Kelas Menulis Fiksi Anak Bersama Tasaro GK

Seperti yang pernah saya ceritakan di sini setiap malam minggu ada kelas menulis gratis di facebook yang diasuh oleh Tasaro GK, penulis Galaksi Kinanthi itu. Tapi sejak ramadhan kemarin kelasnya libur, entah sejak kapan mulai lagi. Padahal udah kangen banget pengin belajar lagi di sana.

Kalau dulu malam minggu identik dengan belajar online, sekarang terasa ada yang kurang. Jadi pas malam minggu kemarin jalan sama suami saya sempat mikir, biasanya saya kok rada berat ya kalau keluar malam minggu. Kenapa ya? Beberapa detik kemudian baru nyadar kalau dulu ada kelas malam minggu. Jadi saya lebih suka duduk di dapan laptop ketimbang jalan ke luar. Moga aja deh kelas malam minggunya mulai lagi ^_^

Berikut ada resume dari kelas malam minggu bulan juni kemarin tentang menulis fiksi anak. Terdampar di file laptop saya dan sekarang saya publish di blog aja deh. Semoga bermanfaat.

Pengantar dari Pak Guru sebelum kelas mulai. Catatan ini ada di note FB Pak Guru Tasaro GK.

Menyelami Dunia Anak, Bukan Menyeret Mereka ke Dunia orang Dewasa

oleh : Tasaro GK

“Ada seorang anak dari Kota Madinah mengambil tangan Rasulullah saw. dan beliau tidak menarik tangannya sampai anak itu puas membawa tangan beliau sekehendak hatinya” (H.R. Ibnu Majah).

Penekanan redaksi hadits pada kalimat “beliau tidak menarik tangannya sampai anak itu puas membawa tangan beliau sekehendak hatinya” menurut penulis merupakan pesan tersirat bagaimana Nabi Muhammad tidak menafikkan kecenderungan sifat anak-anak yang selalu ingin bermain, meskipun beliau memiliki kepentingan untuk mengajarkan adab atau praktik ibadah lainnya.

Pada kisah lain, Nabi Muhammad menahan sujud lebih lama karena kedua cucu kesayangannya, Hasan dan Husain, menaikki punggungnya pada saat beliau sedang shalat. Meskipun nilai ritual shalat sangat sakral, Nabi tidak ingin merusak keceriaan kedua cucunya. 

Setiap pendidik yang menjadikan Rasulullah Muhammad saw. sebagai panutan dan profil komprehensif seorang mahaguru pendidikan, telah cukup terang-benderang untuk menyadari bagaimana dunia pendidikan di Indonesia tidak lagi “menahan tangannya sampai anak-anak puas membawanya sekehendak hati”.

Anak-anak Indonesia, utamanya di kota-kota besar, menjadi kerumunan bocah yang begitu sibuk luar biasa dan sangat tergegas menjalani hari-hari mereka yang penuh beban. Ransel besar “persiapan masa depan” anak-anak ini penuh sesak oleh berbagai agenda yang membuat punggung mereka kian membungkuk. Privat calistung, tumpukan pekerjaan rumah, les menyanyi, les karate, jadwal bermain biola, privat bahasa Inggris, dan aktivitas belajar lainnya menjadi daftar panjang kegiatan yang lebih sering terasa sangat mengungkung dan menyiksa.

Tidak ada yang salah jika anak-anak usia TK dapat membaca, menulis, dan berhitung, asalkan caranya sesuai dan patut bagi anak. Sesuai dengan ritmik dan tugas perkembangannya. Sayangnya, masih banyak guru TK kita yang “kurang rasa dan kurang periksa” dalam melatih kepekaan sebagai seorang guru. Mengajar anak-anak membaca, menulis, dan berhitung tanpa mengindahkan tugas-tugas perkembangan yang tengah dijalani anak. Mengabaikan pedagogi, melupakan perkembangan dan keunikan anak sebagai anak. Anak-anak dididik melalui konsep yang tidak menumbuhkan pengalaman yang telah dikonstruk dan dimiliki masing-masing anak semenjak ia lahir. Pesan-pesan budaya, sosio, historis, dinihilkan (D.U Faizah, 2009: 2).

Permasalahan menjadi lebih serius ketika pengajaran yang tidak sesuai perkembangan tersebut mengakibatkan dampak yang berkelanjutan. Anak tidak hanya menghadapi kesulitan ketika beban pengajaran mereka terima namun juga secara massif hal tersebut berakibat pada kecakapan kognitif mereka.

Apabila diibaratkan, otak anak adalah sebuah struktur bangunan yang masih dalam proses konstruksi. Jika saat proses konstruksi berlangsung bangunan atau rumah tersebut mulai difungsikan, misalnya diisi dengan barang-barang atau furniture, bahkan sebagian ruangnya sudah dihuni, hampir dapat dipastikan proses pembangunannya akan terhambat. Beberapa kasus menunjukkan, pada penjejalan materi akademik usia anak yang masih dini justru berakibat pada penurunan kemampuan intelektualitas secara bermakna di bangku perguruan tinggi. Beberapa di antaranya berakhir tragis karena harus mengalami drop out(Tauhid Nur Azhar, 2011: 122). 

Keprihatinan seputar hal ini sebenarnya telah muncul di berbagai belahan dunia sejak seabad lalu. Leo Tolstoy, sastrawan klasik dunia asal Rusia membuat sebuah pemberontakan intelektual dengan mendirikan sebuah sekolah yang menjadi tempat anak-anak benar-benar menemukan dunianya pada awal tahun 1850-an.
Pengarang yang namanya menyejarah lewat novel “Perang dan Damai” dan “Anna Karenina” itu sangat prihatin dengan perkembangan institusi sekolah yang berubah menjadi lembaga yang memenjara imajinasi bagi anak-anak.

Kecintaannya kepada dunia anak didorong oleh pemahamannya bahwa kebebasan, termasuk di dalamnya kebebasan berimajinasi, dan berekspresi adalah hak setiap manusia, termasuk anak-anak. Institusi sekolah, sebagai lembaga pendidikan dalam keadaan tertentu seringkali menghilangkan kebebasan anak dan membelenggu keluasan imajinasi mereka. Ini yang ditentang Tolstoy. Inilah yang kemudian mendorongnya menciptakan sebuah sekolah di mana anak-anak bisa bebas mengekspresikan masa kanak-kanaknya sesuai dengan jiwa mereka (A. Fahrurodji, 2004: 3).

Mengapa Al Qur’an (dan kitab agama lain) ditaburi begitu banyak kisah masih menjadi pembahasan. Seolah Kitabullah sedari pertama turun telah menjawab kebutuhan metodologi yang tepat dalam penyampaian ajaran Langit,yakni melalui kisah.

Dunia anak adalah semesta bermain dan berimajinasi. Jika kita ingin menyampaikan pesan dan pembelajaran kepada anak, maka kita semestinya memasuki semesta mereka dan bukan menarik mereka ke dunia kita; dunia orang dewasa yang serbalinier dan (bergaya) masuk akal.

Maka, naskah anak yang baik, semestinya berusaha mengisi kekosongan itu. Kekosongan gaya penceritaan yang memasuki dunia anak, dan bukan menarik anak ke dunia orang dewasa. Kisah-kisah Al Qur’an dengan berbagai keajaibannya, adalah sebuah ruang yang sangat lega bagi imajinasi anak-anak.

Di dunia yang hanya bisa diselami oleh anak-anak, cerita anak membagi kisah kepahlawanan, keharuan, keromantisan, kesungguhan, dan aneka pembelajaran hidup lainnya.

Sumber Tulisan : https://www.facebook.com/notes/tasaro-gk/menyelami-dunia-anak-bukan-menyeret-mereka-ke-dunia-orang-dewasa/10151711492934359

Berikut adalah tanya jawab yang terjadi di kelas :

Kerabat yang mau menulis naskah anak, sudah menulis, ingin menulis, putus asa menuis…..naskah untuk anak, hayoo…berbagi di sini…apa kesulitannya, apa yang menantang, apa yang menjadi pertanyaan…monggooooo

T : Ending. Bagaimana menemukan ending yg pas tanpa melibatkan orangtua.
J : biarkan si anak menemukan solusi dari masalahnya. Polanya belajar dari kesalahan. Maka anak2 akan belajar.BUkan diberitahu oleh ortu, tapi mengalami kesalahan, lalu belajar dari kesalahan itu. Contoh, suka permen.ending sakit gigi.
T : berarti konfliknya itu berupa proses suatu masalah yah???
J : betoool

***

T : ingin menulis, karena ngefans ama satu majalah anak. tapi ya itu setuju ama Mbak Wini, diksinya..
J : diksinya….ya diksi anak..coba ajak bicara anak-anak di sekeliling kita. rekam jawaban2mereka.

***
T : ilustrasinya cik gu. Dulu buanget pernah ngirim satu kali tp katanya krn ga ada ilustrasi jd krg menarik. Genre fantasy, novel pertama yg sya buat stlh lulus skolah, skrg entah dimana
J : novel ya ndak usah pake ilustrasi. Itu mah nanti penerbitnya yang mikir.
T : tapi ada juga pennerbit yg tanya ilustrasi duluan

T : mungkin nggak sih mas, penerbit itu males nyari lagi illustrator, jadinya masalah illustrasi jadi diserahin ke penulis aja gitu. biar penulis aja yang nyari illustrator. Jadi sampai di penerbit, cuma tinggal edit, layout, edit indesign, cetak, dan terbit..
Terus untuk buku anak yang isinya cerita pendek gitu, pasti sayang mungkin kalo cuma bikin ilustrasi sedikit doang.

T : kayak kata mbak tuti cik gu, dulu saya dibilanginya kl ‘perlu ilustrasi’ gtu doang. Krn sya ga ngerti apa2 jd ya nerimo aja ditolak…

***
T : Mengikuti fantasi anak2 dengan bahasa dan pola pikir mereka tanpa melibatkan orang tua untuk menyelesaikan masalah yang mereka buat sendiri… Fantasi anak2 yg sangat luas, bebas berloncatan sulit tuk diikuti dengan keterbatasan dunia ku yg sudah kadung linear. Bagaimana caranya membebas terbangkan imaji ini lagi?
J : menjadi anak-anak. Bagaimana caranya? berinteraksilah dengan anak-anak. Memahami imajinasi mereka,khalayan mereka, cara berpikir mereka.

***
T : Pertanyaannya: bagaimana melepaskan diri kita menjadi ‘anak-anak’, menjadi tokoh yang benar-benar ‘anak’, dan membuat alur yang dipahami ‘anak’? Saya sering tidak bisa lepas dari posisi saya yang bukan ‘anak-anak’ lagi
J : akting…tentu dengan observasi. Kalo yang udah punya anak, ponakan, atau lebih mantap lagi, ngajarlah di PAUD atau TK…pahami bahasa mereka, cara bicara, bahasa tubuh,lompatan berpikirnya. Maka kita..menjadi mereka.

***
T : baru ingin menulis… belum nemu ide yang gereget
J : lihat anak2 di sekeliling. Apa yang menjadi keasyikan mereka.

***
T : Diksi kakak guru. ada istilah yang khawatir tidak dipahami oleh anak gitu kakak guru..
J : diksinya….ya diksi anak..coba ajak bicara anak-anak di sekeliling kita. rekam jawaban2mereka.

***
T : bagaimana menyajikan dongeng dengan membawa pendidikan karakter… tapi tidak membosankan dan imajinatif seperti dongeng eropa yang melegenda tapi ini sekitar kita tetang nusantara???
J : bisa disebutkan dongeng eropa yang dimaksud?

***
T : Beberapa waktu lalu ikutan lomba menulis cerpen anak. Ternyata saya kesulitan menyampaikan maksud saya dengan bahasa yang langsung difahami anak-anak. Penyesuaian bahasa. Bagaimana caranya tuh, Mas? Thanks.
J : akting…tentu dengan observasi. Kalo yang udah punya anak, ponakan, atau lebih mantap lagi, ngajarlah di PAUD atau TK…pahami bahasa mereka, cara bicara, bahasa tubuh,lompatan berpikirnya. Maka kita..menjadi mereka.
“Ada monyet,” Jojo melongok ke dedaun albasia yang membentuk kanopi,”itu… di atas daun.”
Itu contoh kalimat Jojo,murid PAUD yang saya ajar.

***
cara menghidupkan karakter tokoh anak-anak tersebut?
copy paste dari anak yang kita kenal, untuk awalnya.
***
T : yg paling penting, bagaimana caranya kita yg udh tua gene bs menceburkan diri jadi anak2 dg bahasa anak2. Terkadang sulit, terlebih bagi kita yg udh sering nulis cerpen koran..
J : pan kita punya anak, ponakan, tetangga, yang anak-anak.Bergaul dengan mereka.Memahami kekesalannya, kegembiraannya, ketakutannya….maka kita menjadi mereka
***

T : Sy pernah baca buku novel anak yg ditulis oleh penulis ternama. Menceritakan ttg seorg anak perempuan usia 10 thn-an yg mamanya PSK. Mungkin maksud si penulis utk memperlihatkan realita sosial. Dan PSK tidak disebutkan kepanjangannya apa. Tapi anak itu mengerti dan ktika ketahuan mamanya PSK, teman2 di skolah meledeknya.
Prtanyaannya: sejauh apa realitas sosial bs disampaikan kpd anak2? Tersebab buku itu sy jd kebingungan ditanya anak sy, PSK itu emangnya apa sih?

J : menurut saya, itu bukan buku untuk anak. Sekadar buku dengan karakter anak tapi sebenarnya untuk orang dewasa. Semacam Dunia Sophie. Kemungkinan kedua, emang penulisnya kurang teliti..hehehe

Saya rekomendasikan Little PRince, Teh. Atau Momo. Itu buku anak yang bisa dibaca orang tua. Artinya, sebuah naskah anak yang baik itu tersirat dan tersurat. Tersurat (teks) dipahami anak, tersirat (makna) dipahami orang tua.
***

T : Cikgu, minta rekomendasi buku anak-anak yang paling antitesa menurut cikgu dong. Buat referensi

J : Litlle Prince terbitan GRamedia.

**

T : naskah anak saya di tolak udah dua kali, satu gak ada kabar, yg ke dua katanya temanya terlalu umum meski ceritanya beda…hiks

J : tema sudah susah nyari yang orisinal. Yang bisa kita usahakan adalah inovasi. Misalnya, buku 25 nabi sudah bejibun. Terus kita buat cerita nabi, tapi naratornya para hewan yang disebut dalam Al Qur’an.

**

T : baru ingin menulis… belum nemu ide yang gereget

J : lihat anak2 di sekeliling. Apa yang menjadi keasyikan mereka.

**
T : Diksi kakak guru. ada istilah yang khawatir tidak dipahami oleh anak gitu kakak guru..

J : diksinya….ya diksi anak..coba ajak bicara anak-anak di sekeliling kita. rekam

**

T : Mas, kalau mengirim naskah anak, harus menyertakan ilustrasi gambar ya, agar menarik??
Ilustrasi itu bukan dari penerbit atau redaksikah?

J : bergantung naskahnya, Mbak. Kalo cerita bergambar (dominan gambar dibanding naskah) kirim bersama ilustrasinya. Kalo novel, cukup naskahnya saja.

**
T : Awalnya udah kesusun step by stepnya, tapi ketika alurnya berubah jadi kacau. Imajinasinya jadi kurang dapet. Gimana dong pak Tasaro? Padahal baru sampe bab 2

J : menjadi anak-anak. Bagaimana caranya? berinteraksilah dengan anak-anak. Memahami imajinasi mereka,khalayan mereka, cara berpikir mereka.

Catatan lain dari Pak Guru tentang membuat naskah bacaan untuk anak-anak

Membuat Naskah untuk Bacaan Anak-anak

Menulis untuk anak-anak berarti memikirikan masa lalu Anda, sembari tetap berinteraksi dengan anak-anak zaman sekarang. (Michael Rosen)

1. A. Memilih tema:
Kliwon, Kucing peliharaanku
1. Warnanya cokelat
2. Suaranya parau
3. Mata hitam berkilat
4. Suka cegukan

1. B. Membuat tulisan kasar:
Aku punya kucing peliharaan bernama kliwon. Kulit kliwon cokelat. kliwon punya parau dan mata berwarna hitam mengkilat. Kliwon suka cegukan.
1. C. Membaca ulang dan melakukan penajaman :
Aku punya kucing peliharaan bernama kliwon. Kulit kliwon cokelat bata. Kliwon punya suara seperti bayi yang sedang lapara. Mata Kliwon hitam mengkilat seperti kelereng. Kliwon suka cegukan setiap makan ikan asin.
1. D. Menyunting, memperbaiki kesalahan:

Aku punya kucing peliharaan bernama Kliwon. Kulit Kliwon cokelat bata. Kliwon punya suara seperti bayi yang sedang lapar. Mata Kliwon hitam mengilat seperti kelereng. Kliwon suka cegukan setiap makan ikan asin.
1. E. Memublikasikan, berbagi dengan pembaca:
Aku punya kucing peliharaan bernama Kliwon. Kulitnya cokelat bata. Kliwon punya suara seperti bayi yang sedang lapar. Mata Kliwon hitam mengilat seperti kelereng. Kliwon suka cegukan setiap makan ikan asin.

https://www.facebook.com/notes/tasaro-gk/membuat-naskah-untuk-bacaan-anak-anak/10151724989959359

 

3 thoughts on “Kelas Menulis Fiksi Anak Bersama Tasaro GK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s