[Short Story] Ziza dan Rey

“Ziza.” Tak perlu berbalik Ziza sudah tau suara siapa yang memanggilnya. Ziza sudah hafal betul suaranya. Sekilas Ziza melihat bayangannya sendiri yang memantul dari kaca mobil di sampingnya. Dress pink polos dengan cardigan putih membalut tubuhnya. Shawl berwarna pink dengan motif bunga-bunga kecil menutupi kepala Ziza kecuali wajah dan shawl itu diulurkannya hingga menutup dada.

“Baru nyampe?” Lelaki yang memanggilnya tadi sudah berada tepat di depannya. Ziza menggangguk.

“Yuk.” Rey, nama lelaki itu berjalan mendahuluinya. Ziza ikut melangkah, menyejari langkah-langkah Rey.

“Ziza … Rey … ” Mereka berdua sontak berpaling ke arah suara. Ada Arini didampingi suaminya yang sedang menggendong anaknya.

“Datang berdua?” Tanya Arini setelah ritual cipika cipiki dengan Ziza.

“Nggak, Rin. Kita ketemu di parkiran, kok.” Ziza menjawab cepat. Mulut Arini membulat sembari berkata “Ooo …”

Di pintu masuk gedung resepsi, Ziza bertemu dengan Putri. Ada bayi cantik dalam gendongan Putri, sementara seorang bocah lelaki gemuk memegang dress Putri di sampingnya.

“Suamiku sedang dinas ke luar kota. Jadi deh bawa pasukan sendiri.” Jelas Putri sambil terkekeh. Matanya menunjuk pada bocah lelaki gemuk di sampingnya dan seorang bayi cantik dalam gendongannya. “Kalian datang berdua?” Ziza langsung menggelengkan kepalanya. Menjawab hal yang sama yang tadi dikatakannya pada Arini kalau dia dan Rey ketemu di parkiran.

Di dalam gedung resepsi, Ziza bertemu beberapa teman kuliahnya. Resepsi memang kerap menjadi ajang reuni. Ketika kesibukan kerja telah menenggelamkan mereka dalam rutinitas rutin dan tak sempat saling bertemu lagi selepas kuliah.

“Aku kira tadi kamu bareng dengan Rey, Za.” Kali ini Dessy yang berkata. Ziza hanya tersenyum tipis menanggapinya. Ziza tau akan kemungkinan bertemu Rey seperti tadi. Biasanya pada jam itulah Rey akan datang ke acara resepsi teman mereka. Ziza tau persis akan hal itu. Tapi Ziza tetap datang di waktu yang sama dengan waktu yang dia perkirakan Rey akan tiba. Bukan berharap bertemu Rey. Tapi berharap Rey akan datang lebih cepat atau lebih lambat sekalian dari waktu biasa dia datang. Tapi nyatanya, Rey tetap datang di jam yang sama.

“Kita-kita kan udah pada nikah, Za. Udah pada punya bontot juga. Tuh Putri aja udah punya dua. Kadang aku mikir lho Za, kenapa Ziza ga jadian aja sama Rey.” Ziza tersenyum tipis mendengarnya. Perbincangan tentang membawa hubungan dia dan Rey ke arah yang lebih serius sudah sering mereka lakukan dulu, bertahun-tahun yang lalu. Tapi tak pernah mencapai titik temu hingga sekarang.

“Za,” Ziza tau itu suara Rey.

“Mau pulang sekarang?” Ziza juga tau Rey akan segera beranjak dari gedung resepsi ini. Ziza sudah hafal beragam kebiasaan dan rutinitas Rey.

“Bentar lagi, Rey.” Ziza memberikan jawaban berbeda. Biasanya Ziza akan pulang bersama Rey walau hanya sampai di parkiran karena mereka punya tujuan pulang yang berbeda.

“Aku duluan ya. Mau ke gereja sekalian ikut misa siang.” Ziza tersenyum tipis menanggapinya. Menatap punggung Rey yang berjalan menjauh. Kita memang ditakdirkan bertemu tapi tidak pernah bisa bersama dalam perjalanan, Rey, Ziza berujar dalam hati.

***

Terinpirasi dari quote yang ada di cover novel Hujan dan Teduh karya Wulan Dewatra 

“Aku dan kamu seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.

Mungkin jalan kita tidak bersimpangan.”

8 thoughts on “[Short Story] Ziza dan Rey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s