La Tahzan (The Movie)

Gambar

Jika melihat judulnya sebagian orang mungkin mengira ini diambil dari judul buku best seller karya Aidh Al-Qarni. Terlebih di awal filmnya dikatakan kalau film ini berasal dari sebuah karya best seller La Tahzan. Seorang teman juga sempat berkata pada saya ingin meminjam novel La Tahzan, dan saya pun kemudian mengabarkan kepadanya kalau La Tahzan yang saya punya bukan buku berjenis novel, tapi kumpulan kalimat motivasi dan hikmah. Sedangkan film La Tahzan (yang waktu itu belum dirilis) adalah bagian karya dari La Tahzan for Student, kumpulan kisah2 inspiratif para pelajar di Jepang. Saya mengetahui hal tersebut karena sempat membaca postingan blog sang pemilik ide cerita.

La Tahzan bercerita tentang persahabatan yang sangat dekat antara Viona (Atiqah Hasiholan) dan Hasan (Ario Bayu). Viona, gadis sunda ini menyukai beragam hal tentang hello kitty dan juga Jepang. Viona dan Hasan kemudian punya mimpi ingin bersama-sama pergi ke Jepang. Persahabatan yang sangat dekat antara wanita dan pria sangat jarang tanpa melibatkan perasaan, begitu juga Hasan dan Viona.

Sampai pada suatu ketika, Hasan menjauh dari kehidupan Viona, meminta kepada Viona untuk menjaga jarak dengannya. Hingga kemudian Viona dikejutkan akan kabar kalau Hasan tengah menuju Bandara untuk berangkat ke Jepang. Hasan tak bisa menjelaskan kenapa semuanya terjadi serba mendadak. Menyisakan beragam pertanyaan dalam benak Viona.

Selepas kepergian Hasan, Viona kemudian beroleh kesempatan untuk pergi ke Jepang juga. Belajar sambil Bekerja. Dan pada akhirnya Viona pun sampai di negeri sakura.

Berada di negeri yang sama dengan Hasan, tak serta merta membuat Viona bertemu dengan Hasan. Walaupun Viona mengantongi alamat Hasan yang dia peroleh dari ibunya Hasan. Di Jepang, Viona berkenalan dan dekat dengan seorang pemuda bernama Yamada (Joe Taslim) yang ibunya dari Indonesia dan ayahnya Jepang. Bersama Yamada, Viona kemudian mencari Hasan dengan alamat yang dipegangnya. Berhasil kah Viona bertemu Hasan? Dan bagaimana hubungan Viona dengan Yamada yang banyak membantu Viona menemukan Hasan?

***

Film yang judul awalnya adalah Orenji ini memang sebagian besar settingnya di Jepang. Dan penonton seperti saya memang terpuaskan dengan bagian-bagian negeri sakura yang ditampilkan dalam film ini. Seperti sakura yang beberapa kali muncul dalam scene cerita. Seolah-olah sebagai penegasan ‘ini loh Jepang. Buktinya ada sakura’. Hal itu malah bikin saya terheran sendiri. Bukannya sakura itu hanya tumbuh beberapa hari dalam setahun? Lantas dalam setting waktu dalam jeda beberapa minggu, tetap saja ada sakura yang mekar. Why?

Selepas menonton film ini, seperti biasa saya dan suami akan berdiskusi tentang apa yang sudah kami tonton. Suami saya bilang, film ini sepertinya penuh dengan konflik batin tapi berhubung penonton hanya disuguhkan dalam bentuk visual dan dalam durasi yang pendek, maka konflik batinnya jadi kurang terasa. Apalagi buat orang yang seperti saya yang tidak terlalu cermat sebagai pengamat dalam bentuk visual.

Ada juga bagian-bagian yang terasa melompat. Semisal Viona yang awalnya marah-marah sama Hasan, kok kemudian bisa nelpon Hasan dan curhat. Juga saat Hasan menghindari Viona, tapi kemudian muncul di depan apartemen Viona. Atau mungkin ada bagian film yang terlewat saya tonton? Entahlah… Tapi kemudian suami saya bilang “Sepertinya membaca novelnya lebih menarik, jadi lebih jelas.Ntar beli aja novelnya.” Mata saya pun berbinar-binar mendengarnya. La Tahzan masoook ke list buku yang insyaAllah akan dibeli bulan depan. Berhubung suami yang minta buku ini, jadi buku ini di luar budget bulanan belanja buku saya dong. Wakakaka… Makanya senang betul :p

La Tahzan bukan film Indonesia terbaik yang pernah saya tonton, tapi juga tidak bisa dikategorikan jelek. Setting Jepangnya sangat memuaskan mata, akting Joe Taslim sebagai orang Jepang juga oke punya, begitu pun pelajaran tentang menguasai sebuah bahasa.  Saya malah sempat ingin menangis saat adegan menjelang keberangkatan Viona ke Jepang. Ibunya Viona membekali Viona dengan beras. Huaaa… Itu saya banget kan, yang masih suka dibekali mama beras unus kalau mau ke Kaltim. Hahaha…

Filosofi Orenji yang diceritakan dalam film ini juga membuat saya mengangguk-angguk setuju dengan filosofi itu. Dan pada ending, saya dan suami sontak berpandangan seraya berkata : “Ganbatte Kudasai.”

25 thoughts on “La Tahzan (The Movie)

    • Kalau prediksi saya sih, sebentar lagi filmnya turun layar di bioskop. Soalna di Balikpapan tayangnya cuma satu kali sehari. Entah ya kalau di kota lain. Tapi ntar juga bakalan tayang di TV. Biasanya sih gitu😀

  1. rusydi hikmawan says:

    siapa pemilik ide ceritanya,mba? taqobalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum kullu ‘amrin wa antum bi khoir

  2. ee… ternyata ngefans ama jepank yah…. pasti suka pilm2 kartunnya juga neh.

    klo aku suka pilm barat drama. jadi senengnya klo ada cerita yg scene america yg ndeso gtu… karena pengen tahu n alays curious ama potret kehidupan masyarakatnya.

  3. diah indri says:

    yanti
    kemarin malam sy bikin mff
    eh ngarang pake nama hasan n fiona
    krn inget guru ngaji saya sama inget film shrek
    eh jadi inget postingan yanti ternyata hasan dan viona juga disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s