Senandung Kisah Lalu

Namanya Bhirawa. Seorang pemuda yang kukenal pada masa putih abu. Bhirawa berasal dari Surabaya, sebuah kota besar di pulau seberang. “Aku sudah terbiasa pindah-pindah tempat, mengikuti ayahku, tapi satu ketika aku ingin menetap di tanah kelahiranku sendiri, Surabaya,” dia berkata begitu kepadaku, pada satu ketika.

Rawa-rawa, aku memelesetkan namanya. Walau sebenarnya aku lebih suka memanggilnya, Bhira. Tapi Bhira hanya kusebut dalam hati, di depannya aku tetap menggodanya dengan memanggilnya Rawa-rawa. Dia tak marah, hanya tersenyum lebar. Dia bilang namanya yang unik akan membuatku tak bisa melupakannya. Ucapannya benar. Saat dia kembali mengikuti orangtuanya pindah tugas, aku kehilangannya.

Duniaku tiba-tiba berubah muram selepas kepergiannya. Tak ada lagi teman bersama naik angkot menuju sekolah. Tiada lagi seseorang yang menanyakan apa aku sudah mengerjakan PR fisika yang selalu terasa menyebalkan bagiku tapi Bhira akan dengan sabar mengajariku, dan semua yang dijelaskannya kemudian terasa begitu mudah buatku padahal awalnya begitu sulitnya. Ada yang melompong dalam hatiku, merenggut paksa keceriaan dalam hidupku saat dia tak ada lagi. Hingga waktu perlahan membuatku berdamai untuk bisa kembali tersenyum dan melanjutkan kehidupanku.

“Apa kabar, Daniya?” Itu pembuka dari sebuah pesan di kotak masuk surel yang kusebut surat cinta dari Kapten Bhirawa. Ya, Bhira sekarang sudah menjadi polisi dengan pangkat kapten. Maraknya media sosial membuat aku kembali terhubung dengannya. “Di usia menjelang 30 aku belum juga menikah, Daniya. Ingatanku selalu tertuju pada seorang gadis berkuncir kuda, temanku naik angkot ke dan dari sekolah, yang selalu bergumam fisika itu begitu sulitnya. Tapi begitu dijelaskan sedikit konsepnya, dia lebih paham dari yang menerangkan padanya.” Ada yang menghangat di hati dan wajahku saat membacanya. “Kini, aku kembali bisa bertemu dan bertukar kabar dengan gadis itu. Sebuah jilbab telah menutupi rambut hitamnya hingga tak lagi sembarang orang bisa melihat rambut kuncir kudanya.” Tentu saja aku tahu siapa yang dia maksud di surat itu. “Daniya, menurutmu, apa gadis itu mau menikah denganku?” Deg! Aku merasa waktu berhenti saat sampai di ujung surat cinta itu. Napasku terasa sesak. Itu impianku dulu, dilamar oleh seseorang bernama Bhirawa. Ya, dulu. Karena surat dari Bhirawa kuterima satu minggu menjelang pernikahan yang sama sekali tak ingin kubatalkan.

***

Cerita  ini diikutsertakan pada Flash Fiction Writing Contest:Senandung Cinta

8 thoughts on “Senandung Kisah Lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s