Standar Kebersihan Mama

Semenjak kecil saya selalu melihat kebiasaan mama sewaktu akan shalat. Ketika waktu shalat tiba, mama tidak hanya mengambil wudhu kemudian shalat dengan pakaian yang telah terpasang di badan. Tapi mama akan membasuh seluruh badannya, beda tipis dengan mandi lah, kemudian akan memakai pakaian khusus (daster gitu lah tapi hanya dipakai pas shalat) kemudian mengenakan mukena. Dari kamar mandi menuju sajadah mama juga akan memakai sandal jepit.

Saya yang waktu itu kalau mau shalat tinggal ambil wudhu dan gelar sajadah bergumam dalam hati, suatu saat, saya akan seperti mama juga ketika mau shalat. Ternyata mama memang mengkondisikan saya supaya mengikuti kebiasaan beliau itu ketika saya sudah mendapatkan tamu bulanan.

Tentu saja kebiasaan mama itu bukan tanpa alasan. Kata mama, pakaian kita sehari-hari yang sudah kita pakai berjam-jam mungkin bisa terkena najis atau sesuatu yang tidak bersih, makanya mama memakai pakaian lain yang beliau jaga kebersihannya untuk shalat. Begitu pun dengan menggunakan sandal jepit. Proses berjalannya kita di kamar mandi sampai ke sajadah, siapa tahu ada najis yang terlewati dan menempel di kaki kita, maka amannya memakai sandal jepit.

Selain saya yang ketularan melakukan kebiasaan seperti itu, orang-orang serumah juga melakukan hal yang sama. Kemudian saya tahu kalau kebiasaan mama itu diwariskan dari orang tua beliau, kai dan nini saya. Bukti yang paling konkret, kebiasaan memakai sandal ketika mau shalat itu menyebar secara merata di saudara-saudara mama dan juga kemudian keponakan-keponakan mama alias para sepupu saya. Ketika saya mau shalat di tempat saudara mama, maka sering sekali mereka menyediakan sandal jepit atau bilang ‘Ti, sandalnya ada di sana ya.’. Mau shalat dan sandal itu seperti satu paket saja

Mama juga menaruh perhatian lebih terhadap kebersihan pakaian. Di kamar mandi, ada dua tempat gantungan baju. Satu buat pakaian kotor atau pernah dipakai, satu lagi buat pakaian yang benar-benar bersih. Gantungan mana buat yang kotor dan mana buat yang bersih, sudah menjadi kesepakatan bersama.

Ketika menyentuh pakaian bersih, mama juga mensyaratkan agar kita sudah cuci tangan terlebih dahulu. Mau menyentuh jemuran, mau lipatin baju, mau ngambil pakaian di lemari, pastikan tangan sudah di cuci.

Begitu pun untuk mencuci, untuk semua cucian itu harus dicelup di air yang mengalir sampai jauh atau dibilas dengan air yang mengalir. Ketika pakaian sudah dikasih sabun dan pelembut, maka satu-satu pakaian akan dibilas dengan air yang mengalir supaya ‘kotoran’nya benar-benar larut. Hal yang juga saya praktekkan dan menuai protes ketika saya kost karena dianggap boros air

Ketika sudah menikah dan memutuskan memakai mesin cuci, saya juga lebih memilih memakai mesin cuci dua tabung karena bisa saya bilas dulu dengan manual sebelum dikeringkan.

Standar kebersihan mama ini memang coba saya terapkan juga di rumah yang saya tempati dengan suami. Yah, walaupun sudah agak menurun standarnya. Kalau misal mama standarnya dipointkan dapat point 8, point saya cuma 6 atau malah 5?😮

 

19 thoughts on “Standar Kebersihan Mama

    • masing2 punya standar ya mbak. Mama saya standarnya emang gitu. Hehehe…
      Makasiiih ya mbak udah mampir. Ini tampilannya lama nggak saya utak atik jadi ya seadanya gini🙂

    • Hihihi… Iya, Mbak. Mama itu dari kecil sepertinya sudah dibiasakan gitu. Saya juga melihat kebiasaan mama dari.. hemm… dari dalam rahim beliau mungkin. Sekarang sih suami saya yang kena saya tularkan kebiasaan ini😀

  1. Waaaah..
    kagum sama mama mu Yan…
    Bener-bener kejaga banget kebersihannya kalo mau shalat yah…

    Papa mertua ku juga gitu lho Yan…
    beliau sering banget wudhu…
    Bahkan sebelum pergi kemana-mana pun biasanya suka wudhu dulu,
    ketika aku tanya kenapa, jawabnya,…
    Yah, kalau di jalan ada kejadian apa apa, yang penting kan kita udah punya wudhu…gitu katanya…

    Kalo aku siiih,..ehm…ya gitu deeeh…hihihi…

    • Bibi lebih terjaga lagi kan? hehehe…
      Iya itu, Bi. Jadi ribet kalau mau pergi2. Barang bawaannya pasti buanyak. Ada pakaian buat shalat, trus alas buat rebahan. Macam2 deh. Kata kakak saya cuman sehari ke luar kota seperti mau pergi seminggu😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s