Normalkah Nyeri Haid Saya?

Pertanyaan itu beberapa kali mengganggu pikiran saya terlebih saat beberapa orang menghubungkan nyeri haid saya itu dengan kehamilan yang tak kunjung tiba setelah beberapa bulan usia pernikahan.

Saya memang kerap dilanda nyeri haid, nyaris setiap bulan saat tamu bulanan datang. Saat- saat itu saya akan terbaring di tempat tidur menahan nyeri. Saya berusaha menahannya tanpa minum obat pereda nyeri. Biasanya akan hilang setelah saya bergelut dengan rasa sakit kemudian tertidur. Sehabis tidur rasa sakit itu perlahan mereda.

Sebagai manusia di era digital saya juga beberapa kali mencari info di internet terkait hal tersebut. Beberapa info yang saya dapatkan menyebut hal itu normal-normal saja. Saya malah mendapati mereka yang nyeri haidnya diceritakan lebih parah daro yang saya alami. Sampai pingsan misalnya. Tapi tetap saja saya masih bertanya-tanya. Normalkah?

Saya juga pernah bertanya kepada teman dokter saya. Jawabannya agak mengkhawatirkan, katanya kalau sampai berkeringat dingin menahannya bisa jadi ada apa-apa. Di ujung percakapan kami, dia bilang baiknya saya memeriksakan diri ke dokter spesialis. Hal yang belum saya lakukan hingga dua bulan kemarin.

Minggu kemarin, akhirnya saya berkonsultasi dengan seorang dokter kandungan. Dokter Stella yang praktek di RSPB (RS Pertamina Balikpapan). Kenapa dengan dr Stella? Karena dr Stella yang menangani saya awal april kemarin. Saat saya mengalami peristiwa yang semoga menjadi penggugur dosa-dosa saya. Aamiin.

Salah satu yang saya tanyakan ya tentu saja tentang nyeri haid yang saya alami.
“Nyerinya hari pertama aja sih, dok. Setelah itu ga lagi,” jelas saya.
“Oh, nggak papa. Normal aja,” jawab Bu Dokter.
FYI, konsultasi saya setelah saya menjalani beberapa pemeriksaan ya. USG dan sebagainya. Bukan.. Saya belum hamil kok🙂 doakan saja jika saatnya tiba saya bisa hamil dengan sehat dan selamat ya🙂

“Kalau mau nggak nyeri lagi, banyakin gerak. Pas datang tamu bulanan. Ga nyeri lagi,” lanjut dr Stella yang sukses bikin saya terpana. Hahahaha… Walau saya telah membaca beberapa kali tentang hal itu tetap saja rasanya beda ketika seorang ahli yang menjelaskan langsung di depan saya. Mungkin karena itu kita jadi membayar mahal kalau konsul ke spesialis. Hihihi…

“Begitu ya dok? Pantas aja pas saya jalan ke luar trus jalan kaki terus selama 3 hari pas haid setelahnya malah ga sakit.” Saya pun kecolongan curhat.

“Nah makanya nyeri itu karena kurang gerak aja tuh,” yakin dokter Stella lagi. Saya mangut-mangut seperti menemukan sesuatu yang baru. Saya pun lantas menceritakan hal itu pada sahabat saya yang kemudian bercerita jg tentang temannya yang waktu kuliah tak pernah nyeri haid karena banyak jalan kaki. Setelah kuliah malah sering didera nyeri haid.

Tring!

Seakan ada lampu bohlam yang menyala dalam pikiran saya. Itu juga lah jawabannya kenapa saya sempat heran 4 tahun kuliah dan ngekost di Banjarbaru saya hampir tak pernah nyeri haid. Sama dengan teman sahabat saya itu saya banyak jalan kaki karena saat itu nggak punya motor. Padahal jarak kost saya si Purnama dengan kampus Teknik lumayan jauh juga.

So.. Ayo bergerak yantiii ^_^

15 thoughts on “Normalkah Nyeri Haid Saya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s