[Prompt 16] Jendela Rumah Kita

“Aku merindukan tempat itu.” Entah berapa kali aku mengatakan itu padanya. Setiap kukatakan itu, akan kutatap matanya begitu lekat.

“Tempat aku kecil bertumbuh. Aku paling suka berdiri menempel di jendela. Lewat jendela itu kulihat bangunan dengan tembok berwarna putih berjejar dan ada pohon kurma dengan buahnya yang ranum pada saat tertentu.” Dia hanya tersenyum setiap kali cerita itu keluar dari mulutku. Senyum yang membuat jantungku bergemuruh, ingin merengkuh tubuhnya tapi aku tau aku belum bisa.

“Aku merindu menikmati buah-buah yang tak bisa kunikmati di sini. Rhutob, kurma yang dimakan Maryam, Ibunda Nabi Isa ketika mengandung Nabi Isa. Buah zaitun dan juga buah tiin yang disebut dalam Al-Qur’an. Apa kau pernah merasakannya?” Pertanyaan itu dijawabnya dengan gelengan kepala dengan bibir yang tetap tersungging sebuah senyuman.

Aku menatap manik matanya, menelusuri wajah tampannya. Dagu belah, lesung pipi yang hanya sebelah, wajah putih bersihnya dan rambutnya yang bergelombang. Selain ayah, dia laki-laki kedua yang kupandangi begitu lekat. Pada yang lain aku selalu berusaha menundukkan pandang. Padanya aku tak bisa. ada sebuah rasa yang berdentam dalam hatiku yang begitu ingin kuungkapkan. Tapi lidahku kelu.

“Kau ingin menikmatinya lagi? Semua hal yang terjadi di masa lalu yang kau ceritakan itu?” Keningku berkerut. Untuk pertama kalinya dia menanyakan itu. Selama ini dia selalu menanggapi ceritaku dengan diam dan senyum. Tapi, rupanya malam ini berbeda. Inikah saatnya? Menebak itu membuat detak jantungku berdegup lebih cepat.

“Alfina, menikahlah denganku. Akan kubawa kau ke tempat yang kau ceritakan tadi. Aku akan menjadi penjagamu.” Aku tercekat. Detak jantungku yang tadi berpacu kini serasa berhenti berdetak. Nafasku pun seperti tak sanggup keluar, tertahan. Sepersekian detik berikutnya aku menggeleng dengan cepat dan lisanku berkata “Tidak.” Hatiku terasa teriris menatap luka yang kemudian muncul di matanya.

‘Tuhan, maafkan aku’ aku berbisik lirih dalam hatiku. Sepertinya aku telah mengambil jalan yang salah untuk mendekatinya. Setelah susah payah aku mencarinya.

“Kenapa Alfina? Kenapa kau tidak mau menikah denganku?” Dia menuntut penjelasan dariku dengan mata dan raut wajahnya.

“Aku…” Lidahku kembali kelu. Tak selancar setiap aku bercerita tentang tempat yang ingin kukunjungi. Tentang sebuah jendela kaca besar yang di balik itu ada bangunan putih berjejer, pohon kurma dan jalanan berdebu kala musim panas.

Lisanku tertahan setiap ingin mengatakan padanya, 23 tahun yang lalu di balik jendela kaca itu aku menangis menyaksikan seorang anak kecil dengan rambut bergelombang, dagu belah, dan lesung pipi yang cuma sebelah, digendong oleh seseorang yang melahirkanku juga melahirkannya menyusuri jalan berdebu sampai kemudian hilang di tikungan jalan.

Gambar
Pernikahan antara aku dan dia, jelas terlarang.

***

Tantangan Prompt ke 16. Judulnya nggak banget ya. Judul sinetron jadul😀

20 thoughts on “[Prompt 16] Jendela Rumah Kita

  1. Lisanku tertahan setiap ingin mengatakan padanya, 23 tahun yang lalu di balik jendela kaca itu aku menangis menyaksikan seorang anak kecil dengan rambut bergelombang, dagu belah, dan lesung pipi yang cuma sebelah, digendong oleh seseorang yang melahirkanku juga melahirkannya menyusuri jalan berdebu sampai kemudian hilang di tikungan jalan. — ibunya meninggalkannya ya?

  2. iyya, saya juga suka kata2 terakhirnya🙂. tapi menurut saya, paragraf sebelum kata2 trakhir itu agak menjanggal. misal, dari mana si aku tau kalo ibunya juga melahirkan si laki2? mungkin akan lebih halus kalau misalnya, berbagi air susu *IMHO🙂

    • berarti cerita saya masih belum jelas ya, mbak🙂
      si aku tau karena dia masih ingat sama adiknya itu. Ayah sama ibunya cerai dan adiknya dibawa ibunya pergi. Makanya ada penjelasan ini di kalimat sebelumnya : Sepertinya aku telah mengambil jalan yang salah untuk mendekatinya. Setelah susah payah aku mencarinya.

      Tapi thanks untuk masukannya ya mbak🙂

  3. pertama, kalimat terakhir itu tak perlu.
    kedua, harus diterangkan hubungan mereka berdua saat ini, sepengetahuan Rhutob, sebagai apa? kenapa harus disembunyikan, fakta bahwa mereka bersaudara?

    • Thanks masukannya mbak La. Rhotob itu bukan nama, mbak. Itu nama kurma yg dimakan Ibunda Nabi Isa waktu hamil. Hehehe.. Memang agak kurang jelas ya di situ. Thanks ya mbak La🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s