Beruntung

Kerap kali kita mengatakan orang lain beruntung. Melihat keberhasilan yang dia raih, kesuksesan yang dia dapat. Begitu pun Alif, tokoh dalam trilogi Negeri 5 Menara. Di buku ketiganya yang berjudul Rantau 1 Muara, Alif dikatakan teman-temannya beruntung.

Beruntung karena Alif berhasil ke luar negeri, ke Kanada, gratis!

Saya agak lupa Alif ke sana alasannya apa. Rentang waktu yang cukup lama antara buku kedua dan ketiga, juga bukunya yang ada di rumah orangtua di kampung halaman adalah alasan kenapa saya lupa Alif di buku kedua itu menjejak Kanada.

Kembali ke soal Beruntung itu. Apa yang dituturkan Alif lewat kata-katanya di buku itu rasanya jleb banget.

Tentulah aku beruntung. Seandainya dia tahu dan merasakan bagaimana aku mengorbankan kenikmatan-kenikmatan sesaat untuk bisa sampai “beruntung”. Berapa ratus malam sepi yang aku habiskan sampai dini hari untuk mengasah kemampuanku, belaja, membaca, menulis, dan berlatih tanpa henti. Melebihkan usaha di atas rata-rata orang lain lain agar aku bisa meningkatkan harkat diriku.

 

Jleb!

Ada perjuangan yang tidak sedikit dari orang-orang yang saya nilai beruntung. Dan terkadang saya hanya melihat saat mereka mendapati kesuksesan. Saya terkadang melupakan perjuangan-perjuangan yang tidak sedikit dari mereka untuk mencapai semua itu. Ketika saya terlelap atau asyik nonton dvd korea, orang-orang itu mungkin sedang berkecimpung dengan sederet aktivitas yang tidak biasa hingga kemudian dia menghasilkan sesuatu yang saya anggap WOW dan hey, beruntungnya dia, cetus saya kemudian.

Dalam Al-Qur’an juga ada orang-orang yang disebut beruntung. Pada surah  Al-Mu’minun ayat 102-103 disebutkan :“Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam.”

Untuk mendapatkan timbangan kebaikan yang berat, tentunya harus diiringi dengan perjuangan memberatkan timbangan itu sendiri.

Sama hal ketika saya terkesima dengan acara di salah satu stasiun TV swasta yang menampilkan anak-anak usia dini menghafal surah-surah Al-Qur’an dengan lancar. Saya pun bergumam sendiri. Beruntung sekali orangtua mereka punya anak-anak yang membanggakan seperti itu. Ketika hal itu saya sampaikan pada suami, suami pun memberi jawaban yang sebelas dua belas dengan jawaban Alif. Ada ketekunan dan dan perjuangan dari orang tua untuk menjadikan anak-anak mereka seperti itu. Kata suami saya.

Yah, ada perjuangan dalam sebuah keberuntungan.

Malam ke 19 Ramadhan.
Sebuah catatan untuk diri sendiri

6 thoughts on “Beruntung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s