Menengok Kehidupan Pesantren dalam Sekotak Cinta untuk Sakina

Kehidupan pesantren memang tidak asing dalam hidup saya. Kakak, beberapa sepupu dan sekarang beberapa orang ponakan saya mengecap pendidikan di pesantren. Mereka punya istilah khusus buat pesantren yaitu penjara suci.

Suci karena mereka masuk ke sana bukan disebabkan tindakan kriminalitas, juga suci karena di sana mereka punya niatan mulia, menuntut ilmu agama. Di sebut penjara karena di sana mereka tidak bebas buat keluar masuk, berpisah dengan keluarga, ada aturan-aturan yang harus ditaati, tidak bebas menonton TV, tidak membawa gadget dan hal-hal lainnya. Seperti terpenjara itulah yang kerap membuat anak-anak ogah masuk pesantren.

Hal itu juga lah yang dialami Sakina. Sakina diminta mamanya buat masuk pesantren karena pekerjaan papanya yang sering berpindah-pindah menurut mamanya akan mengganggu konsentrasi Sakina buat sekolah kalau harus pindah-pindah sekolah terus. Mamanya juga pengin agar Sakina ditempa dengan ilmu agama.

Sakina merasa berat dengan keputusan mamanya. Kehidupannya akan berubah dalam sekejap. Pindah sekolah, meninggalkan rumah yang nyaman beserta penghuninya dan harus tinggal di tempat yang baru. Tapi, satu perkataan papanya kemudian membuat Sakina berkurang kesedihannya. Apa yang dikatakan papanya? “Kalau benar-benar nggak tahan tinggal di sini, SMS Papa, ya.”

Itu artinya Sakina bisa keluar kapan saja dari pesantren. Hal itu lah yang kemudian membuat Sakina menjalani harinya dengan setengah hati. Sakina melanggar beberapa peraturan dan juga bertengkar dengan temannya.

“Ramenya itu jadi punya banyak teman, Kak. Asyik kalau temenan sama teman-teman di sana.”

Komentar di atas adalah komentar adik sepupu saya ketika saya bertanya apa sih yang seru di pesantren. Itu juga lah yang dirasakan oleh Sakina. Persahabatan Sakina dengan teman-temannya membuat Sakina betah, juga kegiatan-kegiatan lain yang terasa mengasyikkan buat Sakina. Walau begitu, tetap saja Sakina bersikukuh kalau dia hanya untuk sementara tinggal di pondok.

Itulah yang menjadi cerita dalam Sekotak Cinta untuk Sakina. Cerita tentang kehidupan pesantren yang dialami seorang anak. Dalam jagad perbukuan Indonesia, kita mengenal Negeri 5 Menara yang juga bercerita tentang kehidupan pesantren. Sekotak Cinta untuk Sakina kalau menurut saya adalah Negeri 5 Menara versi anak-anak dan lebih girly karena tokohnya adalah anak perempuan.

Saya menyebut demikian karena semangat yang saya dapatkan ketika membaca negeri 5 menara juga saya temukan ketika menghabiskan Sekotak Cinta untuk Sakina. Cerita tentang Imam Syafi’I dan Beethoven yang diselipkan dalam cerita membuat Sakina tampil lebih memukau. Juga tentang menyematkan mahkota di kepala orangtua.

Berhasilnya seorang anak menyelesaikan pendidikan di pesantren itu harus ada keteguhan yang sama antara anak yang menghadapi segala tantangan di pesantren juga keteguhan buat orangtuanya. Tiap orangtua pastilah sayang sama anaknya dan kerap tak tega dengan ‘penderitaan’ sang anak. Jadi kadang ketidaktegaan orangtua dengan kondisi sang anak di pesantren itu bisa menjadikan sang anak lemah dalam menghadapi segala rintangan. Curahan hati orangtua kalau mereka kerap rindu pada anak mereka yang ada di pondok juga bisa melemahkan hati anak. Seperti yang dialami Sakina. Dan apa yang dinasehatkan kak Nadia pada Sakina menjadi penyejuk pada kegundahan hati Sakina.

Para ulama besar itu tidak mendapatkan kesuksesannya dari balik hangatnya pelukan ibu. Tapi, hasil pengorbanan mereka melepas pelukan sang ibu untuk menggali ilmu.

Walau berbentuk novel untuk anak-anak, tapi novel ini memberikan pada saya banyak hal. Nasehat yang saya serap dari cerita, tanpa merasa sedang digurui juga beragam nilai positif yang bisa saya petik selepas membacanya. Membaca Sekotak Cinta untuk Sakina kita akan dapat gambaran tentang kehidupan di pesantren yang ternyata ada juga keasyikan di dalamnya.

Judul : Sekotak Cinta untuk Sakina

Penulis : Irma Irawati

Penerbit : PT. Bhuana Ilmu Populer

Tahun Terbit : 2013 (Cetakan Pertama)

Tebal : 126 Halaman

Bersama Sakina

Bersama Sakina

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba resensi oleh penulisnya di sini

16 thoughts on “Menengok Kehidupan Pesantren dalam Sekotak Cinta untuk Sakina

  1. Dulu saya mau dimasukkan pesantren, tapi saya nolak. Bukan masalah nanti jauh dari ortu dan kegiatannya terbatas. I have passions dan saya merasa kalo masuk sana, saya nggak akan bisa berkembang.

    • Saya juga termasuk yang menolak, Mbak. Alasannya kurleb dengan mbak. Saya pengin kuliah, pengin merasakan bangku mahasiswa dan orang tua saya memilih pesantren yang tidak memungkinkan saya melanjutkan kuliah jika masuk ke sana. Beda dengan kakak saya, kalau kakak saya masuk pesantren karena keinginan dia sendiri.

  2. anneadzkia says:

    Terharu baca review-nya. Terutama pas bagian orangtua harus rela berpisah dgn anaknya. Hiks, membayangkan pisah sama anak2 berbulan2 bahkan bertahun2, kayaknya blm siap deh.

    • Memang berat ya teh. Dan yang lebih berat itu yang ditinggalkan (baca : ortunya). Hehehe… Ini kesimpulan yanti waktu ngekost kemarin. Soalna si anak akan menghadapi dunia baru, bertemu teman2 baru, lingkungan baru. Sementara ortunya tetap di situ dengan ada bagian yang hilang saat anak tak bisa tiap hari ditemui. Oya, di sana juga dituliskan doa orangtua itu juga pelukan buat anak-anak.

  3. keren… jd pengen baca bukunya nih.. saya cinta pesantren.. kelak insyaallah kudu menguatkan hati saat anak saya juga masuk pesantren.. kls 2 SD aja ini sudah semangat punya kepinginan mondok, si fahri..

    • Wah… Fahri keren. Iya, Mbak Binta. Saya juga sempat obrol2 sama suami, kalau punya anak pengin masukin dia ke pesantren tapi dengan kesadaran sendiri. Bukan dipaksa. Semoga Fahri nantinya bisa masuk pondok ya, Mbak. Jadi anak sholeh yang punya konstribusi besar dalam dakwah. Aamiin…

  4. “Para ulama besar itu tidak mendapatkan kesuksesannya dari balik hangatnya pelukan ibu. Tapi, hasil pengorbanan mereka melepas pelukan sang ibu untuk menggali ilmu.” bagus banget.

    jadi mikir, bisakah aku melepas si anak2 untuk belajar di pesantren jauh dari pelukan? insyallah kata2 diatas bakal kuingat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s