My Avilla – Ifa Avianty

    Tidak tercatat dalam benak saya apa judul pertama yang membuat saya jatuh cinta pada setiap karya seorang penulis bernama Ifa Avianty. Mungkin karena kebiasaan mereview buku dan cerita baru beberapa tahun belakangan saya senangi. Yang pasti dari dulu nama Ifa Avianty membekas dalam benak saya sebagai seorang penulis yang karyanya menarik buat saya. Yang paling saya ingat sih tulisan beliau di antologi milik mbak Asma Nadia yang berjudul Kisah Seru Pengantin Baru.

    Tahun 2009 ketika mbak Ifa membuka sekolah menulis online, saya pun ikut bergabung di sana dan dari situ saya akhirnya punya dan mulai melengkapi buku-buku karya mbak Ifa Avianty ini. Dan sensasinya ketika membaca tiap karya beliau sama. Saya selalu merasakan seperti menjadi tokoh di dalamnya. Ikut merasakan jatuh cinta, sedih, kecewa, sunyi dan apa pun itu yang dirasakan tokohnya.


    Bahkan untuk karya yang sudah lewat beberapa tahun, rasa itu masih tetap saya rasakan ketika saya membukanya lagi. Sebut saja Strawberry Shortcake, membaca halaman-halaman pertamanya tentang Sophie yang ‘berbincang’ dengan Lila, seakan saya lah yang berbincang itu. Saya lah yang bertemu dengan seseorang di masa lalu yang tak ingin disebut namanya. Seperti saya lah yang mengingatkan kepada Lila tentang permisalan hidup yang tertulis di sebuah kartu ucapan yang pernah ada bertahun-tahun silam :

    Hidup itu seperti sepotong kue strawberry. Kadang manis dengan segala keceriaannya. Kadang bisa asam saat kita menertawai hidup itu sendiri. Bisa juga sedikit getir saat Tuhan mengirimkan ujian2Nya. Kadang kalau kebanyakan garam ya asin juga.

    Baru saja saya menyelesaikan membaca lagi novel My Avilla-nya mbak Ifa Avianty, dan lewat novel itu saya juga terlarut akan emosi yang hadir pada setiap tokohnya.

Gambar
    My Avilla bercerita tentang Fajar, seorang pemuda yang mencintai Tuhan tapi bimbang dengan jalan yang akan dia ambil. Fajar lahir dan besar di tengah keluarga dengan dua keyakinan, Papanya yang muslim dan mamanya yang katolik. Di tengah kebimbangannya itulah Fajar bertemu dengan Margriet, kakak dari teman sekolahnya Trudy. Pada Margriet Fajar mendiskusikan apa yang bikin hatinya galau.

    Saya sudah coba ikut Rohis di sekolah. Tapi, masih banyak pertanyaan yang tak terjawab, yang kadang disudahi oleh kakak mentor dengan ‘sabda’ “Sami’na wa atha’na”. Terus terang saya tidak puas, Mbak. Bagi saya, agama harusnya bersifat logis. That’s why saya belum mantap beragama apapun, sebenarnya. Karena agama kadang menyisakan begitu banyak pertanyaan dalam diri saya.

    Saya tahu bahwa jika ada pertanyaan yang tak terjawab bukan berarti agamanya yang tak logis. Tapi, itu mungkin saja ilmu kita yang belum nyampai ke sana. Atau logika Tuhan dan ketuhanan selalu jauh lebih tinggi dari jangkauan kemanusiaan kita. Dalam persepsi saya, Tuhan tak bisa disamakan dengan kita dalam hal apa pun, juga dalam logika. Tapi bukan jawaban dogmatis yang saya mau.

    Itulah sebagian kecil dari isi surat Fajar kepada Margriet. Cerita tentang pencarian keyakinan oleh Fajar ini membuat novel ini memang terasa lebih ‘berat’ dari novel-novel mbak Ifa sebelumnya. Tapi teteup kental dengan cerita romansanya kok dan tetap gurih renyah buat dinikmati.

    Fajar yang galau ini jatuh cinta pada Margriet, sampai nembak pula, padahal dia masih kelas 1 SMU sementara Margriet sudah duduk di bangku kuliah. Parahnya lagi, sebenarnya Fajar juga dijatuhcintai oleh Trudy, adik Margriet dan Fajar menolak Trudy.  Ah, Fajar membuat patah hati kakak dan adik sekaligus. Pada Margriet setelah membabak belurkan hati Margriet, Fajar malah bilang ke Margriet ‘Bisakah kita saling melupakan?’. Ih, gregetan ga sih.

    Ah, intinya saya suka novel ini. Dengan gaya penceritaan yang bergantian per tokoh membuat saya merasakan apa yang dirasakan masing-masing tokoh tersebut. Belum lagi dengan sesuatu yang saya dapat selepas membacanya. Saya terkesan pada sosok Phil dalam keberislamannya. Dan pada satu kalimat yang ada di ending novel ini :

    Kini aku tahu bahwa kebahagiaan itu sesungguhnya sederhana. Dia ada di dalam hati yang bersyukur, dan ketulusan mencintai serta memaafkan.

16 thoughts on “My Avilla – Ifa Avianty

  1. samaaa!

    saya penggemar ba ifa sangat. beberapa hari ini lagi mengulang buku2 mb ifa yg ada di kamar ;d

    dan ya gitu, meski melow tp romantis tapi selalu bikin ketawa ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s