Keajaiban 12 Menit : Dreaming is Believing!

image

Namanya Tara. Gadis berkerudung itu mempunyai kemampuan teknik bermain drum yang lebih baik dari sebagian anak seusianya. Sampai kemudian satu kecelakaan  membuat dia kehilangan pendengarannya. Hanya tersisa berapa persen dari suara yang seharusnya dia dengar, bisa ditangkap telinganya. Tara tertatih menemukan kepercayaan dirinya kembali.

Pertemuannya dengan Rene membuat dia masuk ke tim inti marching band. Namun, bisakah Tara dengan pendengarannya yang mengandalkan alat bantu dengar bergabung dengan team marching band yang tentunya membutuhkan kesesuaian dan kerjasama yang apik antara satu dan yang lain? Sementara Tara malah kerap tak bisa mendengar instruksi saat latihan. Membuat dia sering kena omelan dan teguran, menjadi kambing hitam dari tidak kompaknya latihan mereka.

Sementara Lahang, pemuda dayak itu harus menempuh perjalanan jauh demi latihan tiga sampai empat kali setiap minggunya. Belum lagi Lahang juga selalu didera kecemasan saat harus meninggalkan rumah karena bapaknya sedang sakit keras. Sakit keras yang terus memberikan bayang ketakutan dan kekhawatiran buat Lahang. Tapi Lahang punya mimpi. Mimpi yang dikobarkan oleh ibunya untuk melihat Monas, tugu perlambang ibukota negara itu. Dengan melihat secara langsung Monas, akan membuka jalan baginya untuk melihat tugu-tugu di kota besar lainnya. Dan marching band adalah jalan satu-satunya untuk mewujudkannya.

Elaine. Gadis Jakarta yang mengikuti papanya pindah kerja ke Bontang ini punya banyak prestasi. Elaine yang merasakan passion-nya dalam dunia musik cukup besar tak pernah cukup mendapat restu dari sang ayah untuk ikut marching band. Ayahnya lebih mendukung Elaine berprestasi dalam bidang akademik.

Elaine kemudian mendapatkan tiket untuk ikut Olimpiade Fisika. Membanggakan tentu, tapi menggiring Elaine pada situasi yang sungguh dilematis. Karena waktu Olimpiade Fisika berbentrokan jadwalnya dengan GPMB (Grand Prix Marching Band), perhelatan tahunan akbar tempat marching band ternama dari seluruh Indonesia berlaga untuk memperebutkan gelar juara.

Tiga tokoh itulah yang menjadi central cerita dalam novel 12 menit. Mereka bertiga tergabung dalam tim Marching Band Pupuk Kaltim Bontang. Mereka berlatih ribuan jam hanya demi 12 menit penentuan. 12 menit penampilan mereka dalam GPMB dibawah asuhan Rene sang pelatih.

Rene yang sudah begitu piawai dalam dunia marching band dan kerap membawa tim marching band yang dilatihnya menggondol piala juara. Tapi, menjadi pelatih tim marching band di sebuah kota kecil di Kalimantan mempunyai tantangan sendiri. Murid-muridnya di Bontang berbeda dengan murid-murid yang dia temui di Jakarta. Selalu ada kesan dalam keseharian mereka : merasa “kecil” karena berasal dari kota kecil. (Hal 13)

Novel 12 menit bukan novel tentang semangat, perjuangan dan kerja keras yang pertama saya baca. Tapi, membaca novel 12 menit mengantarkan rasa yang berbeda karena saya serasa mempunyai kedekatan emosional dengan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Mungkin karena mengambil setting Bontang yang berada di provinsi yang sama dengan tempat saya bertinggal sekarang, Kalimantan Timur.

Apalagi sebelum membacanya saya juga menonton teaser dari film 12 menit. Yup, novel 12 menit ini akan segera difilmkan. Awalnya akan tayang 29 agustus ini, walau kemudian ditunda penayangannya hingga desember nanti.

Setelah menonton teaser film itu, setidaknya saya punya gambaran akan tokoh-tokoh di dalamnya, tidak rusuh sendiri bikin sketsa tokohnya dalam imajinasi saya. Dan tentu saja setelah menonton teasar dan membaca novelnya saya sudah tak sabar ingin menyaksikan filmnya secara utuh.

Ada 348 halaman dalam novel 12 menit ini dan dibagi menjadi 50 bab. Wow, bab dari novel ini banyak sekali. Tapi bab demi bab yang disajikan tidak memakan halaman yang banyak. Sekitar 4-5 halaman perbabnya. Paling panjang mungkin hanya 10 halaman. Dan karena novel ini berasal dari skenario film, jadi apa yang tersaji di dalamnya seperti urutan scene demi scene dalam sebuah film.

image

Judul-judul bab di 12 menit

Membaca novel ini ada letupan dan hentakan semangat di dalamnya. Merasa tokoh yang ada di sana adalah saya sendiri karena permasalahan yang ada pada mereka justru dekat sekali dengan apa yang sering kita alami. Ketika ingin berjuang, terbentur dengan banyak hal kemudian ingin menyerah saja. Novel 12 menit juga mengisahkan keputusasaan dari para tokohnya dalam menghadapi masalah, beragam kondisi dilematis yang sebagai pembaca pun saya juga ikutan dirundung dilema ketika membacanya.

“Kadang-kadang, hidup itu, ya, kayak gitu, Dek. Kayak dorong mobil (mogok) di tanjakan. Susah. Berat. Capek. Tapi, kalau terus didorong, dan terus didoain, insyaAllah akan sampai.” (Hal 160)

Proses memoles berlian memang tak pernah mudah. (Hal 161)

Bagaimana pun tak ada yang instant di dunia ini. Tak ada. Kecuali mungkin mi. Oh, dan kopi. (Hal 66)

Dalam novel ini saya sedikit terganggu dengan istilah-istilah asing dalam dunia marching band yang keterangannya ada di glosarium di bagian belakang buku. Hal itu jadi mengganggu keasyikan saya membaca. Kenapa tidak dibikin catatan kaki dan keterangannya ada di akhir halaman saja? Dengan begitu, saya tidak perlu membolak balik halaman ketika ada kata asing tersebut.

Namun, ada banyak nilai positif dan hal-hal yang membuat tersentuh dalam novel 12 Menit. Cerita perjuangan anak-anak Marching Band Pupuk Kaltim Bontang dalam berlatih ribuan jam hanya demi 12 menit penentuan. 12 menit penampilan mereka dalam kejuaraan nasional marching band. Ketika ribuan jam kerja keras mereka akan mengkristal menjadi keajaiban 12 menit. Dreaming is believing. Dan bersama-sama mereka akan menyerukan : Vincero! Saya Akan Menang!

Perjuangan terberat dalam hidup manusia adalah perjuangan mengalahkan diri sendiri. Buku ini adalah bagi semua yang ingin memenangkannya.

Judul : 12 Menit
Penulis : Oka Aurora
Penggagas cerita : Regina Septati
Penyunting : @shinta_read dan @me_dorry
Penerbit : Noura Books (PT. Mizan Publika)
Tebal : xiv + 348 halaman
Tahun Terbit : 2013 (Cetakan Pertama)

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Resensi Novel 12 Menit : Dreaming is Believing! oleh Noura Books

17 thoughts on “Keajaiban 12 Menit : Dreaming is Believing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s