[Cerfet] Pelangi Rindu 5

Cerita Pertama

Cerita Kedua

Cerita Ketiga

Cerita Keempat

“Raga.” Suara itu membuatku berbalik. Sesosok tubuh dengan kemeja panjang warna hitam yang lengannya digulung hingga siku mendekatiku. Dia melangkah dari sebuah mobil yang pintu depan sebelah kanannya masih terbuka.

“Apa yang kau lakukan di atas jembatan ini?” Gandhi, otakku menyebut namanya yang sudah berada di depanku. Gandhi menjabat tanganku erat. Aku berbalik setelah Ghandi melepaskan tanganku. Pandanganku mengarah ke kiri dan ke kanan, mencari-cari kamu yang tak ada lagi di dekatku. “Kalya.” Aku berbisik lirih sekali. “Kamu di mana?”

“Aku turut berduka atas kepergian Ibu kamu, Ga. Sorry, kemarin aku nggak datang ke pemakaman. Lagi di luar kota. Tapi, teman-teman datang, kan?” Aku menjawab pertanyaan Ghandi dengan anggukan. Pandanganku kusapukan ke segala penjuru, mencari sosokmu. Jangan pergi lagi. Aku bergumam sendiri.

Kuayunkan langkahku meninggalkan Ghandi, tak peduli apa tanggapannya akan sikapku. Aku hanya ingin kamu, Kalya. Aku melongokkan kepalaku ke bawah jembatan. Memegang besi jembatan yang terasa dingin di tanganku. Ah, tak mungkin kau melompat dari atas sini. Aku meyakinkan diriku. Lantas, di mana kamu?

“Ga.” Tepukan di pundakku membuat aku berbalik dengan enggan. Aku tau itu bukan kamu. Aku menatap Ghandi di depanku dengan mata penuh kegeraman. Karena kehadirannya, kamu pergi.

“Kembalilah ke resto. Kau sudah sembuh kan? Ibumu dulu bilang, kalau kamu sudah sembuh, kamu akan kembali ke resto kita.” Deg! Perkataan Gandhi membuat pikiranku melayang saat kamu masih menemaniku “Hingga kau sembuh, aku akan menemanimu.” Itu kata-kata yang kamu ucapkan padaku. Dadaku terasa sesak jika memang itu terjadi. Apa aku harus terluka lagi, agar kamu selalu menemaniku?

“Aku balik dulu. Mau kuantar ke rumahmu sekalian?” Gandhi kembali meraih tanganku. Menjabatnya dengan erat. Aku menggeleng. Aku masih ingin mencari Kalya. Suara tawanya terasa bergema di telingaku, tapi aku tak menemukan sosoknya. Kalya. Kugumamkan nama itu. Kakiku terus melangkah. Mengamati orang-orang yang berlalu lalang sepanjang jalan. Berharap salah satunya adalah Kalya. Tapi hasilnya nihil.

***

“Kenapa masih berdiri di sini, Nak.” Ibu menepuk punggungku lembut. Kutatap wajah ibu yang menenangkan. “Pelangi, Bu. Aku menunggu pelangi.” Hujan baru saja selesai menyapa bumi. Menyisakan gerimis yang turun perlahan. Aku membuka tirai jendela kaca di kamarku. Berharap menemukan pelangi dan akan bertemu denganmu.

“Pelangi tidak muncul di malam hari, Nak.” Ibu tersenyum. Menarikku mundur dari depan jendela. Dengan cekatan ibu menutup tirainya. Langit malam lenyap dari pandanganku. Kali ini aku tak bisa protes pada Ibu. Ibu menuntun langkahku menuju tempat tidur. Menunggu aku berbaring dan kemudian merapatkan selimutku.

“Tidurlah. Kau akan memulai harimu lagi esok hari.” Ibu mengusap rambutku dengan lembut.

“Bu, jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku, Bu.” Aku meraih tangan Ibu. Sepasang mata ibu mengerjap indah. Ibu menggeleng pelan.

“Tidak ada ibu yang benar-benar meninggalkan anaknya. Ibu tetap ada untukmu, Nak.” Ibu kembali merapatkan selimutku yang tersingkap ketika aku meraih tangan Ibu. Ibu tersenyum ke arahku. Rambut peraknya digelung rapi malam ini. Ibu selalu cantik dalam setiap keadaan.

“Tidurlah. Kau akan memulai harimu lagi esok hari.” Ibu mengulang kata-katanya. Setelahnya, aku tak ingat apa-apa lagi.

***

“Ibu.” Nama itu yang kusebut pertama kali saat terbangun. Tak ada sahutan. Aku memegang kepalaku, mengembalikan kesadaran pelan-pelan. Ah ya, ibu telah tiada. Tadi malam hanya sebuah mimpi. Aku bergumam sendiri. Sebuah tawa renyah tiba-tiba terdengar di kepalaku. Aku mengedarkan pandanganku ke seantero ruangan.

“Kalya? Kaukah itu?” Tanyaku tak mendapat jawaban. Sepertinya aku memang telah berhasil merekam tawamu dalam memoriku. Hingga saat aku mengingatmu, tawa itu akan mengalun sendiri.

“Kau akan memulai harimu kembali esok hari.” Aku teringat lagi akan kata-kata Ibu. Mencoba menyibak segala keengganan untuk melangkah.

Aku membuka lemari. Tiga kemeja kerjaku terlihat licin dan rapi. Aku tak pernah memakainya lagi semenjak kejadian itu. Ibu pasti telah menaruhnya di sini sebelum kepergiannya. Aku mengambil salah satunya. Dan memakainya. Kulirik langit melalui tirai jendela. Mendung. Aku tersenyum penuh harap. Semoga hujan dan aku akan bertemu kamu. Ah, sungguh indah jika pagi dilewati dengan harapan. Di telingaku bergema lagi tawa renyahmu yang amat kusuka. Walau aku telah bisa merekamnya, hingga bisa kuputar ulang kapan pun aku mau. Tapi tetap saja, mendengarkan langsung itu lebih istemewa.

Aku melangkah keluar rumah. Digelayuti awan mendung. Aku memulai hariku lagi sesuai dengan pesan Ibu.

***

“Kita harus menyiapkan menu-menu baru, Ga.” Gandhi menyambutku begitu sampai di sebuah resto dengan dinding, kursi dan meja bernuansa bambu. Kembali Gandhi menjabat tanganku erat.

“Kamu lihat rumah makan di ujung jalan itu, dia menyedot pelanggan kita. Apalagi setelah kejadian yang menimpa kamu kemarin. Walau menu kita dimasak dengan resep yang sama, tapi cita rasanya beda.” Aku mengikuti langkah Gandhi. Mataku berkali-kali menatap keluar. Hujan yang tadi sempat menahan langkahku kini mulai mereda. Aku menunggu-nunggu datangnya pelangi. Akan kah kau akan datang, Kalya?

“Kau ingat kejadian sebelum salah tembak itu?” Langkahku spontan terhenti. Gandhi di depanku tiba-tiba berhenti dan berbalik.

“Katanya kau menerima telpon yang bilang ibumu menunggu di satu tempat dan kemudian kamu pergi ke sana kan?” Aku mencoba mengembalikan ingatan akan hari itu. Beberapa detik kemudian, aku mengangguk membenarkan.

“Jangan-jangan seseorang menjebakmu ke sana. Ke kawasan yang saat itu ada tawuran. Jadinya kau kena salah sasaran tembak.” Kata Gandhi dengan penuh kecurigaan. “Oya, mantanmu bekerja di rumah makan di ujung jalan.” Keningku mengernyit mendengar penuturan Gandhi. Ingatanku melayang pada pertemuanku dengannya kemarin.

“Nanti kita diskusikan itu. Sekarang kita harus mengatur menu baru apa yang akan kita sajikan minggu depan. Oya, aku merekrut orang baru. Sebagai penggantimu kemarin. Nah, itu dia baru datang.” Dengan enggan aku mengangkat wajahku. Mengikuti arah pandangan Gandhi. Aku menggerjap-ngerjapkan mataku. Mencoba mempercayai apa yang kulihat. Benarkah? Atau aku hanya berimajinasi karena sebegitu rindu akan hadirmu?

“Lya, ini Raga yang kuceritakan kemarin. Ga, Lya ini yang membantuku menggantikan kamu kemarin.” Sebuah sodoran tangan mengarah ke arahku.

“Halo. Aku Lya.” Ada senyum di wajah itu. Aku menatap lagi ke arah jendela. Ada pelangi yang melengkung dengan sempurna di langit.

***

Huuufffftt… Akhirnya selesai juga. Maaf kalau mengacaukan cerita dan bikin tambahan tokoh. Semoga tambahannya ga kebanyakan ya Mak-Mak. Semoga berkenan dengan cerita saya ini. Jiper lho lihat tulisan Mak Injul, Mak Carra, Mak Orin dan Mak Irma yang keren-keren. Sedangkan saya melipir aja di pojokan.. Hohoho… Tapi namanya juga belajar kan Mak. Etapi, kalau mau dianulir juga gpp #minderakut

Tongkat selanjutnya saya serahkan ke Mak Linda Satibi a.k.a Mak Mamah Ghulam Itu Linda yang punya rumah di sini : http://kalam-cinta-linda.blogspot.com/ Selamat berjuang Mak Linda. Fighting! ^_^

deadline 2 x 24 jam dari sekarang ya… Jadi 26 September 2013 jam 14.30 WITA. Jadi 13.30 WIB ya Maks.

9 thoughts on “[Cerfet] Pelangi Rindu 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s