantu bikin apam. Sebelum mama menikah, memang mama yang kerap membantu nenek, tapi itu sudah sangat lama sekali.

Sebenarnya mama juga pernah belajar buat bikin apam. Saya masih ingat betul saat saya masih kecil, saya, mama, abah dan kakak saya naik motor ke rumah nenek saya untuk menginap belajar bikin apam. Berhasil? Ya. Tapi mama jarang membikinnya lagi dengan alasan anak-anak mama tidak begitu doyan apam. Ngapain bikin kalau orang rumah nggak doyan? Begitu pikir mama.

Beberapa waktu yang lalu ada seorang acil saya yang serius pengin belajar bikin apam, saya yang belakangan lagi doyan nyoba-nyoba masak juga langsung tertarik buat ikutan belajar. Maka, kemudian disepakatilah hari dan tempat juga pembagian tugas masing-masing.

Jadi, ngapain aja dari jam 4 subuh itu?

Pertama, untuk bikin apam kita pakai tepung beras. Ini bukan tepung beras yang dijual di pasaran tapi dari beras yang dijadikan tepung. Dari jam 4 subuh itu beras udah dicuci bersih kemudian direndam beberapa saat dan kemudian ditiriskan sampai benar-benar tiris. Paginya beras diantar ke penggilingan beras buat dijadikan tepung. Beras yang kemarin digunakan sebanyak 2 liter beras. Ehehehe… Kalau di daerah saya pengukur beras itu liter, bukan kg. Saya juga nggak tahu 1 liter itu berapa kg😀

Tepung beras ini juga nggak bisa dibiarkan lama-lama, bisa jadi asam. Jadiii, harus secepat mungkin diolah. Sekitar jam 10, proses pengolahan selanjutnya terjadi, namanya mambubur alias mengolah bubur. Air dididihkan kemudian tuangkan 2 centong tepung beras. Diolah seperti bubur sumsum gitu. Sementara bubur diolah, tape singkong yang berperan sebagai ragi dihaluskan dan dicampur dengan air.

Setelah bubur tepung beras itu jadi, dituangkan di atas tepung beras yang nggak diolah bubur (kan yang dibikin bubur cuma 2 centong), juga dimasukkan air tape singkong. Diaduk jadi rata pakai tangan. Seperti mengoleni roti. Tapi, nggak sampai kalis juga sih. Sampai benar-benar tercampur rata aja dan tidak ada grindil grindil tepung gitu. Setelah itu adonan ditutup pakai tutup panci dan didiamkan sampai mengembang.

Sementara menunggu mengembang, kita siapkan santan dari 4 butir kelapa. Kelapanya sih diparut pakai mesin, tapi merasnya manual pakai tangan dan bikin capek juga. Ahahaha… Santan kemudian direbus, lumayan lama ngerebusnya, sampai keluar yang menggumpal gitu. Jangan pikirin dulu lemak jahat yang ada di santan ketika santan direbus ya. Setelah selesai santan didinginkan.

Sekitar jam 5 sore, pas dicek, adonan ternyata sudah mengambang. Mirip lah dengan adonan roti yang mengambang. Setelah itu baru terjadi proses pencairan yaitu dicampurnya santan ke dalam adonan, diaduk rata, didiamkan lagi tuh adonan.

Jam 8 malam baru deh adonan apam siap buat dimasak. Cara masaknya dengan dikukus. Di keranjang kukusan itu dikasih daun pisang kemudian dituangkan adonan di dalamnya. Adonannya jangan banyak-banyak, kira-kira sampai ketebalan apam 1 cm aja. Jadinya perlu ngukus beberapa kali sampai adonan habis. Dan semuanya baru selesai jam 10 malam. Tapi hasilnya yummyyyy….

image

Ada warna hijau yang membekas karena waktu dihangatkan pakai daun

Kami menikmati apam ini sambil mengenang perjuangan bikin apam yang dimulai dari jam 4 subuh itu. Makanya kemudian tercetuslah status saya di mukabuku itu. Beberapa minggu yang lalu saat saya beli apam barabai yang semakin kecil tapi harganya naik, saya sempat protes “Ya ampyuun … Makin kecil aja nih apam. Harganya malah naik.” Tapi, dengan bikin sendiri saya merasa wajar kok harga apam segitu. Perjuangannya juga nggak ringan😀

Oya, apam ini dimakan dengan juruh alias air gula merah. Dan kata mama saya apam dengan hasil yang bagus harus menggunakan beras unus dengan kualitas yang bagus juga. Eh, harus beras unus? Wekekeke… Pantas aja namanya makanan khas karena berasnya juga khas. Bakalan susah praktek di Kaltim😀

image

Apam dan air gula merah

13 thoughts on “Perjuangan Masak Apam

  1. Yantiiii…
    itu gambarnya gak keliatan lhoooo…
    Tapi emang bener2 perjuangan yah, dari subuh sampe malem begitu bikin apam nya…

    ehm…kalo aku mungkin udah nyerah aja dan beli ke Griya kali…hihihi…
    *gampang menyerah kalo soal masak*

    • Wadooh… Ga kelihatan ya Bi? Di tempat ynt terlihat kok. Salahnya di mana ya? *gaptek*
      Hihihihi…. Emang enaknya langsung makan Bi. Tapi nikmat setelah berlelah-lelah juga tak bisa dilukiskan dengan kata-kata *halah :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s