CoupL(ov)e _ Rhein Fathia

Gambar

Judul : Coupl(ov)e

Penulis : Rhein Fathia

Penyunting : Noni Rosliyani

Ilustrasi Sampul : Shutterstock

Penerbit : Bentang Pustaka

Tahun Terbit : 2013 (Cetakan Pertama)

“Kalau sampai umur kita tiga puluh tahun dan masih sama-sama single, aku ngelamar kamu aja.”

Satu kalimat yang diucap Raka kepada sahabatnya Halya saat mereka duduk di bangku SMA. Kalimat yang seperti ungkapan bercanda saja dan ditanggapi Halya juga dengan bercanda. Waktu berlalu begitu cepat, tak ada yang tahu bagaimana suratan takdir manusia termasuk Raka dan Halya. Ketika mereka sampai di usia 30 itu dan ternyata memang sama-sama single, Raka merealisasikan apa yang dikatakannya pada Halya bertahun-tahun silam. Raka melamarnya, Halya menerimanya dan mereka kemudian menikah.

Selesai? Tentu saja tidak.

Pernikahan memang bisa mengakhiri beberapa cerita tapi dengan pernikahan pula banyak cerita baru yang bermula. Bagi sebagian orang mungkin menilai mudah saja menjalani pernikahan dengan sahabat sendiri, sudah sama-sama kenal. Tapi tak demikian bagi Halya dan Raka, masing-masing memang telah tahu kebiasaan satu dan lainnya, tapi masing-masing juga telah tahu kisah kasih masa lalu yang dialami.

Halya yang pernah dikhianati juga pernah ditinggalkan menyisakan luka yang begitu dalam. Raka dengan kisah kasih tak sampainya pada seorang perempuan bernama Rina yang kasih dalam hati Raka pada perempuan itu belum punah sepenuhnya. Baik Raka maupun Halya hadir dalam episode-episode perjalanan kisah itu. Menyaksikan dan menemani saat satu sama lain terluka. Maka bagaimana ketika kemudian mereka menjalani pernikahan? Dan saat-saat masa lalu itu bukannya hilang tapi malah mengiringi perjalanan pernikahan mereka.

    ***

  Kau tahu, kenapa orang menikah selalu mendapat ucapan “Selamat Menempuh Hidup baru”?

 Karena mereka harus meninggalkan orang-orang yang pernah mereka cintai di masa lalu.

Dua kalimat itulah yang tertulis di blurb novel ini yang sukses membuat saya terpesona dengan kata-katanya dan membawa novel ini ke kasir. Dan lembar demi lembar yang kemudian saya baca dari novel ini juga pada akhirnya membuat saya terpesona hingga saya ingin membaca karya-karya lain dari penulisnya Rhein Fathia.

Novel setebal 387 halaman ini beralur maju mundur sehingga saya memang bisa menebak jalan ceritanya. Pada akhirnya Halya dan Raka menikah yang kemudian baru diceritakan tentang awal perkenalan mereka, bagaimana persahabatan mereka bermula dan kisah-kisah yang terjalin dari SMA, kuliah hingga masuk ke dunia kerja. Tertebaknya jalan cerita membuat saya berpikir, bagaimana jika alurnya bukan maju mundur? Maju saja? Tapi setelah saya pikirkan, alur maju mundur ini memang keputusan yang tepat.

Tertebaknya cerita itu tak mengurangi sedikit pun kenikmatan saya dalam menyantap novel ini. Saya menikmati setiap potong cerita yang tersaji, ikut teraduk emosi, gregetan, senang, bahagia, sedih bahkan satu dua kali terisak ketika membacanya.  Saya suka alur dan plot yang dibangun, dengan scene yang tak terlalu panjang tapi begitu membangun jalan ceritanya, juga menguatkan karakter masing-masing tokoh di dalamnya.

Sebagai seorang istri yang sedang menjalani satu tahun pernikahan, saya juga mendapat pelajaran-pelajaran tentang kehidupan berkeluarga dalam cerita di novel ini. Tentang kepercayaan dalam rumah tangga, pentingnya saling bicara juga tentang komitmen. Komitmen itu seharusnya dipertahankan, bukan dilepaskan.

Saya juga suka sekali bagian surat dari Raka kepada Halya ini :

 Love is faith and destiny. Sama seperti jodoh, rezeki, dan mati. Karena itulah, mengapa cinta bisa redup atau meletup-letup. Itu juga yang menjadi alasan mengapa kita tidak bisa meminta Tuhan untuk dijatuhcintakan kepada siapa. Tapi, sejak detik pertama aku menerimamu dari Papa untuk menjadi pendamping hidup, aku yakin Tuhan akan membuat kita saling jatuh cinta. Tuhan tidak akan sekejam itu, kan? Menjodohkan, tapi tidak sepakat dengan cinta.

Apa yang ditulis Raka ini sejalan dengan firman-Nya yang setiap membacanya selalu membuat saya haru.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar Ruum (30) : 21)

image

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis resensi by Rhein Fathia

20 thoughts on “CoupL(ov)e _ Rhein Fathia

    • Hahahaha…. Untung dah kawin ya mbak. Tapi emang benar sih mbak, zaman2 masih muda gitu sering deh ya ngobrol2 trus janji2 ky gitu. Ky sesuatu yang jauh dari gapaian nikah waktu itu. Hehehe…

  1. eh… aku sempat tuh bikin janji ama teman sekelasku..cuma janjinya, agak beda dikit. “kalo gue sampe putus ama cewek gue yang ini dan elo juga udah gak ama cowok lo yang itu, dan kita ketemu lagi sama2 single, kita jadian dan nikah aja ya.”
    aih.. untunglah dia awet ama ceweknya dan aku ketemu sama suamiku. hahaha.

    • Namanya bukan jodoh ya mbak. Teman ynt malah ada bilang gini, “Kalau sampai di usia ke sekian dia melihat sahabatnya belum nikah. Dia mau kok nyuruh suaminya nikahin sahabatnya itu.”
      Tapi pas diingatin lagi, katanya dia lupa pernah bilang gitu😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s